Sukses

Memaknai Fenomena Menjamurnya Kedai Kopi di Mana-Mana

Liputan6.com, Jakarta - Tahukah Anda bila di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, berdiri setidaknya 50 kedai kopi? Situasi serupa juga terjadi di kawasan Gading Serpong, Tangerang. Apakah hal itu pertanda bagus atau justru sinyal masalah besar?

Konsultan bisnis kopi, Ron Prasanto menilai hal tersebut menunjukkan bahwa bisnis kedai kopi berada dalam situasi bubble. Orang berpikir membuka kedai kopi itu mudah, tetapi kenyataannya banyak kedai kopi tutup hanya dalam waktu 3-6 bulan beroperasi.

"Orang nggak paham bahwa detailing tentang bisnis kedai kopi itu banyak banget. Masih banyak yang menganggap bisnisnya cuma kopi dikasih air, selesai," kata Ron saat ditemui Liputan6.com di sela-sela pameran SIAL Interfood 2018, Kamis, 22 November 2018.

Detail bisnis kedai kopi yang harus diperhatikan, sambung Ron, meliputi suhu air saat menyeduh kopi, proporsi kopi dan air, unsur kimiawi dalam air, asal-usul kopi, hingga proses produksi kopi. Semua faktor itu sangat memengaruhi kualitas secangkir kopi yang akan disajikan ke pelanggan.

"Rasa kopi kan beda semua. Tapi masih ada yang menganggap, kopi ya kopi," ujarnya.

Sebagai konsultan, ia menyarankan agar pemilik memperhitungkan dulu detail-detail tersebut dan menetapkan target pasar yang sejak awal. Berdasarkan pengalamannya, banyak calon pebisnis kopi mau memiliki kedai kopi yang mewah tapi enggan berinvestasi pada peralatan dan sumber daya manusia yang berkualitas.

 

 

2 dari 2 halaman

Kunci Sukses

Selain investasi, hal penting lainnya adalah memiliki strategi marketing yang jelas. Tedjo Kurniawan, seorang konsultan kopi mengungkapkan, banyak klien yang menganggap setelah menyewa jasa konsultan, persoalan bisnis akan selesai.

"Padahal, kita ini seperti starting engine. Kita bantu cari barista, ngitung modal agar tidak ada kebocoran, tapi nggak sampai sales dan strategi marketing. Sayang, mayoritas belum mengerti," ujarnya.

Di luar hitungan modal, ada hal lain tak kalah penting dari kesuksesan bisnis kedai kopi. Itu adalah sikap mental.

"Persisten, kegigihan, masalah lokasi, harga jual, konsep, pasarnya," ujarnya.

Saat ini, sambung dia, pasar kedai kopi yang paling besar pertumbuhannya masih didominasi Jakarta, diikuti Tangerang, Bandung, dan Bali. Semarang dan Yogyakarta juga cukup baik, terutama perkembangan kedai kopi angkringan.

"Kalau Surabaya, justru kedai kopi malah mati di sana," kata Tedjo.

Meski pasar dinilai bubble, masih ada yang berminat terjun ke bisnis kedai kopi. Jeremy misalnya. Berawal dari fotografi, ia dalam waktu dekat akan membuka kedai kopi di bilangan PIK, Jakarta Utara.

"Saya lihat kopi jadi lifestyle, bukan tren lagi. Dan buat kalangan fotografi, kedai kopi itu sangat dekat," ujarnya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Cerita Akhir Pekan: 8 Makanan yang Warteg Banget
Artikel Selanjutnya
Cerita Akhir Pekan: Kenyamanan dan Kelezatan Ala Warteg Kekinian