Sukses

Cerita Akhir Pekan: Kisah-Kisah Kelalaian Berujung Petaka di Gunung

Liputan6.com, Jakarta - Menelesak menembus deretan pohon hampir rapat, terpesona pemandangan tak terduga dari jalan-jalan setapak, memanjakan pandangan mata dari ribuan meter di atas permukaan laut. Mendaki gunung terdengar sangat menyenangkan.

Magnetnya sekian tahun ke belakang kian kuat menarik tak sedikit orang meringankan langkah untuk menjajal petualangan satu ini. Popularitas yang kian menanjak tentu tak datang hanya dari sisi positif. Deretan fakta buruk pun membuntuti di balik semua euforia penjelajahan.

Menurut data yang dihimpun Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BASARNAS), kecelakaan yang dialami para pendaki secara konstan meningkat dalam empat tahun terakhir. Sebabnya tak semata karena alam, tapi juga persiapan pendaki itu sendiri.

Pentingnya faktor ini bisa dilihat secara gamblang pada kasus yang menimpa tiga pendaki di Gunung Tampomas, Sumedang, Jawa Barat, pada Maret silam. Diduga karena hipotermia, mereka ditemukan di tenda hampir roboh dalam keadaan tak bernyawa.

Humas dan Protokoler Basarnas Kantor SAR Bandung Joshua Banjarnahor sempat mengatakan, tas ketiga korban yang ditemukan tak memuat perlengkapan berkemah pada umumnya. Mereka kedapatan tak bawa pakaian ganti, jaket, ataupun sleeping bag. 

Kejadian serupa juga pernah terjadi pada Februari 2018 di Gunung Raung, Jawa Timur. Kala itu, pendaki bernama Zaki Putra Pratama ditemukan meninggal dunia di bawah puncak tusuk gigi gunung dengan ketinggian tiga ribuan meter di atas permukaan laut tersebut.

Diketahui bahwa Zaki yang mendaki gunung bersama dua temannya, Mohammad Sholahudin Qoyyim dan Mohammad Bayu Alfarizi, tidak membawa peralatan lengkap. Di samping, ketiganya juga tak dipandu guide yang mengerti medan.

Kelalaian dalam mempersiapkan peralatan ini juga sempat disuarakan Kepala Taman Badan Nasional Lore Lindu (BTNLL) Jusman. Ia mengatakan, banyak pendaki yang mendaki Gunung Nokilalaki di Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah belum melindungi diri dengan peralatan mendaki sesuai standar.

"Itu sangat membahayakan keselamatan pendaki saat mendaki Gunung Nokilalaki. Beberapa kali kami temukan pendaki terkena hipotermia karena kedinginan sebab tidak mengenakan jaket yang sesuai standar mendaki," katanya seperti dilansir dari Antara, Jumat, 26 Juli 2019.

2 dari 3 halaman

Mempersiapkan Peralatan Keselamatan Ketika Naik Gunung

Salah seorang pengurus Komunitas Pendaki Gunung Indonesia (KPGI), Ila Putra Trunajaya, mengatakan bahwa mempersiapkan keselamatan diri ketika naik gunung sebenarnya berawal dari kondisi fisik. "Setelah itu baru ke berbagai peralatan," katanya lewat pesan singkat pada Liputan6.com, Jumat, 26 Juli 2019.

Pertama, sepatu. Alas kaki jenis ini dinilai sangat penting karena semisal pakai sepatu sandal atau sandal jepit, kaki bisa dengan sangat mudah cedera. Misalnya, karena menginjak benda tajam, batu, bahkan ranting.

"Kesalahan fatal selanjutnya itu nggak punya sleeping bag. Mungkin ada pendaki yang mikir pakai sarung saja cukup. Mendaki gunung kan berarti lagi ada di alam. Kita nggak pernah tahu kondisinya bakal kayak bagaimana," sambungnya.

Berbicara tentang alam, cuaca juga jadi salah satu faktor yang tak terprediksi. Karenanya membawa beberapa barang demi antisipasi jadi penting. Contohnya, topi untuk melindungi diri dari sengatan sinar matahari langsung. "Jas hujan, pakaian hangat yang proper untuk malam hari," ujar Putra.

Pakaian sesuai standar ini disebutkan Putra merupakan upaya antisipasi, lantaran suhu terendah di gunung sering kali berubah. "Pakaian yang disarankan itu yang gampang kering. Tapi, ada pendaki yang kadang ngegampangin. Saya malah pernah lihat ada yang pakai jins. Itu kan kalau hujan atau basah berat ya, otomatis nambah beban," tambahnya.

Satu peralatan yang tak kalah penting adalah tenda. Ia sangat tidak merekomendasikan pendaki tidur di bawah pohon karena bisa celaka saat cuaca tak bersahabat. Mendirikan tenda juga baiknya di camping ground yang tidak pohon.

"Perbekalan secara logistik juga penting banget. Kita harus tahu mau pergi berapa hari. Siapkan peralatan masak. P3K apabila menderita suatu penyakit. Harus tahu medan juga buat persiapin alat. Kayak di Gunung Raung kan ada wall climbing, itu peralatannya pasti lain," jelasnya.

"Persiapan itu memang nggak bisa disepelekan karena kita nggak tahu apa yang akan terjadi di alam," sambungnya. Bagi pendaki pemula, Putra menyarankan, alangkah baik bila sebelum pergi, sharing ke pendaki yang sudah pernah ke sana.

"Saya juga saranin untuk pakai tour guide lokal karena selain tahu medan, tahu celah, mereka juga pasti tahu jalur darurat dan lain sebagainya. Tapi, kalau nggak mau, pikir matang-matang, tanya sama yang sudah ke gunung itu," tandasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Cerita Akhir Pekan: Di Balik Penyelenggaraan Program Bimbingan Perkawinan
Artikel Selanjutnya
Cerita Akhir Pekan: Gonjang-ganjing Sertifikasi Nikah