Ikon Haji Makkah Route: Nenek Jumaria dan Mimpi yang Disimpan di Bawah Kasur Selama 20 Tahun

Nama nenek Jumairah mendadak viral setelah akun resmi @makkahroute milik Otoritas Keimigrasian Arab Saudi mengangkat kisah hidupnya.

Diterbitkan 11 Mei 2026, 09:52 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Jumaria tidak pernah membayangkan wajahnya akan dikenal banyak orang. Nenek berusia hampir 70 tahun ini sebenarnya hanya seorang petani dari pelosok Maros, Sulawesi Selatan. Sehari-hari, aktivitasnya akrab dengan lumpur sawah, daun singkong dan sunyi rumah kecil di tengah kebun.

Kini kegiatan bersawah terpaksa dihentikan sementara. Perempuan itu tengah berada di Kota Madinah. Memenuhi panggilan Allah, sebagai jemaah haji Indonesia.

Namanya mendadak viral setelah akun resmi @makkahroute milik Otoritas Keimigrasian Arab Saudi mengangkat kisah hidupnya. Jumaria dipilih sebagai Ikon Haji 2026 atas rekomendasi Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI.

Namun, di balik sorotan itu, hidupnya tetap sama sederhananya seperti dulu. Wajahnya begitu teduh. Begitupun caranya berbicara, pelan dengan logat Bugis yang kental. Tangannya tidak berhenti merapikan ujung kerudung sambil sesekali tersenyum malu ketika orang-orang menyapanya.

 

Kerja Keras Jumaria Menabung untuk Pergi Haji

Setiap kali ditanya tentang perjuangannya berangkat haji, jawabannya selalu pendek-pendek, seolah semua pengorbanan itu bukan sesuatu yang besar. Padahal hampir 20 tahun hidupnya dihabiskan untuk satu mimpi: pergi ke Tanah Suci.

Setiap pagi, Jumaria berangkat ke sawah sebelum matahari belum tinggi. Ia membawa bekal air minum seadanya, lalu bekerja hingga siang kemudian pulang ke rumah.

"Kalau pagi jam 6 pergi ke sawah, bawa air setengah liter," katanya lirih pada tim Media Center Haji di Madinah, Kamis, 7 Mei 2026.

Rumah Jumaria berdiri cukup jauh dari permukiman warga di Desa Kuru Sumange, Kecamatan Tanralili, Maros. Ia tinggal seorang diri.

Tidak ada suami atau anak yang menemaninya di masa tua. Hari-harinya hanya diisi bekerja di sawah dan kebun milik orang lain.

Dari pekerjaan itulah ia mulai menyisihkan uang sedikit demi sedikit. Jika panen padi tiba, sebagian hasil penjualan langsung disimpan. Kalau mendapat upah dari membersihkan kebun orang, uang itu juga tidak disentuh.

“Kadang 500, kadang 700,” ucapnya, menyebut nominal upah yang ia terima.

Tidak ada rekening bank. Tidak ada celengan khusus. Uang itu ia simpan di tempat-tempat yang menurutnya aman: di bawah kasur, di ember, atau ditutupi kain-kain bekas agar tidak terlihat orang lain.

“Supaya tidak ada (yang) tahu,” katanya sambil tersenyum kecil.

Jumlahnya memang tidak banyak. Kadang hanya Rp 20.000 atau Rp 50.000 yang bisa ia sisihkan. Namun, uang itu terus dikumpulkan selama bertahun-tahun.

Di masa-masa sulit, Jumaria memilih hidup seadanya agar tabungan hajinya tetap utuh. Ketika tidak punya lauk, ia memetik daun singkong di sekitar rumah, lalu memasaknya untuk makan.

“Daun ubi saja saya masak,” tuturnya.

Sesekali ia mengambil telur dari ayam peliharaannya. Bagi Jumaria, itu sudah cukup.

Ia tidak pernah mengeluh tentang hidup yang serba pas-pasan. Yang penting baginya hanya satu: uang haji jangan sampai terpakai.

“Tidak mau saya ambil itu uang yang kusimpan,” katanya.

Kini, semua perjuangan panjang itu membawanya sampai ke Madinah. Tubuhnya masih tampak kuat.

 

Kesehatan Sangat Baik

Ketua Kloter UPG 14, Siti Hawaisyah, bahkan menyebut kondisi kesehatan Jumaria sangat baik untuk jemaah lansia. Menurut Siti, Jumaria nyaris tidak pernah absen dari manasik haji di kampungnya.

“Biar hujan atau panas, pasti dia datang,” ujar Siti.

Jemaah lain pun kerap dibuat kagum oleh tenaga nenek itu. Teman sekamarnya, Marwati, mengaku sering kewalahan mengikuti langkah Jumaria.

“Saya jalan cepat, dia masih bisa tarik saya,” kata Marwati sambil tertawa.

Setelah puluhan tahun menyimpan mimpi di bawah kasur dan di dalam ember tua, ia kini hanya ingin menikmati setiap langkah ibadahnya di Tanah Suci.

“Aku berdoa supaya panjang umur saja,” katanya pelan.

Lalu ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan kalimat berikutnya dengan mata berkaca-kaca, “Semoga dikasih (kesempatan) ke sini lagi.”