Sukses

Cerita Akhir Pekan: Trik Jitu Atasi Rasa Bosan Selama Kerja dari Rumah

Liputan6.com, Jakarta - Saling jaga di tengah pandemi corona COVID-19, anjuran untuk berdoa, belajar, dan bekerja dari rumah tengah nyaring disuarakan, lagi dan lagi. Atas nama solidaritas sosial, berkegiatan tanpa meninggalkan rumah bukan berarti tanpa perjuangan, salah satunya melawan rasa bosan.

Menurut CEO Personal Growth sekaligus Psikolog Klinis Ratih Ibrahim, kepribadian orang, entah introver maupun ekstrover, tak memberi banyak pengaruh soal tingkat betah-tidaknya di rumah. "Biasanya ada faktor eksternal yang memengaruhi," ucapnya lewat sambungan telepon pada Liputan6.com, Kamis, 20 Maret 2020.

Psikolog Marcelina Melisa menjelaskan melalui pesan elekstronik, Kamis, 20 Maret 2020, faktor tersebut bisa berupa kondisi rumah berantakan, tidak ada aktivitas yang dapat dilakukan, serta jika hubungan dengan orang di rumah sedang kurang baik sehingga komunikasi tak dapat terjalin sebagaimana mestinya.

Sebagai catatan, psikolog yang praktik di Brawijaya Clinic bersama Tiga Generasi ini menambahkan, nyatanya orang introver pun tetap butuh berinteraksi dengan lingkungan sosial. Soal seberapa betah di rumah, Ratih mengatakan, rasa ini bukanlah satu yang instan melainkan dibangun jadi kebiasaan.

Berkenaan imbauan isolasi mandiri, termasuk dengan bekerja dari rumah, Marcelina mengatakan, secara natural, manusia cenderung ingin melakukan hal yang dilarang, sehingga saat dibatasi untuk melakukan sesuatu, tentu ada tekanan yang muncul.

"Tapi, tergantung juga bagaimana seseorang mempersepsikan situasi ini (bekerja dari rumah). Apakah ia dapat berpikir ada hal positif yang didapatkan, misal berkumpul bersama keluarga lebih lama, atau hanya berpikir hal yang negatif," papar perempuan yang juga bekerja sebagai konselor sekolah di North Jakarta Intercultural School tersebut.

2 dari 4 halaman

Mengatasi Bosan Selama #DiRumahAja

Tsania Garini Sudrajat yang bekerja sebagai karyawan swasta bercerita, sudah sekitar seminggu sejak ia melakukan isolasi mandiri dengan cara bekerja dari rumah. Dalam praktiknya, Arin, begitu sapaan akrapnya, sempat berekspektasi bisa bekerja dengan santai. "Nyatanya nggak," ungkapnya lewat pesan, Kamis, 19 Maret 2020.

"Benar sih bisa santai, tapi bisa santai itu malah jadi distraksi dan tantangan yang susah banget buat dilawan. Bukannya bikin senang malah jadi hambatan karena tetap ada target kerjaan yang harus diselesaikan," sambungnya.

Arin mengatakan, sebelum ini, ia malah sempat ingin dapet kerjaan yang bisa diselesaikan dari rumah. "Tapi, dari pengalaman ini jadi sadar. Kerja di kantor ternyata lebih gampang karena suasananya memang suasana kerja, mendukung buat produktif," ucapnya.

Sedangkan, Syifa Ismalia yang sudah bekerja dari rumah per lima hari pada Jumat, 20 Maret 2020 mengatakan, mengingat pekerjaan yang membuatnya hampir selalu berada di luar rumah sepanjang hari, mengubah rutinitas ini membuatnya sedikit tertekan.

"Karena tidak bisa pergi ke mana-mana. Apalagi, katanya diperpanjang sampai Mei, aduh jangan sampai deh. Sampai Maret saja bikin sedih," kata lewat pesan Jumat, 20 Maret 2020. Kendati demikian, saat diminta bekerja demi rumah, Syifa mengaku tak keberatan. "Demi kesehatan," imbuhnya.

Arin menuturkan, semisal bosan, ia akan istirahat dulu dengan cari hiburan atau mengerjakan yang lain lebih dulu.

"Sama saja kayak kerja di kantor. Bedanya kalau di kantor paling istirahat cuma bisa main HP atau jajan ke luar, di rumah pilihannya lebih banyak. Bisa nonton TV, YouTube, drama, dan tiduran," ucapnya.

Karenanya, di samping mengendalikan bosan, sebisa mungkin Arin membatasi diri. "Misal, habis kerja satu jam, ya istirahatya 10 menit saja. Sayangnya keseringan gagal. Kalau godaannya nggak bisa dilawan banget dan pada akhirnya kebablasan ya paling tahu diri, jam kerjanya diperpanjang," tuturnya.

"Kalau aku lebih pilih ngobrol sama keluarga, baca Wattpad, dengar musik, dan coba masak-masak dengan menu yang beda setiap hari," kata Syifa menjawab trik mengatasi rasa bosan.

Sementara, tips atasi bosan dari Marcelina berupa melakukan aktivitas, baik menyelesaikan pekerjaan, maupun kegiatan di dalam rumah yg sering kali luput dikerjakan.

"Misal, membersihkan dan membereskan ruangan dalam rumah, mencoba aktivitas yg ingin kita lakukan, namun belum ada waktu selama ini, atau melakukan hal lain yang dapat menambah pengetahuan," ucapnya.

Di samping, bisa juga menjadwalkan aktivitas rekreasi dengan lebih fleksibel di rumah. Kemudian, tetap melakukan kontak atau berkomunikasi dengan teman, keluarga, dan rekan kerja meski dilakukan secara virtual.

"Selain karena tuntutan pekerjaan atau untuk sekadar mengetahui kabar teman dan keluarga, hal ini juga dapat memenuhi kebutuhan dasar manusia, yaitu bersosialisasi," ucapnya.

Terakhir, membatasi menggunakan gawai. Pasal, penggunaan gawai secara terus-menerus malah akan membuat orang cepat lelah dan merasa bosan. "Cari alternatif kegiatan lain yang menggerakkan tubuh kita," jelasnya.

3 dari 4 halaman

Gerakan #DiRumahAja dan Kerja dari Rumah

Soal imbauan untuk diam di rumah, Arin mengatakan, gerakan ini harus terus disosialisasikan ke lebih banyak orang guna meningkatkan angka partisipan.

"Bersyukur banget karena kantorku sudah ngerti betapa pentingnya #DiRumahAja dan memperbolehkan karyawannya buat WFH, bahkan sampai sebulan kedepan. Sayangnya aku lihat belum semua perusahaan menerapkan kebijakan ini. Harapannya kalau kerjaan bisa dilakukan di rumah, semoga lebih banyak perusahaan memperbolehkan karyawannya buat WFH," ucapnya.

Di sisi lain, Arin menyambung, banyak juga yang tetap harus kerja di lapangan karena tuntutan profesi atau bergantung pada pendapatan harian. "Jadi, kita yang dapat privilege buat bisa WFH bersyukurlah dan jangan malah menyalahgunakan privilege ini buat nongkrong atau jalan-jalan," tambahnya.

Di samping, ia juga berusaha untuk tetap kerja dengan maksimal karena kantor sudah memberi kepercayaan.

"Salah satu hal yang bikin kantor ragu memperbolehkan karyawannya WFH ya karena masalah produktivitas. Jadi, buktikan ke kantor semisal kita tetap bisa kerja dengan baik di rumah. Dengan begitu, mereka tidak bakal ragu memperpanjang periode WFH sampai keadaan sudah benar-benar membaik nanti," ujarnya.

Soal produktivitas di rumah, Ratih mengatakan, harus terus dijaga dengan penuh komitmen. "Karena perusahaan kan bagaimana pun tentang bisnis. Produktivitas turun, akhirnya proses lay-off yang mengancam," tuturnya.

Sedangkan, Marcelina menyarankan publik memanfaatkan kesempatan ini untuk memperhatikan kebutuhan diri sendiri yang selama ini terabaikan, jalin komunikasi lebih intens dengan anggota keluarga di rumah, serta bangun perasaan bangga akan kemampuan beradaptasi dalam situasi darurat.

"Karena sebosan-bosannya di rumah, kalau bisa tetap tahan diri buat tidak keluar, apalagi nggak perlu-perlu amat. Demi menyukseskan upaya social distancing nasional," tandas Arin.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut: