Sukses

Berujung Cerai? Mungkin 4 Masalah Keuangan Ini Adalah Pemicunya

Liputan6.com, Jakarta Terlepas dari apapun penyebabnya, keputusan cerai pasti membawa kerugian. Termasuk kerugian finansial. Oleh karena itu, alangkah lebih baik kalau hal ini bisa dihindari.

Pengadilan Agama di Cianjur Jawa Barat saja mencatat ada 6.000 perkara gugatan cerai yang masuk selama Januari-Juli 2017. Sebanyak 2.500 di antaranya sudah dikabulkan. Angka ini naik 20 persen dari tahun lalu.

Nah ternyata, pemicu utamanya adalah faktor ekonomi yang berujung pada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Terbukti kan kalau pengelolaan keuangan yang apik itu mutlak dilakukan oleh pasangan suami istri jika ingin pernikahan langgeng?

Agar hal ini tidak terjadi kepada Anda dan pasangan, Anda wajib tahu apa saja hal-hal seputar finansial yang rentan jadi pemicu timbulnya gugatan cerai. Berikut yang dirangkum dari duitpintar.com

1. Utang menumpuk

Utang yang menumpuk memang bikin semua orang jadi stres. Sebelum berutang, semestinya Anda paham dulu kalau utang maksimal seseorang tidak boleh melebihi 30 persen dari total pendapatan.

Bila penghasilan per bulan Anda dan pasangan adalah Rp 8 juta, maksimal utangnya adalah Rp 2,4 juta. Kalau lebih dari itu, sudah pasti kondisi finansial jadi tidak sehat.

Tapi bila memang pasangan Anda mengalami masalah ini, jangan buru-buru melayangkan gugatan cerai ya. Cobalah bantu dia dalam mengatasi utangnya dengan melakukan mediasi perbankan, jual aset, atau renegosiasi utang dengan lembaga pemberi pinjaman.

Oh ya satu lagi nih, hindari menggunakan jasa pengacara untuk urusan yang satu ini ya. Kenapa? Karena pengacara juga ada biayanya. Apa rela keluar uang lebih banyak lagi?

2. Tidak transparan masalah pendapatan

Sudah semestinya pasangan Anda mengetahui berapa rupiah yang Anda dapatkan dalam sebulan.

Transparan soal pendapatan akan memudahkan Anda untuk mengatur keuangan bersama pasangan. Misalnya berapa rupiah untuk bayar listrik, air, internet, berapa yang bisa disisihkan untuk rekreasi, dan berapa yang harus diprioritaskan untuk investasi.

Kalau tidak transparan soal penghasilan, bagaimana mau pasang target keuangan bersama di masa depan?

 

2 dari 3 halaman

3. Penghasilan suami lebih kecil ketimbang istri

Seorang suami yang bertugas sebagai pencari nafkah biasanya dituntut untuk memiliki penghasilan yang lebih tinggi daripada istri. Bila hal sebaliknya yang terjadi, tak jarang sang suami merasa tersaingi atau merasa diremehkan meski pada kenyataannya tidak begitu.

Bila ini yang Anda alami bersama pasangan, Anda wajib untuk saling menghargai satu sama lain terkait masalah penghasilan. Bisa jadi gaji istri yang lebih besar didapat dari kerja kerasnya selama bertahun-tahun, dan suami mestinya legowo dengan hal itu.

Namun apabila hal ini berujung pada perseteruan, ingatlah kalau ada proses join income yang bisa diberlakuan ketika seseorang sudah menikah. Itu artinya, tidak ada lagi istilah “gajimu” dan “gajiku”, yang ada hanyalah “gaji kita bersama”.

 

3 dari 3 halaman

4. Perbedaan tujuan finansial di masa depan

Tanpa sebuah tujuan finansial di masa depan, kebebasan finansial bakal jadi angan-angan belaka. Perbedaan strategi dalam mencapai kebebasan finansial ini pun kerap diperdebatkan.

Sang suami mungkin terlalu berani mengambil keputusan berinvestasi yang risikonya tinggi, tanpa perhitungan. Sementara itu sang istri yang terlalu perhitungan selalu mempertimbangkan berapa rupiah yang bakal dikeluarkannya.

Masalah perbedaan tujuan sebenarnya bisa diatasi dengan meninjau ulang apa yang ingin Anda capai bersama pasangan di masa depan. Cobalah untuk menyamakan persepsi dulu, setelah itu barulah Anda bisa membicarakan strategi keuangannya.

Itulah empat masalah keuangan rumah tangga yang bisa memicu munculnya gugatan cerai. Mungkin sebagian dari Anda beranggapan kalau hal ini sepele. Namun bila dibiarkan, bisa jadi masalah serius.

Loading
Artikel Selanjutnya
5 Alasan Bercerai Paling Umum di Meja Persidangan
Artikel Selanjutnya
Ternyata, Song Song Couple Doyan Berdonasi Hingga Miliaran Rupiah