Sukses

Anak Tak Bisa Matematika, Ibu di China Hampir Meninggal karena Serangan Jantung

Liputan6.com, Jakarta - Orangtua yang mengajari anaknya tugas sekolah adalah hal yang wajar, sama seperti yang dilakukan oleh seorang ibu asal China. Tak ada yang salah hingga akhirnya sang ibu hampir meninggal karena anaknya tak bisa mengerjakan soal matematika.

Dilansir dari AsiaOne, Senin, 11 November 2019, seorang ibu bermarga Wang yang berusia 36 tahun terkena serangan jantung karena terlalu frustasi putranya yang duduk di kelas 3 SD tak bisa-bisa mengerjakan soal matematika yang diberikan. Kejadian ini berlangsung pada 1 November lalu di Hubei, China.

"Saya telah menjelaskan padanya berulang kali, tapi dia masih tidak bisa mengerti. Saya sangat marah, sampai-sampai saya rasanya bisa meledak. Tiba-tiba, jantung saya berdebar-debar dan saya tidak bisa bernapas dengan benar," ungkap Wang.

Saat itu, dia langsung menelepon suaminya dan dibawa ke rumah sakit. Sesampainya di Rumah Sakit Xinhua, dia didiagnosis dokter bahwa dirinya terkena infark miokard atau biasa disebut serangan jantung.

"Dia datang ke sini di waktu yang tepat. Jika terlambat, dia bisa saja mengalami gagal jantung," terang Yang Xiaoxue, dokter yang menangani Wang.

Yang juga mengatakan, penyebab serangan jantung yang terjadi pada orang di usia muda karena pola hidup yang tidak sehat dan stres yang berkelanjutan. Wang mengaku ia selalu membantu putranya mengerjakan PR setiap malam dan sering jengkel padanya. Tapi, dia tak menyangka bahwa kejengkelannya tersebut dapat berakibat serius.

2 dari 3 halaman

Orangtua Harus Mengontrol Emosi

Stres yang dialami orangtua seperti Wang mungkin tak bisa terhindarkan. Seorang psikolog asal Hong Kong, Florence Huang menyebut guna mencegah hal tersebut, orangtua harus belajar untuk mengatur emosi.

Pengaturan emosi tidak hanya akan bermanfaat bagi orangtua, tapi juga untuk anak. Ia mengatakan kemarahan orangtua akan memberikan efek yang merugikan bagi buah hati.

"Ketika mengalami masa-masa kemarahan dan agresi di rumah yang berkelanjutan, kepercayaan diri anak bisa terpengaruh," terang Huang.

Dia menambahkan anak akan menyalahkan diri sendiri dan memiliki rasa malu. Selain itu, anak juga akan merasa terhina dan tidak memiliki pegangan sehingga merasa tak berdaya. (Novi Thedora)

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Pemerintah Cari Cara Agar Indonesia Tak Dibanjiri Produk Tekstil China
Artikel Selanjutnya
Harga Babi Naik 2 Kali Lipat, Ekonomi China Diprediksi Tumbuh 5,8 Persen di 2020