6 Adab Bertetangga yang Dicontohkan Rasulullah

Adab bertetangga yang dicontohkan Rasulullah menjadi pedoman etika yang relevan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari

Diterbitkan 07 Oktober 2026, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Adab bertetangga yang dicontohkan Rasulullah menjadi pedoman etika yang relevan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hubungan dengan tetangga tidak hanya menyangkut urusan sosial, tetapi juga berkaitan dengan kualitas keimanan seorang Muslim.

Sikap saling menghormati, membantu ketika membutuhkan, menjaga perasaan, dan tidak mengganggu menjadi bagian dari akhlak yang diajarkan Rasulullah SAW. Keimanan tidak hanya tercermin dalam hubungan seorang Muslim dengan Allah, tetapi juga dalam cara ia memperlakukan orang-orang di lingkungan terdekatnya.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya.” (HR. Bukhari Muslim).

Imam Al-Ghazali dalam Al-Adab fid Din, sebagaimana dinukil dalam jurnal Etika Bertetangga dalam Al-Qur'an Menurut Tafsir Al-Azhar Karya Hamka dan Relevansinya bagi Masyarakat Modern menguraikan sejumlah etika yang perlu dijaga dalam hubungan dengan tetangga. Memuliakan tetangga merupakan tuntunan syariat sekaligus cerminan kualitas iman seorang Muslim.

Kajian Sabir Maidin dalam jurnal Keutamaan Hidup Bertetangga (Suatu Kajian Hadis) juga menunjukkan pentingnya hubungan bertetangga dalam kehidupan sosial. Hubungan yang baik dengan lingkungan sekitar tidak hanya menciptakan suasana hidup yang lebih nyaman, tetapi juga menjadi bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan seorang Muslim.

Adab Bertetangga yang Dicontohkan Rasulullah

Meneladani Rasulullah SAW dalam kehidupan bertetangga tidak harus dimulai dari hal-hal besar. Menjaga ucapan, tidak mengganggu, menghormati privasi, membantu ketika ada kesulitan, serta menunjukkan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari merupakan bentuk nyata dari akhlak Islam. Dari lingkungan terdekat inilah keharmonisan masyarakat dapat dibangun.

1. Tidak Menyakiti Tetangga

Rasulullah SAW menegaskan bahwa keimanan seseorang tidak sempurna jika tetangganya merasa tidak aman dari gangguannya. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (No. 6018) dan Imam Muslim (No. 47), Rasulullah bersabda: "Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman." Ketika ditanya siapa yang dimaksud, beliau menjawab: "Orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya".

Sabir Maidin menjelaskan bahwa larangan menyakiti tetangga mencakup segala bentuk gangguan, baik berupa ucapan maupun perbuatan, material maupun immaterial. Imam al-Ghazali dalam al-Adab fid Dîn menyebutkan bahwa di antara adab bertetangga adalah menahan diri dari menyakiti, tidak menyebarkan rahasia, dan tidak mengganggu ketenangan tetangga.

2. Berbuat Baik dan Berbagi

Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk berbagi dengan tetangga, bahkan dalam hal yang sederhana. Dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Dzar, Rasulullah bersabda: "Wahai Abu Dzar, apabila kamu memasak kuah sayur, maka perbanyaklah airnya, dan berikanlah sebagiannya kepada tetanggamu".

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari Syarah Shahih al-Bukhari menjelaskan bahwa hadis ini mengandung anjuran untuk berbagi makanan dengan tetangga sebagai bentuk kepedulian sosial yang dapat memperkuat ikatan komunitas.

Bahkan, Rasulullah mengajarkan untuk mendahulukan tetangga yang paling dekat pintu rumahnya dalam memberikan hadiah, sebagaimana hadis dari Aisyah ra. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

3. Menghormati dan Memuliakan Tetangga

Rasulullah SAW mengaitkan antara keimanan dengan sikap memuliakan tetangga. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya".

Imam al-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan kewajiban memuliakan tetangga dengan cara tidak mengganggunya dan berbuat baik kepadanya. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menafsirkan QS. An-Nisa' [4]: 36 dengan menekankan bahwa "tetangga dekat" dan "tetangga jauh" mencakup tetangga Muslim maupun non-Muslim, dan berbuat baik kepada mereka adalah manifestasi nyata dari iman.

4. Toleransi terhadap Perbedaan

Rasulullah SAW memberikan teladan dalam bertoleransi terhadap tetangga yang berbeda keyakinan. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menegaskan bahwa seorang Muslim harus berbuat baik kepada tetangga yang berbeda agama sebagaimana ia berbuat baik kepada tetangga sesama Muslim.

Jika kepada tetangga Muslim seseorang mengantarkan makanan, maka kepada tetangga non-Muslim pun kebaikan semacam itu patut dilakukan.

Al-Qurthubi dalam Al-Jāmi' li Ahkām al-Qur'ān menjelaskan bahwa "tetangga dekat" (al-jār al-qurbā) dan "tetangga jauh" (al-jār al-junub) mencakup mereka yang berbeda agama, dan hak-hak mereka harus tetap dipenuhi.

5. Menjenguk saat Sakit dan Menghibur saat Musibah

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa tetangga memiliki hak untuk dijenguk ketika sakit dan dihibur ketika ditimpa musibah. Imam al-Ghazali dalam al-Adab fid Dîn menyebutkan bahwa di antara adab bertetangga adalah menjenguk ketika sakit, mengucapkan selamat ketika bahagia, dan menghibur ketika musibah.

6. Tidak Melarang Tetangga Memanfaatkan Dinding Rumah

Rasulullah SAW melarang seseorang menghalangi tetangganya yang ingin menyandarkan kayu pada dinding rumahnya. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah bersabda: "Janganlah seseorang melarang tetangganya untuk menyandarkan kayunya di dinding rumahnya".

Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan betapa Islam sangat memperhatikan kemudahan dan kerukunan antar tetangga.

Hikmah Meneladani Adab Bertetangga yang Dicontohkan Rasulullah

1. Menyempurnakan Keimanan

Memuliakan tetangga adalah indikator keimanan yang disebutkan secara eksplisit dalam hadis-hadis Nabi.

2. Menciptakan Keharmonisan Sosial

Hubungan bertetangga yang baik menciptakan rasa aman, nyaman, dan saling percaya di lingkungan tempat tinggal.

3. Memperkuat Solidaritas dan Gotong Royong

Adab bertetangga mendorong terciptanya kerja sama dalam kebaikan dan saling membantu dalam kesulitan.

4. Mencegah Konflik dan Permusuhan

Dengan menahan diri dari menyakiti dan menghormati hak tetangga, potensi konflik dapat diminimalisir.

5. Mendapatkan Perlindungan dan Pertolongan Allah

Rasulullah mengajarkan bahwa tetangga yang baik akan menjadi penyebab kebahagiaan, sedangkan tetangga yang jahat akan menjadi sumber kesengsaraan.

6. Menjadi Ladang Amal Ibadah

Setiap kebaikan yang diberikan kepada tetangga bernilai ibadah dan akan mendapatkan pahala dari Allah SWT.

 

Pertanyaan Seputar Adab Bertetangga

1. Apa hadis utama tentang adab bertetangga?

Hadis utama adalah sabda Rasulullah SAW: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya" (HR. Bukhari No. 6018 dan Muslim No. 47).

2. Siapa saja yang termasuk tetangga dalam Islam?

Tetangga mencakup orang yang tinggal berdekatan, baik Muslim maupun non-Muslim, kerabat maupun bukan. Para ulama membagi tetangga menjadi tiga kategori: tetangga Muslim yang masih kerabat (tiga hak), tetangga Muslim bukan kerabat (dua hak), dan tetangga non-Muslim (satu hak).

3. Bagaimana adab bertetangga dengan non-Muslim?

Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menegaskan bahwa berbuat baik kepada tetangga non-Muslim adalah kewajiban, seperti mengantarkan makanan, menunjukkan empati, dan berlaku adil. Toleransi ini merupakan prinsip sosial Islam yang berlaku sepanjang zaman.

4. Apa akibat menyakiti tetangga?

Rasulullah SAW menegaskan bahwa orang yang menyakiti tetangganya tidak sempurna imannya dan tidak akan masuk surga. Dalam hadis riwayat Imam Muslim: "Tidak akan masuk surga, seseorang yang tetangganya tidak tenang karena gangguannya".

5. Apa manfaat berbuat baik kepada tetangga?

Manfaatnya antara lain: menyempurnakan iman, menciptakan keharmonisan sosial, memperkuat solidaritas, mencegah konflik, mendapatkan pertolongan Allah, dan menjadikan hidup lebih berkah dan bermartabat.