Sukses

4 Novel Terbaik Indonesia, Sudah Baca?

Liputan6.com, Jakarta Membaca novel memang kegiatan yang sangat mengasyikan. Selain untuk mengisi waktu luang, kegiatan tersebut dapat memperluas imajinasi dan pengetahuan pembacanya.

Pembaca novel saat ini juga tidak selalu para kutu buku, lho. Banyak novel-novel ringan yang mampu menarik perhatian masyarakat luas dan seringkali diangkat ke layar lebar, sehingga meningkatkan persentase minat baca terhadap novel.

1. Tere Liye - Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Nama Tere Liye pasti sudah tidak asing di telinga para pecinta novel. Gaya penuturannya yang khas dan ceritanya yang hidup menjadi karakter kuat dari Tere Liye. Karyanya yang satu ini menjadi salah satu rekomendasi novel terbaik Indonesia. Tidak hanya menampilkan romansa yang menyentuh, novel yang segera difilmkan ini juga memberikan banyak pelajaran hidup yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, seperti pentingnya percaya pada takdir, ikhlas, dan kerja keras.

2. Andrea Hirata - Laskar Pelangi

Buku pertama dari tetralogi Laskar Pelangi ini sempat sangat booming pada tahun 2008 silam. Mengisahkan perjuangan seorang anak Indonesia dari Pulau Belitong dalam menggapai cita-cita, novel ini memberikan gebrakan baru dalam dunia novel Indonesia. Gaya pengisahannya yang penuh ironi dan meletup-letup menjadi daya tarik tersendiri dalam novel ini. Dapat dikatakan, Anda belum menjadi pembaca novel apabila belum membaca novel ini.

2 dari 3 halaman

3. Pramoedya Ananta Toer - Bumi Manusia

Novel yang akan segera diperankan oleh aktor naik daun Iqbaal Ramadhan ini menjadi salah satu daftar wajib bacaan novel Anda. Bumi manusia sendiri adalah buku pertama dari tetralogi Buru yang terbit pada pertama kali pada tahun 1980.

 

3 dari 3 halaman

4. Ahmad Fuadi - Negeri 5 Menara

Buku yang sempat menjadi best seller pada tahun 2009 tersebut merupakan buku pertama dari trilogi Negeri 5 Menara. Novel ini mengangkat kisah yang unik dan jarang ditemukan pada novel-novel lain. Menceritakan perjuangan seorang anak laki-laki yang bermimpi menjadi Habibie, namun terpaksa merelakan mimpi tersebut karena harus mengabulkan permintaan ibunya untuk mengeyam sekolah berbasis Islam. Tetapi siapa yang menyangka, ternyata di sekolah yang ia anggap awalnya sebagai sekolah kelas dua setelah sekolah negeri tersebut menyimpan begitu banyak potensi luar biasa yang mengantarkannya menuju gerbang kesuksesan.

 (Kiki Novilia)

Loading
Artikel Selanjutnya
Lahirnya Pram-Pram Muda di Blora
Artikel Selanjutnya
Novel Karya Mahasiswa Malang Terjual 12 Ribu Eksemplar dalam 20 Menit