Liputan6.com, Jakarta - Momen penyampaian khutbah jumat bulan ramadhan pada tahun 2026 ini memiliki kedudukan yang sangat istimewa karena bertepatan dengan dinamika zaman yang menuntut penguatan iman secara mendalam. Sebagai sarana edukasi spiritual di tengah menjalankan ibadah puasa 1447 Hijriah, materi yang disampaikan dalam khutbah harus mampu menyentuh sisi emosional serta intelektual umat agar semangat beribadah tetap terjaga sejak hari pertama hingga penghujung bulan suci.
Materi teks khutbah yang bermutu menjadi rujukan penting bagi para khatib dalam menyebarkan nilai-nilai ketakwaan sesuai tuntunan syariat Islam yang relevan dengan tantangan masa kini.Efektivitas sebuah khutbah jumat bulan ramadhan sangat bergantung pada kedalaman materi dan relevansi dalil yang digunakan untuk memotivasi jamaah yang sedang berjuang melawan hawa nafsu.
Di tengah padatnya aktivitas ibadah khas tahun 2026 seperti tarawih berjamaah dan tadarus digital, pesan-pesan singkat namun padat dalam khutbah dapat menjadi pengingat yang ampuh mengenai hakikat puasa yang sesungguhnya.
Advertisement
Menggapai Hakikat Takwa
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5503943/original/083212900_1771216803-masjid-maba-uD8LmeylrPI-unsplash.jpg)
Khutbah Pertama
Pembukaan
Alhamdulillahilladzi ja‘ala syahra Ramadhana syahran mubârakan, syahran fîhi rahmah wa maghfirah wa ‘itqun minan nâr. Segala puji hanya milik Allah Swt. yang telah menganugerahkan kepada kita bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, rahmat, dan ampunan.
Asyhadu allâ ilâha illallâh wahdahu lâ syarîka lah. Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhû wa rasûluh. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Saw., keluarga, sahabat, serta umatnya yang setia mengikuti ajarannya hingga akhir zaman.
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullâh,Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt. dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa bukan hanya diucapkan dengan lisan, tetapi dibuktikan dengan ketaatan total kepada perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Isi Khutbah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, Salah satu sarana utama untuk menggapai takwa adalah ibadah puasa. Puasa bukan sekadar ritual tahunan, melainkan proses pendidikan ruhani yang Allah tetapkan bagi orang-orang beriman. Allah Swt. berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa. Takwa tidak berhenti pada menahan lapar dan dahaga. Takwa menuntut pengendalian seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa. Lisan dijaga dari dusta dan ghibah. Mata dijaga dari pandangan yang diharamkan. Telinga dijaga dari hal yang melalaikan. Hati dijaga dari iri, dengki, dan kesombongan.
Puasa melatih kita untuk jujur kepada Allah. Ketika tidak ada manusia yang melihat, hanya iman yang menahan kita dari membatalkan puasa. Dari sinilah lahir kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap gerak dan niat kita. Inilah hakikat takwa yang sejati.
Khutbah Kedua
Alhamdulillahilladzi amaranâ bi taqwâllâh wa ja‘alahâ zâdan li najâtinâ fid-dunyâ wal âkhirah. Segala puji bagi Allah yang memerintahkan kita untuk bertakwa dan menjadikannya sebagai bekal keselamatan di dunia dan akhirat.
Jamaah yang dirahmati Allah, Takwa bukan ibadah musiman. Takwa harus dijaga secara konsisten hingga akhir hayat. Jangan sampai semangat ibadah hanya hidup di bulan Ramadhan, lalu padam setelahnya. Orang yang bertakwa adalah mereka yang istiqamah dalam ketaatan, baik dalam keadaan lapang maupun sempit.
Marilah kita jadikan puasa sebagai titik balik untuk memperbaiki diri. Perbaiki shalat kita. Perkuat akhlak kita. Pererat kepedulian sosial kita. Dengan demikian, Ramadhan benar-benar melahirkan pribadi yang bertakwa dan bermanfaat bagi sesama.
Doa
Allahummaghfir lil muslimîna wal muslimât, wal mu’minîna wal mu’minât, al-ahya’i minhum wal amwât. Allâhumma taqabbal shiyâmanâ wa qiyâmanâ, waj‘alnâ min ‘ibâdikal muttaqîn. Rabbana âtinâ fid-dunyâ hasanah wa fil-âkhirati hasanah wa qinâ ‘adzâban nâr.
Amin ya Rabbal ‘alamin.
Advertisement
Ramadhan Bulan Al-Qur’an
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4769102/original/014075000_1710171937-20240311-Taraweh_Pertama_di_Istiqlal-ANG_1.jpg)
Khutbah Pertama
Pembukaan
Alhamdulillâhi rabbil ‘âlamîn. Segala puji bagi Allah Swt. yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup bagi seluruh manusia. Al-Qur’an menjadi cahaya bagi hati, penuntun langkah, dan pembeda antara yang benar dan yang salah.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw., nabi yang membawa rahmat bagi seluruh alam, yang membimbing umatnya dengan Al-Qur’an dan teladan akhlak yang mulia.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt. dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan itulah bekal terbaik kita dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat.
Isi Khutbah
Hadirin yang dimuliakan Allah, Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa. Pada bulan inilah Allah menurunkan mukjizat terbesar bagi umat manusia, yaitu Al-Qur’an. Al-Qur’an bukan hanya kitab suci untuk dibaca, tetapi pedoman hidup yang mengatur akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah.
Allah Swt. berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ
“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.” (QS. Al-Baqarah: 185).
Ayat ini mengingatkan kita bahwa Ramadhan dan Al-Qur’an memiliki hubungan yang sangat erat. Karena itu, Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an. Tidak cukup hanya membacanya, tetapi juga berusaha memahami maknanya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Al-Qur’an mengajarkan kejujuran, kesabaran, kasih sayang, dan keadilan. Jika nilai-nilai Al-Qur’an kita hidupkan dalam keluarga, masyarakat, dan pekerjaan, maka kehidupan akan menjadi lebih tenang dan penuh keberkahan.
Jamaah sekalian, Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai bulan untuk memperbaiki hubungan kita dengan Al-Qur’an. Luangkan waktu untuk membaca. Dengarkan dengan khusyuk. Renungkan pesan-pesannya. Lalu terapkan ajarannya dalam sikap dan perbuatan kita.
Khutbah Kedua
Alhamdulillâh, segala puji bagi Allah Swt. yang telah memberikan kita kesempatan bertemu kembali dengan bulan Ramadhan, bulan Al-Qur’an, bulan penuh ampunan dan rahmat.
Jamaah yang dirahmati Allah, Marilah kita jadikan Al-Qur’an sebagai imam dalam kehidupan kita. Jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam mengambil keputusan, sebagai pengingat saat kita lalai, dan sebagai penenang ketika hati gelisah.
Jangan biarkan Al-Qur’an hanya indah dilantunkan, tetapi sepi dari pengamalan. Semoga Ramadhan ini melahirkan pribadi-pribadi yang lebih cinta Al-Qur’an dan lebih taat kepada Allah Swt.
Doa
Allahummarhamnâ bil-Qur’ân, waj‘alhu lanâ imâman wa nûran wa hudan wa rahmah. Allâhumma ‘allimnâ minhu mâ jahilnâ, wadzakkirnâ minhu mâ nusînâ, warzuqnâ tilâwatahu ânâ’al-laili wa athrâfan-nahâr.
Amin yâ Rabbal ‘âlamîn.
Keutamaan Sedekah di Bulan Puasa
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5437364/original/025119000_1765250413-Muslimah_bersedekah__Pexels_.jpg)
Khutbah Pertama
Pembukaan
Alhamdulillâhi rabbil ‘âlamîn. Segala puji bagi Allah Swt., Sang Maha Pemberi rezeki, yang melimpahkan nikmat kepada kita tanpa henti. Nikmat iman, nikmat kesehatan, dan nikmat harta adalah karunia yang patut kita syukuri dengan ketaatan dan kepedulian kepada sesama.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad Saw., suri teladan terbaik dalam ibadah dan akhlak, yang mengajarkan kepada kita arti berbagi dan peduli terhadap orang lain.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Salah satu wujud ketakwaan itu adalah menggunakan harta yang kita miliki di jalan yang diridhai Allah.
Isi Khutbah
Hadirin yang dimuliakan Allah, Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh keberkahan. Pada bulan ini, setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya, termasuk amal sedekah. Sedekah di bulan puasa memiliki keutamaan yang sangat besar, karena dilakukan di saat banyak orang menahan diri dan belajar merasakan penderitaan sesama.
Rasulullah Saw. memberikan teladan yang luar biasa dalam hal kedermawanan. Dalam sebuah hadits disebutkan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ
“Rasulullah Saw. adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari).
Hadits ini mengajarkan kepada kita bahwa Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memperbanyak sedekah. Sedekah tidak harus menunggu kaya. Sedekah bisa berupa uang, makanan untuk berbuka, bantuan kepada tetangga, atau sekadar senyuman dan pertolongan yang tulus.
Sedekah tidak akan mengurangi harta. Justru sedekah membersihkan harta, menenangkan hati, dan mendatangkan keberkahan. Dengan sedekah, kita belajar bahwa rezeki yang kita miliki bukan hanya hak kita, tetapi juga ada hak orang lain di dalamnya.
Khutbah Kedua
Alhamdulillâh, segala puji bagi Allah Swt. yang telah memberikan kita kesempatan untuk meraih pahala besar di bulan Ramadhan.
Jamaah yang dirahmati Allah, Selain sedekah sunnah, di bulan Ramadhan kita juga diwajibkan untuk menunaikan zakat, baik zakat fitrah maupun zakat harta bagi yang mampu. Zakat adalah kewajiban yang menyempurnakan ibadah puasa kita. Zakat membersihkan jiwa dari sifat kikir dan membersihkan harta dari hak orang lain.
Marilah kita tunaikan zakat tepat waktu dan sesuai ketentuan. Semoga zakat dan sedekah yang kita keluarkan menjadi sebab diterimanya puasa dan diampuninya dosa-dosa kita.
Doa
Rabbana âtinâ fid-dunyâ hasanah, wa fil-âkhirati hasanah, wa qinâ ‘adzâban nâr.
Allâhumma barik lanâ fî amwâlinâ, waj‘alnâ min ‘ibâdikal mutashaddiqîn.
Amin yâ Rabbal ‘âlamîn.
Advertisement
Meraih Ampunan di Malam Lailatul Qadar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4009177/original/025105400_1651103102-AP22117764798936.jpg)
Khutbah Pertama
Pembukaan
Alhamdulillâhi rabbil ‘âlamîn. Segala puji bagi Allah Swt. yang masih memberikan kita nikmat iman, kesehatan, dan umur panjang, sehingga kita dipertemukan kembali dengan sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Malam-malam yang penuh keutamaan, rahmat, dan ampunan.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Saw., keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang setia mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt. dengan sebenar-benarnya takwa. Ketakwaan yang diwujudkan dengan memperbanyak ibadah, memperbaiki akhlak, dan menjauhi segala larangan-Nya.
Isi Khutbah
Hadirin yang dimuliakan Allah, Sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah waktu yang sangat istimewa. Pada malam-malam inilah terdapat satu malam yang sangat mulia, yaitu malam Lailatul Qadar. Malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.
Allah Swt. berfirman:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3).
Seribu bulan setara dengan lebih dari delapan puluh tahun. Artinya, ibadah yang kita lakukan pada malam Lailatul Qadar pahalanya lebih besar daripada ibadah seumur hidup. Ini adalah kesempatan luar biasa yang Allah berikan kepada umat Nabi Muhammad Saw.
Rasulullah Saw. mengajarkan kepada kita untuk bersungguh-sungguh mencari Lailatul Qadar, terutama pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Pada malam-malam itu, kita dianjurkan memperbanyak shalat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa memohon ampunan.
Jamaah sekalian, Lailatul Qadar adalah malam pengampunan dosa. Barang siapa yang menghidupkannya dengan iman dan penuh harap kepada Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Karena itu, jangan sia-siakan malam-malam berharga ini dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.
Khutbah Kedua
Alhamdulillâh, segala puji bagi Allah Swt. yang membuka pintu ampunan-Nya seluas-luasnya di bulan Ramadhan.
Jamaah yang dirahmati Allah, Memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan, Rasulullah Saw. mencontohkan kepada kita untuk lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah. Beliau mengencangkan ikat pinggang, memperbanyak ibadah, dan membangunkan keluarganya. Salah satu amalan yang dianjurkan adalah i‘tikaf di masjid, agar hati lebih fokus mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Mari kita manfaatkan sisa Ramadhan ini sebaik mungkin. Perbanyak istighfar. Perbanyak doa. Mohon kepada Allah agar kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mendapatkan Lailatul Qadar dan ampunan-Nya.
Doa
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘annâ. Allâhumma taqabbal shiyâmanâ wa qiyâmanâ, waghfir lanâ dzunûbanâ, waj‘alnâ min ‘itqâika minan nâr.
Rabbana âtinâ fid-dunyâ hasanah, wa fil-âkhirati hasanah, wa qinâ ‘adzâban nâr.
Amin yâ Rabbal ‘âlamîn.
Menjaga Lisan dan Akhlak Saat Puasa
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5167512/original/057794200_1742359182-eid-al-fitr-concept-with-arab-food-friends.jpg)
Khutbah Pertama
Pembukaan
Alhamdulillâhi rabbil ‘âlamîn. Segala puji bagi Allah Swt. yang telah memberikan kita nikmat iman dan Islam, serta kesempatan untuk kembali menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Saw., suri teladan terbaik dalam menjaga lisan, akhlak, dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt. Ketakwaan tidak hanya tampak dalam ibadah ritual, tetapi juga tercermin dalam akhlak kita di hadapan manusia dan di hadapan Allah.
Isi Khutbah
Hadirin yang dimuliakan Allah, Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Puasa juga melatih kita untuk menahan diri dari segala perbuatan dan perkataan yang tidak diridhai Allah, terutama menjaga lisan.
Sering kali puasa kita menjadi sia-sia karena lisan yang tidak terjaga. Masih gemar berbohong, berkata kasar, mencela, menggunjing, dan menyakiti perasaan orang lain. Padahal, semua itu dapat menghapus nilai puasa yang kita jalani.
Rasulullah Saw. bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari).
Hadits ini mengingatkan kita bahwa inti puasa adalah memperbaiki diri. Lisan adalah cermin hati. Jika lisan kita baik, insyaallah hati kita pun akan ikut baik. Sebaliknya, jika lisan dibiarkan bebas menyakiti orang lain, maka puasa kehilangan maknanya.
Jamaah sekalian, Menjaga lisan memang tidak mudah. Namun, Ramadhan adalah waktu terbaik untuk melatih diri. Jika kita mampu menahan lapar dan haus, seharusnya kita juga mampu menahan kata-kata yang tidak bermanfaat.
Khutbah Kedua
Alhamdulillâh, segala puji bagi Allah Swt. yang senantiasa membuka pintu perbaikan diri bagi hamba-hamba-Nya.
Jamaah yang dirahmati Allah, Marilah kita jadikan puasa sebagai perisai yang melindungi diri kita dari sifat-sifat tercela. Puasa harus membentuk pribadi yang lebih sabar, lebih santun, dan lebih bijak dalam berbicara serta bertindak.
Biasakan berkata jujur. Pilih diam jika ucapan berpotensi menyakiti. Tebarkan kata-kata yang menenangkan dan menyejukkan. Semoga setelah Ramadhan berlalu, akhlak baik ini tetap melekat dalam diri kita.
Doa
Allahumma ashlih lanâ dînanalladzî huwa ‘ishmatu amrinâ, wa ashlih lanâ dunyânallatî fîhâ ma‘âsyunâ, wa ashlih lanâ âkhiratanallatî ilaihâ ma‘âdunâ.
Allâhumma ihdinâ li ahsânil akhlâq, lâ yahdî li ahsânihâ illâ anta.
Amin yâ Rabbal ‘âlamîn.
Advertisement
FAQ Seputar Khutbah Jumat Bulan Ramadhan
Apa saja rukun sah dalam khutbah jumat bulan ramadhan?
Rukun sah meliputi membaca hamdalah, shalawat kepada Nabi, wasiat takwa, membaca satu ayat Al-Qur'an pada salah satu khutbah, dan berdoa bagi umat Muslim pada khutbah kedua.
Bolehkah tema khutbah jumat bulan ramadhan tidak membahas puasa?
Boleh saja, namun sangat dianjurkan mengangkat tema yang relevan dengan momentum Ramadhan agar jamaah mendapatkan bimbingan praktis dalam memaksimalkan ibadah di bulan tersebut.
Bagaimana durasi khutbah jumat bulan ramadhan yang baik?
Sesuai sunnah, khutbah sebaiknya singkat namun padat (sekitar 10-15 menit) agar tidak memberatkan jamaah yang sedang menjalankan ibadah puasa dan menahan dahaga.
Siapa yang berhak menyusun teks khutbah jumat bulan ramadhan?
Teks dapat disusun oleh khatib sendiri, mengutip dari kitab ulama, atau menggunakan naskah resmi dari lembaga keagamaan seperti Kemenag, MUI, atau organisasi Islam lainnya.
Mengapa khutbah jumat bulan ramadhan penting bagi jamaah?
Karena khutbah tersebut berfungsi sebagai pengingat mingguan yang menjaga momentum semangat ibadah (iman booster) agar tidak kendor di tengah bulan Ramadhan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471521/original/041151500_1782374656-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3968655/original/065769700_1647752951-presiden_ukraina_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8472796/original/057767300_1782376694-cek_fakta_BPS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3226358/original/037478600_1599037074-20200901-BPS-Lakukan-Sensus-Penduduk-Secara-Tatap-Muka-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/2608262/original/030108300_1666512422-pexels-ibrahim-hasan-3944317.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4896192/original/028890500_1721390967-WhatsApp_Image_2024-07-19_at_14.25.09.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3428249/original/078718400_1618374148-053339400_1559536727-iStock-1134972492.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812277/original/052062800_1684314288-Beach_life.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262546/original/008930600_1781836184-063_2282273523.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8411046/original/046902000_1782294947-000_B83G9YJ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263356/original/061813100_1781903816-AP26170714954300-Amerika_Serikat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8450010/original/046935500_1782346255-063_2283182603.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8442423/original/051297200_1782335693-063_2283164257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8458114/original/001317800_1782356893-000_B88W362.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259075/original/006227600_1781447167-Turki_vs_Australia-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8459088/original/096988900_1782358208-000_B88W3AA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8458112/original/030524500_1782356891-000_B88U3NH.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259033/original/064642600_1781436681-000_B6Z637Y.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8450278/original/065503300_1782346556-vini.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1619105/original/061499300_1496997418-ramadan-main.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4314861/original/012980000_1675661791-rade-nugroho-rlj3VznKap0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5427523/original/002823900_1764393481-1000100028.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2815541/original/062443200_1558775153-iStock-698697244.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5534796/original/005967200_1773893358-unnamed__8_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5534795/original/014528000_1773892938-khutbah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3121589/original/054389800_1588827933-3482841.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540376/original/062198200_1774719387-Kondisi_arus_balik_di_Pelabuhan_Merak_Banten.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4403008/original/008750000_1681991372-20230420-Pemantauan-Hilal-Iqbal-7.jpg)