Sukses

Titik Balik Angkie Yudistia, Tuna Rungu yang Menginspirasi

Liputan6.com, Jakarta Tak satu pun manusia di dunia yang ingin terlahir dengan keterbatasan fisik ataupun fungsi indera. Seperti yang dirasakan Angkie Yudistia. pada usia 10 tahun, Angkie mengalami demam tinggi, akibat kesalahan obat antibiotik, membuat dirinya kehilangan fungsi pendengarannya. Dirinya harus menerima kenyataan bahwa ia pun menjadi tuna rungu.

Memiliki keterbatasan pendengaran membuat Angki Yudistira bangkit. Sempat merasakan minder dengan teman-teman sebaya saat duduk di bangku sekolah menengah. Melihat teman-teman sedang menikmati masa puber, ia merasa berbeda dengan yang lainnya.

"Saat di bangku SMP dan SMA teman-teman sedang asik pacaran, bermain dengan banyak orang, aku sempat merasa seperti itik buruk rupa yang tidak bisa apa-apa," ungkap Angkie saat diwawancarai usai mengisi acara Inspirato di Liputan6.com, Selasa (5/4/2016).

Angkie menjalani hidupnya dengan keterbatasan dan lingkungan yang memojokkannya. Banyak teman-teman yang menjelek-jelekkan dirinya. Kondisi ini membuat ia kurang percaya diri. Hingga ibu satu orang anak ini sampai di titik balik saat ia mulai menerima keterbatasan pendengaran yang dimilikinya. Momen ini terjadi pada tahun 2007 saat ia berusia 20 tahun.

"Pada usia 20 tahun aku mulai merasa aku tidak seharusnya seperti ini. hidup hanya sekali dan aku harus berbuat sesuatu yang lebih baik sebelum aku menyesalinya kelak. Aku berusaha menerima diriku apa adanya dan mencintai diriku," tambahnya.

Keterbatasan yang dimilikinya membuat Angkie mencari dan terus menggali skill yang tersembunyi dari dirinya. Ia terus belajar dan mengasah diri. Salah satunya dengan belajar. Baginya, pendidikan merupakan aspek penting agar dihargai oleh orang sekitarnya. Hal ini membuat wanita lulusan S2 di London Scholl Public Relation ini tidak pernah lelah belajar, bahkan hingga sekarang.

Perjalanan hidupnya menjalani hidup dengan kenyataan tuna rungu, hingga ia menemukan titik balik dan bangkit memaksimalkan kemampuan dirinya, Angkie memiliki tokoh inspirato sendiri yaitu Hallen Keller. Hallen merupakan penyandang multi disabilitas. Ia tidak bisa mendengar dan melihat. Namun keterbatasan ini tidak menghambat kreativitasnya sehingga bisa menerbitkan berbagai judul buku yang laku di pasaran.

Angkie Yudistia, tuna netra yang menginspirasi

Kisah nyata dari Hallen membuat Angkie bangkit. Dibalik itu semua ada peran penting yang membuat dirinya bangkit dan percaya diri, yaitu orang tua. Ibu dan ayahnya merupakan pendukung paling penting untuk membuat Angkie percaya diri. Orang tuanya jugalah yang memberikan pengertian kepada lingkungan, guru di sekolah tentang keterbatasan yang dialaminya.

"Mama yang paling berjuang dalam hidup aku. ia yang datang ke guru-guru aku waktu itu. Mereka yang menerima aku apa adanya. Bahkan mereka mencoba segala cara agar aku dapat hidup layaknya anak-anak normal yang lain," tuturnya.

Tanpa peran orang tua, Angkie tidak pernah membayangkan dirinya masih dalam keterpurukan dan rasa tidak percaya diri. Berbekal pendidikan dan skill komunikasi yang dimilikinya, Angkie akhirnya memutuskan untuk mendirikan Thisable Enterprise. Sebuah program pengembangan skill dari penyandang disabilitas.

Melalui program ini, Angkie ingin membuat penyandang disabilitas tidak lagi dikasihani, namun mereka bisa berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri dan orang di sekitarnya. Angkie juga melakukan berbagai kampanye dan menulis dua buku untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, bahwa penyandang disabilitas bukan untuk dikasihani, namun diterima keberadaannya.

"Kami penyandang disabilitas ingin diterima keberadaannya sebagai teman. Program ini diharapkan dapat membuka mata masyarakat akan keberadaan kita dan membakar semangat kami untuk terus berkarya dibalik keterbatasan yang ada," tutupnya.

Loading