Godaan Berat Sopir Taksi Online Saat Angkut Wanita Muda Mabuk

Panji tak menyangka jika malam panjangnya akan berakhir di kamar apartemen perempuan muda yang mabuk dan tak sadar diri. Simak kisahnya

Diterbitkan 04 Oktober 2016, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Sabtu malam atau malam Minggu menjadi hari yang panjang dan melelahkan bagi sopir taksi online, Panji (38). Hingga hari itu berakhir di kamar apartemen perempuan muda yang tak sadarkan diri.

Kisah berawal dari insting Panji yang menuntunnya tancap gas ke daerah nongkrong hits di Jakarta Utara, yaitu kawasan Pantai Indah Kapuk. Ia yakin akan banyak orderan taksi online menjelang tengah malam di beberapa klub dan restoran yang buka sampai dini hari.

Belum tengah malam ia sudah sampai di daerah PIK dan memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya sebentar saja. Saat setengah terlelap, ia tersentak oleh panggilan yang langsung membuatnya terjaga.

Kurang dari 15 menit, Panji sudah sampai di lokasi dan menunggu penumpangnya keluar dari kelab malam. Kala itu, Panji berpikir pasti si perempuan bersama pasangannya. Saat sedang asik menerka, ternyata ia akan mengangkut dua perempuan muda dengan kondisi setengah sadar dan hampir tak sadarkan diri.

Keduanya dibantu seorang security untuk sampai ke mobil Panji. Sebut saja Lola dan Loli. Lola dan Loli tinggal di apartemen yang sama tak jauh dari lokasi penjemputan.

Loli yang sama sekali tak sadar dibawa pulang duduk di samping kursi kemudi. Sementara Lola yang setengah sadar masih bisa berkomunikasi dengan Panji.

Kondisi jalanan yang lancar membuat rute perjalanan ditempuh dengan singkat. Keheningan dalam mobil buyar saat Lola memohon pada Panji untuk mengantarkan Loli sampai di kamar apartemennya.

"Pak, tolong anter teman saya sampai kamarnya ya. Ini kuncinya. Dia enggak sadar sama sekali," pinta Lola lemas dan memelas.

"Tapi Mbak, saya...", timpal Panji terbata.

"Udah saya percaya sama Bapak. Nanti kita turun bareng tapi setelah itu kita pisah. Saya minta tolong banget sama Bapak. Saya enggak kuat anter dia," rajuk Lola sedikit memaksa.

Karena iba, kasihan, dan tak tega melihat Loli yang terkapar tak berdaya di sampingnya, ia pun bersedia mengantar dua wanita muda berparas cantik tersebut. Panji dan Lola merangkul Loli yang dipaksa untuk berjalan dengan mata terpejam dan langkah gontai.

Kami pun berpisah saat Lola turun elevator di lantai berbeda. Saya pun meneruskan perjalanan sambil memapah Loli yang lunglai. Sambil terus memikirkan perkataan Lola sebelum turun lift.

"Kalau Bapak mau nemenin temen saya sampai pagi, silakan aja. Jagain ya, Pak. Makasiii..." ujar Lola sambil melangkah keluar lift.

"Astaga, godaan berat ini," begitu suara hati Panji.

Sampai di depan pintu kamar Loli, degup jantung Panji semakin tak beraturan. Ia melamun sejenak sebelum membuka pintu sambil berpikir keputusan apa yang akan diambilnya.

Bruk

Panji menutup pintu dan memilih kembali ke mobil atau taksi online tempatnya mencari nafkah bagi keluarga tercinta. 

Â