6 Ayat Alquran tentang Halal Bihalal, Lengkap Penjelasannya

Walau tak disebut secara tekstual dan eksplisit, terdapat ayat Alquran tentang halal bihalal, mencakup nilai hingga hikmahnya

Diterbitkan 03 April 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Halal bihalal merupakan tradisi khas masyarakat Indonesia yang dilakukan setelah Hari Raya Idul Fitri, baik di lingkungan instansi pemerintah, perusahaan, dunia pendidikan, maupun masyarakat umum. Umat Islam perlu mengetahui ayat Alquran tentang halal bihalal, walau tak disebut secara eksplisit.

Alfiyyah Dhiyaul Haq dalam Jurnal Halal Bihalal Perspektif Islam dan Jawa menjelaskan, tradisi ini menjadi refleksi ajaran Islam yang menekankan sikap persaudaraan, persatuan, dan saling berbagi kasih sayang. Dalam kenyataannya, kehidupan manusia tidak luput dari dosa, terutama kesalahan terhadap sesama seperti iri hati, permusuhan, dan saling menyakiti.

Halal bihalal menjadi momen penting untuk saling memaafkan, membersihkan hati, serta mempererat tali silaturahmi. Silaturahmi sendiri memiliki keutamaan besar, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia bersilaturahmi” (HR. Bukhari).

Meskipun istilah “halal bihalal” tidak ditemukan secara tekstual dalam Al-Qur’an, esensi dan nilai-nilai yang dikandungnya, seperti silaturahmi, saling memaafkan, kelapangan dada, dan tobat, merupakan implementasi langsung dari ajaran-ajaran ilahi.

1. Ayat tentang Persaudaraan (Ukhuwah): Surat Al-Hujurat (49): 10

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Latin: Innamal mu’minuna ikhwatun fa ashlihu baina akhawaikum wattaqullaha la’allakum turhamun

Terjemahan: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

Ayat ini menjadi landasan utama bahwa umat Islam adalah satu saudara. Tradisi halal bihalal merupakan wujud nyata dari perintah untuk mendamaikan dan memperbaiki hubungan.

Syekh Nawawi al-Bantani dalam Tafsir al-Munir menegaskan bahwa “mendamaikan saudara” hukumnya bisa wajib jika terjadi konflik yang berpotensi memecah belah. Halal bihalal menjadi sarana preventif dan kuratif untuk menjaga ukhuwah.

 

 

2. Ayat tentang Memaafkan Kesalahan: Surat At-Taghabun (64): 14

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ مِنْ أَزْوَٰجِكُمْ وَأَوْلَٰدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَٱحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِن تَعْفُوا۟ وَتَصْفَحُوا۟ وَتَغْفِرُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Latin: Ya ayyuhalladzina amanu inna min azwajikum wa auladikum ‘aduwwan lakum fahdzaruhum wa in ta’fu wa tashfahu wa taghfiru fa innallaha ghafurur rahim

Terjemahan: “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Dan jika kamu memaafkan, tidak marah, dan mengampuni, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ayat ini mengajarkan bahwa memaafkan, bahkan terhadap orang terdekat yang mungkin menyakiti, adalah jalan meraih ampunan Allah.

Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an menjelaskan bahwa al-‘afwu (memaafkan), ash-shafhu (berpaling dari kesalahan), dan al-maghfirah (mengampuni) adalah tiga tingkatan yang menunjukkan kesempurnaan akhlak seorang mukmin. Halal bihalal mengajak umat untuk mencapai tingkatan tersebut.

3. Ayat tentang Kelapangan Dada dan Ikhlas Memaafkan: Surat An-Nur (24): 22

وَلْيَعْفُوا۟ وَلْيَصْفَحُوا۟ ۚ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ ٱللَّهُ لَكُمْ ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Latin:Walya’fu walyashfahu, ala tuhibbuna an yaghfirallahu lakum, wallahu ghafurur rahim

Terjemahan:“Dan hendaklah mereka memaafkan dan melapangkan dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampuni kamu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa Aisyah yang difitnah, memerintahkan agar yang terhormat sekalipun memberi maaf.

Prof. Dr. Quraish Shihab dalam kitab Wawasan Al-Qur’an menjelaskan bahwa “lapang dada” (ash-shafh) lebih tinggi kedudukannya daripada sekadar memberi maaf (al-‘afwu). Lapang dada berarti tidak hanya menghapus kesalahan, tetapi juga membuka lembaran baru tanpa beban masa lalu. Inilah esensi halal bihalal.

 

4. Ayat tentang Konsep “Halal” dalam Al-Qur’an

Jurnal yang disusun oleh Alfiyyah Dhiyaul Haq juga menguraikan ayat-ayat yang menyebut kata “halal” sebagai dasar filosofis tradisi ini. Kata halal dalam Al-Qur’an selalu dirangkaikan dengan kebaikan (thayyib) dan perintah untuk mengonsumsinya (makan/minum), tetapi secara maknawi mencakup seluruh aspek kehidupan.

Surat Al-Baqarah (2): 168

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُوا۟ مِمَّا فِى ٱلْأَرْضِ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Latin: Ya ayyuhan nasu kulu mimma fil ardhi halalan thayyiban wa la tattabi’u khuthuwatisy syaithan, innahu lakum ‘aduwwun mubin

Terjemahan: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”

Menurut Al-Imam Al-Baghawi dalam Ma’alimut Tanzil, kata halal di sini bermakna sesuatu yang diizinkan secara syariat, sedangkan thayyib berarti baik secara zat maupun cara memperolehnya. Dalam konteks halal bihalal, setiap interaksi harus “halal” (bebas dari dosa) dan “thayyib” (dilakukan dengan ikhlas dan menyenangkan).

Ayat lain yang senada:

  • Surat Al-Maidah (5): 88 – perintah makan yang halal dan baik serta bertakwa.
  • Surat Al-Anfal (8): 69 – makanlah yang halal lagi baik dari apa yang diperoleh.
  • Surat An-Nahl (16): 114 – makanlah yang halal lagi baik dan syukuri nikmat Allah.

 

5. Ayat tentang Perintah Berpaling dengan Baik: Surat Al-Hijr (15): 85 dan Surat Az-Zukhruf (43): 89

Kedua surat ini memerintahkan untuk berpaling (ash-shafh) dengan cara yang baik, yang oleh para ulama diartikan sebagai anjuran untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan, tetapi dengan kebaikan dan salam.

وَمَا خَلَقْنَا ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَآ إِلَّا بِٱلْحَقِّ ۗ وَإِنَّ ٱلسَّاعَةَ لَءَاتِيَةٌۭ ۖ فَٱصْفَحِ ٱلصَّفْحَ ٱلْجَمِيلَ

Latin: Wa mā khalaqnā as-samāwāti wa al-arḍa wa mā baynahumā illā bil-ḥaqq, wa inna as-sā‘ata la ātiyah, fa iṣfaḥi aṣ-ṣafḥa al-jamīl.

Terjemahan:“Dan tidaklah Aku ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan kebenaran. Dan sesungguhnya hari Kiamat itu pasti akan datang. Maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.”

Ayat ini turun dalam konteks pembangkangan kaum musyrik Makkah yang terus-menerus menyakiti dan mendustakan Nabi Muhammad SAW. Allah memerintahkan kepada Nabi untuk bersikap ṣafḥu al-jamīl, yaitu memaafkan dengan cara yang indah—tanpa celaan, tanpa menyimpan rasa dendam, dan dengan penuh kelapangan dada.

Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an menjelaskan bahwa ash-shafh al-jamil berarti berpaling dari kesalahan orang lain dengan sikap yang tidak mempermalukan, tidak mengungkit-ungkit, dan tidak menyisakan rasa sakit hati.

 

2. Surat Az-Zukhruf (43): 89

فَٱصْفَحْ عَنْهُمْ وَقُلْ سَلَٰمٌۭ ۚ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

Latin: Fa iṣfaḥ ‘anhum wa qul salām, fa sawfa ya‘lamūn.

Terjemahan: “Maka maafkanlah mereka dan ucapkanlah ‘salam’ (keselamatan). Kelak mereka akan mengetahui.”

Ayat ini adalah lanjutan dari beberapa ayat sebelumnya yang menggambarkan kerasnya penolakan kaum musyrik terhadap dakwah tauhid. Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk bersikap ṣafḥ (memaafkan) dan mengucapkan salam sebagai bentuk perdamaian, serta menyerahkan urasan balasan kepada Allah.

Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman mengatakan bahwa perintah ini mengajarkan akhlak para nabi dan orang-orang saleh, yaitu menjawab keburukan dengan kebaikan, kebodohan dengan kesabaran, dan permusuhan dengan salam.

Imam Al-Baghawi dalam Ma’alimut Tanzil menyebutkan bahwa salam di sini bukan sekadar ucapan, tetapi simbol melepaskan semua urusan dengan kedamaian dan tidak membalas dendam.

Ucapan “salam” menjadi inti dari interaksi dalam halal bihalal. Saat bertemu setelah Idul Fitri, umat Islam mengucapkan “minal ‘aidin wal faizin” yang tidak lepas dari semangat salam dan doa keselamatan. Ayat ini mengajarkan bahwa setelah memaafkan, hendaknya diiringi dengan ucapan yang menyejukkan sebagai bentuk ikrar bahwa hubungan telah kembali bersih tanpa beban.

Hikmah Halal Bihalal

Dari pemaparan ayat-ayat di atas dan tinjauan perspektif Islam-Jawa, dapat disimpulkan beberapa hikmah utama dari tradisi halal bihalal:

1. Membersihkan Diri dari Dosa Sosial

Halal bihalal menjadi media tobat dari dosa-dosa yang berkaitan dengan hak sesama manusia (hablun min an-nas), sehingga hati menjadi bersih kembali. Saling memaafkan menghapus bekas-bekas permusuhan dan dendam yang selama ini mengotori jiwa.

2. Memperkuat Tali Silaturahmi

Sesuai dengan perintah Al-Qur’an dan hadis, silaturahmi memperluas rezeki dan memanjangkan umur. Halal bihalal mengaktifkan kembali hubungan yang sempat renggang, baik karena kesalahpahaman, jarak, maupun kesibukan.

3. Mewujudkan Kelapangan Dada (Ash-Shafh)

Tradisi ini melatih umat untuk tidak sekadar memaafkan, tetapi juga melupakan kesalahan orang lain dan membuka lembaran baru dengan ikhlas. Kelapangan dada yang diajarkan dalam Al-Qur’an menjadi kunci kedamaian batin.

4. Menjaga Persatuan dan Ukhuwah

Dalam perspektif Jawa, halal bihalal sejajar dengan konsep sungkeman yang mengajarkan penghormatan dan kerendahan hati. Secara nasional, tradisi ini menjadi perekat persatuan bangsa, sebagaimana diinisiasi sejak masa revolusi untuk menyatukan seluruh komponen masyarakat.

5. Mengubah Hubungan yang “Haram” Menjadi “Halal”

Permusuhan, kebencian, ghibah, dan sikap saling menyakiti yang sebelumnya berdosa menjadi sirna dan berubah menjadi hubungan yang halal, diridhai Allah, serta penuh kasih sayang. Dengan demikian, setiap interaksi yang dilakukan pasca halal bihalal menjadi bernilai ibadah.

People Also Ask:

Quran surat apa tentang halal bihalal?

Dalam Al-Quran setidaknya ada nilai-nilai yang mengajarkan halal bihalal. Perhatikan Q.S. Âli 'Imrân/3: 134-135, ayat ini bertalian dengan nasihat pada waktu peristiwa perang Uhud.

6236 ayat menurut siapa?

Jumlah 6.236 ayat dalam Al-Qur'an adalah berdasarkan hitungan Ulama Kufah (Mazhab Kufi), yang diriwayatkan oleh Hamzah bin Hubaib bin Ziyat dari Ibnu Abu Laila dari Abu Abdirrahman bin Habib as-Sulami, yang bersumber dari Ali bin Abi Thalib. Angka ini umum digunakan dalam Mushaf Madinah dan Mushaf Standar Indonesia.

7 Surat Istimewa Apa Saja?

Tujuh surat istimewa yang sering dirangkum karena keutamaan luar biasa jika dibaca rutin adalah Al-Kahfi, Luqman, As-Sajdah, Yasin, Al-Waqi'ah, Ar-Rahman, dan Al-Mulk. Surat-surat ini, yang juga dikenal sebagai bagian dari Surat Munjiyat (penyelamat), memiliki manfaat dunia-akhirat, seperti pelindung dari siksa kubur, fitnah dajjal, dan mendatangkan keberkahan.

Apa yang dimaksud halal dalam surah al baqarah ayat 168?

Dalam QS. Al-Baqarah ayat 168, Allah memerintahkan kita untuk memakan dari makanan yang halal, yaitu yang tidak haram, baik zatnya maupun cara memperolehnya. Dan selain halal, makanan juga harus yang baik, yaitu yang sehat, aman, dan tidak berlebihan.