Sukses

Kisah Penemuan Diari Pengawas VOC dari Belanda yang Mati Dihukum Pancung

Liputan6.com, Jakarta - Johan van Oldenbarnevelt bisa jadi adalah negarawan terbesar Belanda, salah satu pendiri bangsa yang memimpin pembebasan negeri tulip itu dari kekuasaan Spanyol. Meski namanya besar, akhir hidupnya terbilang tragis, dihukum pancung oleh anak rekan seperjuangannya.

Sebelum meninggal, ia diketahui meninggalkan sebuah diari. Catatan tentang kehidupannya beberapa bulan jelang kematiannya itu dibuat saat ia dipenjara di sebuah ruang sempit. Namun, diari tersebut hilang tanpa jejak selama ratusan tahun.

Dilansir dari laman The Guardian, prosa yang ditulis lebih dari delapan bulan antara 1618 dan 1619 itu terakhir kali terlihat pada 1825. Saat itu, seorang pastor, Adrian Stokler, mempelajari manuskrip itu dan membuat salinan yang ditulis tangan untuk dipublikasikan demi kepentingan lebih luas.

Sementara, buku bersampul kulit yang asli, yang ditulis oleh pelayan kepercayaan Van Oldenbarnevelt, Jan Francken, hilang misterius hingga 400 tahun perayaan eksekusi hukuman pancungnya. Diari itu berisi tentang penolakan sang majikan untuk menerima kenyataan bahwa dia akan segera dieksekusi setiap hari.

"Beberapa bulan lalu, seorang lelaki yang menjual buku-buku antik mengontak kami dan berkata bahwa ia memiliki diari asli Van Oldenbarnevelt," ujar Lydia Edelkoort, kurator di Museum Flehite yang berlokasi di kota kelahiran lelaki itu, Amersfoort.

Ia menyebut temuan diari setebal 40 halaman itu sebagai sebuah keajaiban kecil. Ia mengungkapkan diari itu ditemukan di sebuah perpustakaan keluarga oleh pemilik rumah saat sedang dibersihkan tahun lalu.

"Pemilik buku mengenalinya sebagai sesuatu yang menarik dan membawanya dalam kotak besar ke sebuah penampung buku antik," ujarnya.

2 dari 3 halaman

Kematian Tragis

Edelkoort mengatakan si pemilik toko buku tak menyebutkan pemilik diari Van Oldenbarnevelt. Ia juga mengaku diari itu hanya dipinjamkan sementara ke museum, sementara negosiasi masih berlangsung antara penjual buku dan Perpustakaan Kerajaan di Hague, Belanda.

"Selama itu berlangsung, diari ada di museum kami," kata dia.

Van Oldenbarnevelt, bersama Raja Belanda William I dikenal sebagai arsitek pendirian negara Belanda. Ia pula yang mengawasi pendirian sumber utama kekayaan negara, the Dutch India Company atau yang dikenal dengan nama VOC.

VOC memiliki kelekatan sejarah dengan Nusantara. Perusahaan dagang itu lah ya membuka 'jalan' bagi Belanda menguasai kekayaan Nusantara hingga 3,5 abad lamanya.

Masa kejayaan Van Oldenbarnevelt perlahan hilang setelah terlibat konflik dengan anak William, Maurice of Nasau. Ia mengkritik ekspedisi militer ke Flander yang berakhir bencana. Van Oldenbarnevelt kemudian berpisah jalan dengan pangeran muda itu terkait interpretasi Injil.

Van Oldenbarnevelt kemudian ditahan dengan alasan telah berkhianat. Pada usia 72 tahun, ia dikurung di sebuah ruangan sempit di Binnenhof, rumah parlemen dan perdana menteri Belanda.

Delapan bulan kemudian, tepat pada 13 Mei 1619, ia dipancung menggunakan pedang. Sebelum itu terjadi, sang pelayan diizinkan masuk dan keluar kamar majikannya, menyelundupkan pulpen dan kertas, dan mencatat semua kejadian untuk anak cucunya.

Dalam diari itu dituliskan, hingga jelang akhir hayatnya, negarawan Belanda itu tetap meyakini ia benar dan tak mau menyerah meyakini kebenarannya. Diari dan pedang yang digunakan untuk memenggal Van Oldenbarnevelt tidak akan diperlihatkan kepada publik hingga Mei 2020 mendatang.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Kurangi Sampah Plastik di Laut, Indonesia Gandeng Belanda
Artikel Selanjutnya
Dubes Belanda Rob Swartbol: Saya Akan Sangat Merindukan Indonesia...