Liputan6.com, Jakarta - Doa puasa Ayyamul Bidh penting dipahami umat Islam mengingat amal dan ibadah ini begitu istimewa yang diamalkan secara periodik. Puasa ini dilaksanakan selama tiga hari pada setiap pertengahan bulan Hijriah, ketika malam-malamnya disinari cahaya bulan purnama yang terang benderang.
Dasar kesunnahan puasa ini bersumber dari hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abu Dzar al-Ghifari. Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Aba Dzar, bila kamu hendak puasa tiga hari dalam sebulan, maka puasalah pada tanggal 13, 14 dan 15” (HR. An-Nasa’i dan At-Tirmidzi).
Isnan Ansory dalam buku Puasa yang Masyru’ dan Tidak Masyru’ menegaskan bahwa puasa ayyamul bidh termasuk dalam kategori puasa sunnah muqayyad, yakni puasa yang dilakukan karena momentum tertentu dan dilaksanakan sepanjang tahun.
Advertisement
Dalam tinjauan fikih, Salwatul Aisy dalam studi Tinjauan Fikih tentang Macam-Macam Puasa dan Ketentuannya, menjelaskan bahwa puasa ayyamul bidh tergolong puasa sunnah yang sangat dianjurkan, bahkan dihukumi sebagai sunnah muakkad. Hukum ini didasarkan pada praktik Rasulullah SAW yang secara rutin melaksanakannya, baik dalam keadaan mukim maupun safar, sebagaimana termaktub dalam Sunan An-Nasa’i.
Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah ulasan lenglap mengenai doa puasa Ayyamul Bidh lengkap.
Doa Puasa Ayyamul Bidh: Niat dan Bacaan Berbuka
Niat Puasa Ayyamul Bidh
Niat merupakan pondasi utama dalam setiap ibadah, termasuk puasa sunnah ayyamul bidh. Isnan Ansory dalam bukunya menegaskan bahwa niat harus dihadirkan di dalam hati dan disunnahkan untuk dilafalkan dengan lisan.
Waktu niat bagi puasa sunnah lebih longgar dibandingkan puasa wajib, yaitu dapat dilakukan sejak malam hari hingga sebelum masuk waktu zawal (matahari condong ke barat), dengan catatan belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar.
Berikut lafaz niat puasa ayyamul bidh yang umum digunakan:
Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ أَيَّامِ الْبِيْضِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma ayyāmil-bīḍi sunnatan lillāhi ta‘ālā
Artinya: “Aku berniat puasa Ayyamul Bidh sebagai sunnah karena Allah Ta’ala.”
Niat ini dapat dilafalkan saat makan sahur atau pada malam hari sebelum tidur. Salwatul Aisy menambahkan bahwa niat puasa sunnah boleh dilakukan pada siang hari selama belum makan, minum, atau melakukan hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab fikih mazhab Syafi’i yang menjadi rujukan utama di Indonesia.
Bacaan Doa Berbuka Puasa Ayyamul Bidh
Ketika waktu Maghrib tiba, umat Islam dianjurkan untuk menyegerakan berbuka dan membaca doa sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT. Berikut doa berbuka puasa yang dapat dibaca:
Arab: اَللّٰهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّحِمِينَ
Latin: Allahumma laka sumtu wa bika amantu wa ‘ala rizqika aftartu, birahmatika ya arhamarrahimin
Artinya: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, dengan-Mu aku beriman, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka, dengan rahmat-Mu, wahai Tuhan yang Maha Pengasih.”
Selain doa tersebut, terdapat pula doa yang diriwayatkan dalam hadis Abu Dawud yang bisa dibaca setelah berbuka:
Arab: ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ
Latin: Dzahabadzoma’u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah
Artinya: “Telah hilang dahaga, dan telah basah urat-urat, serta tetap pahala jika Allah menghendaki.”
Isnan Ansory menegaskan bahwa doa berbuka puasa tidak hanya berlaku untuk puasa Ramadhan, tetapi juga untuk puasa-puasa sunnah seperti ayyamul bidh. Doa ini dibaca ketika waktu berbuka telah tiba, yakni setelah matahari terbenam atau saat azan Maghrib berkumandang.
Hukum Puasa Ayyamul Bidh dan Alasan Penamaannya
Hukum Puasa Ayyamul Bidh
Hukum puasa ayyamul bidh adalah sunnah muakkad, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Ibnu Abbas dalam Sunan An-Nasa’i, Rasulullah SAW sering melaksanakan puasa pada hari-hari yang malamnya cerah, baik di rumah maupun dalam bepergian.
Dalam kitab I’ânatut Thâlibîn Juz II yang dikutip dari hadis riwayat Imam Ibnu Majah dan Imam At-Tirmidzi, disebutkan bahwa puasa tiga hari setiap bulan memiliki keutamaan seperti puasa sepanjang tahun.
Isnan Ansory dalam bukunya mengklasifikasikan puasa ayyamul bidh sebagai bagian dari puasa sunnah yang dilakukan sepanjang tahun, bersama dengan puasa Dawud dan puasa Senin-Kamis. Meskipun tidak wajib, puasa ini memiliki keutamaan yang besar dan menjadi wasiat Rasulullah SAW kepada beberapa sahabatnya, termasuk Abu Hurairah dan Abu Dzar.
Salwatul Aisy menambahkan bahwa puasa ayyamul bidh termasuk puasa sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan secara rutin setiap bulan, kecuali pada bulan Dzulhijjah di mana tanggal 13 bertepatan dengan hari tasyrik yang diharamkan untuk berpuasa. Pada bulan tersebut, puasa ayyamul bidh dapat dilaksanakan pada tanggal 14, 15, dan 16.
Mengapa Disebut Ayyamul Bidh?
Secara bahasa, ayyamul bidh (أيام البيض) terdiri dari dua kata: ayyam yang berarti hari-hari, dan bidh yang berarti putih. Penamaan ini merujuk pada kondisi malam-malam pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah yang disinari cahaya bulan purnama dengan sangat terang, sehingga malam-malam tersebut tampak seperti “putih”.
Isnan Ansory dalam bukunya menjelaskan bahwa penamaan ayyamul bidh berasal dari riwayat Ibnu Abbas yang menyebutkan bahwa ketika Nabi Adam diturunkan ke bumi, tubuhnya terbakar oleh matahari dan menjadi hitam. Kemudian Allah memerintahkan Nabi Adam untuk berpuasa pada ayyamul bidh.
Ketika Nabi Adam berpuasa pada hari pertama, sepertiga anggota tubuhnya menjadi putih; pada puasa hari kedua, sepertiga anggota lainnya menjadi putih; dan pada hari ketiga, sisa sepertiga anggota tubuhnya menjadi putih seluruhnya.
Pendapat lain menyebutkan bahwa nama ini berkenaan dengan sinar rembulan yang menerangi bumi sejak matahari terbenam hingga terbit kembali, sehingga malam-malam tersebut menjadi putih (terang).
Tata Cara Puasa Ayyamul Bidh
Pelaksanaan puasa ayyamul bidh pada dasarnya mengikuti tata cara puasa sunnah pada umumnya. Salwatul Aisy dalam artikelnya menjelaskan bahwa puasa ini dimulai sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan syarat utama niat dan menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa.
Berikut tata cara lengkap pelaksanaan puasa ayyamul bidh:
1. Membaca Niat
Niat dilakukan pada malam hari sebelum tidur, atau saat makan sahur, atau paling lambat sebelum masuk waktu zawal (matahari condong ke barat). Niat diucapkan di dalam hati dan disunnahkan untuk dilafalkan dengan lisan.
2. Melaksanakan Sahur
Sahur sangat dianjurkan karena mengandung keberkahan dan memberikan energi selama menjalankan puasa. Sahur dilakukan sebelum masuk waktu Subuh atau sebelum imsak. Rasulullah SAW bersabda: “Teruslah kalian sahur, karena ia merupakan makanan yang diberkati”.
3. Menahan Diri
Sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, seseorang yang berpuasa harus menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang dapat membatalkan puasa. Selain itu, dianjurkan untuk menjaga lisan, pandangan, dan perilaku dari hal-hal yang dapat mengurangi pahala puasa.
4. Menyegerakan Berbuka
Ketika waktu Maghrib tiba, disunnahkan untuk segera berbuka puasa. Rasulullah SAW menganjurkan berbuka dengan kurma atau air putih, kemudian membaca doa berbuka puasa.
5. Memperbanyak Amal Ibadah
Selama menjalankan puasa ayyamul bidh, dianjurkan untuk memperbanyak amal kebaikan seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, shalat sunnah, dan bersedekah. Hal ini sebagaimana dipraktikkan oleh para santri di Pondok Pesantren Wali Songo Situbondo yang menjadikan puasa ini sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mengikuti jejak sunnah Nabi Muhammad SAW.
Keutamaan Puasa Ayyamul Bidh
Puasa ayyamul bidh memiliki berbagai keutamaan yang disebutkan dalam hadis-hadis Nabi Muhammad SAW dan dijelaskan oleh para ulama. Berikut keutamaan-keutamaan tersebut:
1. Mendapat Pahala Seperti Puasa Sepanjang Tahun
Keutamaan paling utama dari puasa ayyamul bidh adalah pahalanya yang setara dengan puasa sepanjang tahun. Dalam hadis riwayat Abu Dzar, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa saja yang berpuasa tiga hari dari setiap bulan, maka puasa itu seperti puasa sepanjang tahun. Kemudian Allah menurunkan ayat dalam Alquran yang mulia lantaran membenarkan hal tersebut, siapa saja yang datang dengan kebaikan maka baginya pahala 10 kali lipatnya. Satu hari sama dengan 10 hari” (HR. Ibnu Majah dan At-Tirmidzi).
2. Merupakan Wasiat Rasulullah SAW
Puasa ayyamul bidh merupakan salah satu wasiat Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. Dalam hadis riwayat Abu Hurairah, Rasulullah SAW mewasiatkan tiga amalan yang tidak pernah ditinggalkan hingga wafat: puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha, dan shalat Witir sebelum tidur (HR. Bukhari). Wasiat ini menunjukkan betapa pentingnya puasa ayyamul bidh dalam kehidupan seorang Muslim.
3. Menghapus Penyakit Hati
Puasa ayyamul bidh juga bermanfaat untuk membersihkan hati dari berbagai penyakit spiritual seperti hasad (kedengkian), dendam, dan waswas. Salsabila Rizqa Annisa dalam penelitiannya tentang puasa ayyamul bidh sebagai terapi kesabaran pada mahasiswa menemukan bahwa subjek penelitian merasa lebih mampu mengendalikan emosi dan menjadi lebih sabar setelah menjalankan puasa ini secara mandiri.
4. Melatih Kesabaran dan Pengendalian Diri
Dalam jurnal Ayyamul Bidh Sunnah Fasting to Train Patience in Students, Salsabila Rizqa Annisa menjelaskan bahwa puasa ayyamul bidh efektif sebagai terapi untuk melatih kesabaran. Kesabaran dalam menghadapi musibah, kesabaran dalam menjalankan ibadah, dan kesabaran dalam menghadapi gangguan manusia merupakan tiga jenis kesabaran yang dapat dilatih melalui puasa ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek merasa lebih tenang dalam menghadapi masalah dan lebih stabil dalam mengendalikan emosi setelah menjalankan puasa ayyamul bidh secara rutin.
5. Mempererat Solidaritas Sosial
Dalam penelitian Umi Nuriyatur Rohmah tentang tradisi puasa ayyamul bidh di Pondok Pesantren Wali Songo Situbondo, ditemukan bahwa puasa ini tidak hanya berdimensi spiritual tetapi juga sosial. Pada hari terakhir puasa (tanggal 15), pengasuh pesantren mengadakan acara buka bersama dengan para santri dan masyarakat setempat di tepi pantai Situbondo. Acara ini menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi, membangun kedekatan antara kiai dan santri, serta memupuk solidaritas antara pesantren dan masyarakat.
6. Meneladani Akhlak Nabi Muhammad SAW
Puasa ayyamul bidh merupakan salah satu bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dengan menghidupkan sunnah-sunnahnya. Dalam penelitian di Pondok Pesantren Wali Songo, para santri memaknai puasa ini sebagai bukti cinta kepada Nabi, karena sunnah bukan hanya diketahui tetapi juga dijalankan. Pengasuh pesantren selalu menekankan pentingnya mencintai Nabi dengan mengikuti sunnah-sunnahnya, termasuk puasa ayyamul bidh.
Pertanyaan Seputar Puasa Ayyamul Bid
1. Apakah boleh niat puasa ayyamul bidh dilakukan pada siang hari?
Ya, untuk puasa sunnah seperti ayyamul bidh, niat boleh dilakukan pada siang hari selama belum makan, minum, atau melakukan hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar. Waktu niat dimulai sejak malam hari hingga sebelum masuk waktu zawal (matahari condong ke barat).
2. Apa perbedaan puasa ayyamul bidh dengan puasa sunnah lainnya?
Puasa ayyamul bidh dilaksanakan secara khusus pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah, sedangkan puasa sunnah lainnya seperti puasa Senin-Kamis memiliki hari tertentu dalam sepekan, dan puasa Dawud dilakukan secara selang-seling sehari puasa sehari tidak. Keutamaan puasa ayyamul bidh yang paling menonjol adalah pahalanya yang setara dengan puasa sepanjang tahun.
3. Bagaimana hukum puasa ayyamul bidh di bulan Dzulhijjah?
Pada bulan Dzulhijjah, puasa ayyamul bidh tidak dapat dilaksanakan pada tanggal 13 karena bertepatan dengan hari tasyrik yang diharamkan untuk berpuasa. Sebagai gantinya, puasa ayyamul bidh dapat dilaksanakan pada tanggal 14, 15, dan 16 Dzulhijjah.
4. Apakah puasa ayyamul bidh bisa digabung dengan puasa sunnah lain?
Ya, puasa ayyamul bidh dapat digabungkan dengan puasa sunnah lainnya seperti puasa Senin-Kamis atau puasa Syawal. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam kitab Al-Qawa’id memperbolehkan menggabungkan niat dua ibadah yang pelaksanaannya sama, dengan catatan niat masing-masing puasa tetap dihadirkan.
5. Apakah ada doa khusus untuk puasa ayyamul bidh selain niat dan doa berbuka?
Tidak ada doa khusus yang secara spesifik dikhususkan untuk puasa ayyamul bidh selain niat dan doa berbuka yang umum. Namun, selama menjalankan puasa, dianjurkan untuk memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, dan berdoa dengan doa-doa yang bersifat umum. Isnan Ansory menegaskan bahwa doa berbuka puasa berlaku untuk semua jenis puasa, baik wajib maupun sunnah.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5137785/original/055250800_1739961431-20250219-Penambahan_Jalur_Transjakarta-ANG_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3737806/original/026894900_1639896354-cek_fakta_NU.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8336960/original/043977000_1782207955-cek_fakta_-_bibit_Ikan_lele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5342712/original/038739300_1757399162-PHOTO-2025-09-08-18-15-00__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3426408/original/005688900_1618209714-WhatsApp_Image_2021-04-12_at_08.22.59.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361300/original/000394000_1790692999-WhatsApp_Image_2026-09-29_at_9.36.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360089/original/_Langkah_Membumi_mengajak_mahasiswa_mempraktikkan_pemilahan_sampah_berdasarkan_kategori_organik__anorganik_dan_residu_dalam_Waste_Sorting_Competition_yang_berlangsung_sepanjang_Bulan_September_202.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360261/original/089333200_1790604449-1790416230.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4938388/original/037330400_1725618752-WhatsApp_Image_2024-09-06_at_6.54.31_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2995583/original/093783600_1576227057-coline-hasle-YCnycuWG7XY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358415/original/056465700_1790339608-IMG_2927.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358530/original/092817600_1790359243-WhatsApp_Image_2026-09-25_at_9.24.59_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357654/original/010090000_1790271446-1000443129.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363703/original/062901400_1790913505-NARKOBA_50_PAKET_29_SEPT___2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363626/original/051425000_1790907708-WhatsApp-Image-2026-10-02-at-6.38.53-AM-768x432.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363649/original/093076000_1790909445-20261001_132759.jpg)