Sukses

Tapak Tilas Datuk Karama, Penyebar Agama Islam di Kota Palu

Liputan6.com, Palu Di Kota Palu, Sulawesi Tengah terdapat makam Syekh Abdullah Raqie atau yang lebih dikenal dengan sebutan Datuk Karama. Makam tersebut sebelumnya dikenal cukup sakral dan hanya orang tertentu saja yang bisa masuk ke area makam ini, kini menjadi salah satu obyek wisata religi setelah disetejui oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Palu, beberapa tahun silam.

Lebih lanjut, Liputan6.com sempat berbincang dengan Juri Kunci Makam Datuk Karama, Aziz Muhammad di lokasi makam, Kamis (8/5/2014). Ia pun kemudian menceritakan, Datuk Karama adalah seorang ulama asal Minangkabau, Sumatera Barat yang pertama kali menyebarkan agama Islam ke Kota Palu pada abad ke-17.

Awal kedatangan Datuk Karama, menurut dia, bermula di Kampung Lere yang saat ini telah menjadi Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat.

Kedatangan Datuk Karama saat itu pada masa Kerajaan Kabonena, yang Rajanya saat itu Ipue Nyidi. Selanjutnya Datuk Karama melakukan syiar Islamnya ke wilayah-wilayah lainnya di Palu yang dihuni oleh masyarakat asli Suku Kaili. Wilayah-wilayah itu, meliputi Palu, Kabupaten Donggala, Sigi, Parigi Moutong, dan Tojo Una-Una.

Pada masa itu, masyarakat asli Suku Kaili masih menganut kepercayaan animisme yang mereka sebut "tumpuna", di mana mereka mempercayai adanya makhluk yang menunggui benda-benda yang dianggap keramat.

"Namun dengan metode dan pendekatan yang persuasif serta wibawa dan kharismanya yang tinggi, syiar Islam yang dilakukan Datuk Karama melalui ceramah-ceramah pada upacara-upacara adat suku tersebut, akhirnya secara perlahan dapat diterima oleh Raja Kabonena Ipue Nyidi dan masyarakat Kaili. Perjuangan Datuk Karama saat itu, akhirnya berhasil mengajak Raja Kabonena, Ipue Nyidi beserta rakyatnya masuk Islam, dan dikemudian hari Ipue Nyidi dikenang sebagai raja yang pertama masuk Islam di Palu," sebutnya.

Saat itu pula, lanjut Aziz, Datuk Karama, beserta keluarga dan pengikutnya tidak kembali lagi ke tanah kelahirannya di Minangkabau, dan lebih memilih bertahan di Palu untuk menyebarkan agama Islam.

"Sampai meninggal dunia, Datuk Karama serta keluarganya dan pengikutnya juga di Palu," ungkapnya.

Diketahui, setelah wafat, jasad Datuk Karama dimakamkan di Kelurahan Lere. Dan tidak hanya itu, di dalam areal makam juga terdapat makam istrinya yang bernama Intje Dille dan dua orang anaknya yang bernama Intje Dongko dan Intje Saribanu serta makam para pengikut setianya yang terdiri dari 9 makam laki-laki, 11 makam wanita, serta 2 makam yang tidak ada keterangan di batu nisannya.

Terus berjalannya waktu, akhirnya makam Datuk Karama dibenahi dengan kontruksi rumah Gadang khas Minang dan dijadikan sebagai cagar budaya sekaligus obyek wisata religi oleh Pemkot Palu dan dijaga oleh sekeluarga juru kunci, yakni Aziz Muhammad bersama keluarganya.

Sedangkan untuk mengenang dan menghormati jasa-jasa Datuk Karama di Palu, Pemkot Palu menamai salah satu perguruan tinggi di Palu, yakni IAIN dengan nama IAIN Datuk Karama Palu.

Selain itu, masih banyak juga peninggalam Datuk Karama yang hingga saat ini masih digunakan warga Palu, salah satunya alat musik tradisional Suku Kaili yang disebut Kakula, itu sama dengan alat musik tradisonal Talempong di Minangkabau.

"Alat musik tradisonal itu merupakan peninggalan sang Datuk Karama," ujar Aziz. (M Taufan SP Bustan/Ars)