Liputan6.com, Jakarta - Dalam tradisi Islam di Nusantara, berbagai bentuk selawat menjadi wujud nyata cinta umat kepada Nabi Muhammad SAW. Salah satu yang menonjol dan unik adalah Sholawat Nasabe Kanjeng Nabi, yang menggunakan bahasa Jawa sebagai medium penyampaiannya. Tidak hanya berisi pujian, sholawat ini juga memuat silsilah Nabi Muhammad SAW secara lengkap — mulai dari orang tua, istri, hingga keturunannya.
Menariknya, sholawat ini tidak hanya dianggap sebagai lantunan doa, tetapi juga sebagai sarana pendidikan spiritual dan sejarah. Masyarakat Jawa memandangnya sebagai cara yang lembut dan bermakna untuk mengenalkan Rasulullah kepada generasi muda melalui bahasa dan budaya mereka sendiri. Dalam setiap baitnya tersirat nilai-nilai kasih sayang, keteladanan, serta pengingat akan pentingnya mengenal asal-usul Nabi sebagai bentuk penghormatan kepada beliau.
Asal-usul di Balik Sholawat Nasabe Kanjeng Nabi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5400640/original/079783300_1762143236-ilustrasi_tangan_berdoa.jpg)
Sholawat Nasabe Kanjeng Nabi diyakini muncul dari tradisi masyarakat Jawa yang sangat menghormati Rasulullah. Kata “nasabe” berasal dari kata “nasab” yang berarti garis keturunan atau silsilah keluarga. Di dalamnya terkandung semangat untuk mengenal Nabi Muhammad SAW secara lebih mendalam, bukan hanya sebagai Rasul tetapi juga sebagai manusia dengan ikatan keluarga yang mulia.
Berbeda dari selawat Arab seperti Sholawat Nariyah atau Tibbil Qulub, Nasabe Kanjeng Nabi memiliki ciri khas lokal yang sangat kental. Liriknya menggunakan bahasa Jawa halus dengan pola tembang yang menenangkan, menciptakan kesan sakral dan penuh penghormatan. Inilah sebabnya mengapa sholawat ini sering dilantunkan dalam acara keagamaan, pengajian, serta peringatan Maulid Nabi di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Selain nilai historis, sholawat ini juga memiliki dimensi spiritual dan filosofis yang dalam. Melalui lirik-liriknya, umat diingatkan tentang pentingnya menjaga silaturahmi, menghormati leluhur, dan meneladani sifat-sifat Rasul. Dalam konteks budaya Jawa, penghormatan kepada leluhur merupakan nilai luhur yang kini terwujud dalam bentuk penghormatan kepada keluarga Rasulullah SAW melalui lantunan doa dan pujian.
Advertisement
Lirik Nasabe Kanjeng Nabi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5408654/original/040562100_1762829688-dab4569c-7974-4797-9cba-b1cbe8c1c441.png)
Sholawat ini dibuka dengan kalimat pujian yang sangat populer di kalangan umat Islam:
Sholatulloh salamulloh ‘Ala Thoha Rosulillah,
Sholatulloh salamulloh ‘Ala Yasin Habibillah.
Kalimat tersebut bermakna “Semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepada Nabi Thoha, Rasulullah; semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepada Yasin, kekasih Allah.” Setelah bait pembuka itu, sholawat ini berlanjut dengan penggambaran silsilah Nabi Muhammad SAW secara berurutan:
Kanjeng Nabi Muhammad dilahir ning Makkah dino isenen rolas Maulud Tahun Gajah,
Ibune Siti Aminah, Ramane Sayyid Abdullah, garwane Siti Khadijah lan Siti ‘Aisyah.
Lirik tersebut menegaskan bahwa Nabi lahir di Makkah pada hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awal, yang dikenal sebagai Tahun Gajah. Lalu disebutkan nama ibu beliau, Siti Aminah, serta ayahnya, Sayyid Abdullah. Tak lupa, sholawat ini juga menyebutkan istri-istri Nabi seperti Siti Khadijah dan Siti Aisyah, serta istri lainnya seperti Siti Hafsoh, Siti Saudah, Siti Romlah, dan Siti Maimunah.
Bait berikutnya menyebutkan nama anak-anak beliau:
Yen putrane Sayyid Ibrahim, Sayyid Qosim, Sayyid Abdullah, Ummi Kultsum, Siti Zaenab, Ruqoyyah, Siti Fatimah.
Kemudian dilanjutkan dengan penyebutan paman-paman Nabi seperti Hamzah dan Abbas, serta menantu beliau, yaitu Ali bin Abi Thalib. Bahkan disebut pula Abdul Muthalib sebagai kakek Nabi dan Hasyim sebagai leluhur beliau.
Rangkaian lirik ini bukan hanya memperkenalkan silsilah Nabi, tetapi juga menunjukkan bagaimana kasih dan doa umat Islam mengalir melalui setiap nama keluarga beliau. Dengan irama Jawa yang lembut dan penuh ketenangan, lirik ini sering kali menimbulkan rasa haru dan rindu kepada Rasulullah.
Berikut lirik lengkap Nasabe Kanjeng Nabi:
Sholatulloh salamulloh
'Ala Thoha Rosulillah
Sholatulloh salamulloh
'Ala Yasin Habibillah
Kanjeng Nabi Muhammad dilahirke ono ing Mekah
Dina Isnain rolas maulud
Tahune tahun gajah (2x)
Ibune Siti Aminah ramane Sayyid Abdullah
Garwone Siti Khodijah
Karo Siti 'Aisyah (2x)
Sholatulloh salamulloh
'Ala Thoha Rosulillah
Sholatulloh salamulloh
'Ala Yasin Habibillah
Siti Hafshah Siti Saudah
Siti Romlah Siti Maimunah
Hindun Zainab Siti Shofiyyah
lan Siti Juwairiyyah (2x)
Iki putrane Sayyid Ibrohim
Sayyid Qosim Sayyid Abdulloh
Ummi Kultsum Siti Zainab
Ruqayyah Siti Fatimah (2x)
Sholatulloh salamulloh
'Ala Thoha Rosulillah
Sholatulloh salamulloh
'Ala Yasin Habibillah
Hamzah Abbas iku pamane
Utsman Ali iku mantune
Abu Bakar Umar moro sepuhe
Madinah hijrah kubure (2x)
Hasan Husain iku putune
Abu Tholib iku pamane
Abdul Mutholib iku simbahe
Shofiyyah iku bibi'e (2x)
Sayyid Hasyim iku buyute
Abdul Manaf iku canggahe
Sayyid Qushayy iku warenge
Kilab udheg udheg siwure (2x)
Sholatulloh salamulloh
'Ala Thoha Rosulillah
Sholatulloh salamulloh
'Ala Yasin Habibillah
Makna dan Nilai Spiritual di Balik Lirik Sholawat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5402343/original/037345800_1762244580-Sholawat_di_Masjid.jpg)
Setiap bait dari Nasabe Kanjeng Nabi membawa makna yang sangat dalam. Pertama, lirik pembuka menunjukkan kecintaan dan penghormatan kepada Rasulullah SAW. Kalimat “Sholatulloh salamulloh” menjadi bentuk doa agar Allah senantiasa melimpahkan rahmat kepada Nabi.
Kedua, penyebutan silsilah Nabi memiliki nilai edukatif dan spiritual. Dengan mengenal nasab Rasul, umat Muslim diingatkan bahwa beliau berasal dari garis keturunan yang suci dan penuh keteladanan. Ayah dan ibu Nabi adalah pribadi yang jujur dan mulia; begitu pula leluhur beliau yang dikenal sebagai penjaga Ka’bah dan pelindung nilai-nilai kemanusiaan.
Ketiga, makna sholawat ini juga menegaskan pentingnya meneladani kehidupan keluarga Rasul. Dalam tradisi Islam, keluarga Nabi (Ahlul Bait) memiliki kedudukan yang sangat dimuliakan. Melalui lirik-lirik ini, umat diharapkan dapat mengambil pelajaran dari kesabaran Siti Khadijah, kelembutan Siti Fatimah, dan keteguhan Sayyidina Ali.
Selain aspek spiritual, Nasabe Kanjeng Nabi juga menanamkan nilai sosial. Dalam kehidupan masyarakat Jawa, konsep “nguri-uri kabecikan” (melestarikan kebaikan) sangat dijunjung tinggi. Dengan melantunkan sholawat ini, umat seakan diajak untuk menjaga warisan moral dan akhlak mulia sebagaimana yang diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW dan keluarganya.
Advertisement
Keutamaan Melantunkan Sholawat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5382022/original/048339900_1760524874-Sholawat_dan_Berdzikir.jpg)
Membaca dan mengamalkan Nasabe Kanjeng Nabi memiliki berbagai keutamaan yang diyakini oleh para ulama dan ahli hikmah. Pertama, mendekatkan diri kepada Rasulullah SAW. Setiap kali sholawat dilantunkan, nama Nabi disebut dengan penuh rasa cinta, sehingga menjadi penghubung antara umat dan Nabinya.
Kedua, sholawat ini dipercaya mendatangkan ketenangan batin dan keberkahan dalam kehidupan. Banyak jamaah yang merasa hatinya lebih tenang setelah membaca Nasabe Kanjeng Nabi, karena setiap baitnya merupakan doa dan pujian yang tulus.
Ketiga, dari sisi pendidikan, sholawat ini berfungsi sebagai media pembelajaran sejarah Islam. Generasi muda yang mendengarnya akan mengenal keluarga Rasul tanpa harus membaca kitab panjang. Dengan gaya bahasa Jawa yang akrab, pesan moralnya dapat diterima lebih mudah oleh masyarakat setempat.
Keutamaan lainnya adalah menumbuhkan rasa cinta dan hormat kepada keluarga Nabi. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah bersabda, “Barang siapa mencintaiku, maka hendaklah ia mencintai keluargaku.” Dengan mengenal dan mendoakan Ahlul Bait melalui sholawat ini, umat Islam telah mengamalkan ajaran tersebut dengan cara yang indah dan bermakna.
Pertanyaan dan Jawaban
Q: Apa arti dari “Nasabe Kanjeng Nabi”?
A: “Nasabe” berarti silsilah atau keturunan. Sholawat ini menggambarkan garis keturunan Nabi Muhammad SAW dari leluhur hingga cucunya.
Q: Apa tujuan dari membaca sholawat ini?
A: Selain sebagai bentuk pujian kepada Rasul, sholawat ini mengajarkan sejarah keluarga Nabi dan menumbuhkan rasa cinta kepada beliau.
Q: Mengapa menggunakan bahasa Jawa?
A: Karena diciptakan oleh ulama Jawa untuk menjembatani budaya lokal dan nilai Islam agar lebih mudah diterima masyarakat setempat.
Q: Apakah sholawat ini memiliki keutamaan khusus?
A: Ya, membaca Nasabe Kanjeng Nabi dipercaya membawa ketenangan hati, memperkuat cinta kepada Rasul, serta memperbanyak pahala selawat kepada Nabi.
Q: Kapan biasanya dilantunkan?
A: Biasanya pada acara keagamaan seperti Maulid Nabi, pengajian, tahlilan, atau kegiatan pesantren di Jawa.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4919749/original/034086800_1723781524-000_36EC7XK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8208033/original/056349800_1781066890-063_2280813255.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3267613/original/079814300_1602679710-Kejahatan_Siber.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471519/original/070085400_1782374653-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3807195/original/039082200_1737508382-16080137_red_bokeh_lights_background_1305.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5454658/original/097042400_1766566733-Gemini_Generated_Image_pl437fpl437fpl43.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1860538/original/012031000_1557478700-IMG_20190307_174224_257.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260379/original/084688000_1781589230-tj_verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259296/original/035877100_1781495343-_____________FIFAWorldCup.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8621898/original/023575700_1782614127-063_2283622576.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540345/original/069396100_1774710516-jerman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560764/original/057361200_1782508647-000_B8GJ8DG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8618866/original/035352900_1782607831-063_2283624619.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5243047/original/051478600_1749093312-AP25155771563061.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3529388/original/056973400_1627972342-000_9767F7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260382/original/054470700_1781590662-063_2281748273.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261539/original/051141200_1781743137-IMG-20260618-WA0008.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625922/original/005183100_1782620553-063_2283651686.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625483/original/070181900_1782619556-000_B8K37NR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578218/original/043626100_1782536515-Fyq4bXXn1T50XXKM61qkf7VNO2GT7lL1Po9x1gp1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4449837/original/055086300_1685614290-WhatsApp_Image_2023-06-01_at_17.06.22.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5402935/original/045204600_1762311893-priest-holding-holy-book-bracelet.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5397187/original/001577400_1761803406-ilustrasi_berdzikir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5386573/original/090419000_1761016022-sholawat_waqtu_sahar.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5503960/original/063186300_1771217350-unnamed.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5417717/original/026810000_1763544372-Ilustrasi_Sholawat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5400640/original/079783300_1762143236-ilustrasi_tangan_berdoa.jpg)