Rukun Yamani: Makna serta Adab dan Etika Menyentuhnya

Rukun Yamani menjadi titik tawaf penuh makna, tempat jemaah merasakan ketenangan batin dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW dalam setiap langkahnya.

Diterbitkan 25 November 2025, 18:38 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Salah satu momen paling berkesan bagi jemaah haji dan umrah adalah saat menyentuh sudut barat daya Ka’bah yang dikenal dengan sebutan Rukun Yamani. Letak Rukun Yamani sejajar dengan arah Yaman, dan di situlah banyak hati merasa tersentuh oleh keheningan spiritual yang tak tergambarkan. Banyak jemaah juga melafalkan doa untuk anak, doa keberkahan rumah tangga, atau doa pembuka rezeki saat berada di titik ini, menambah makna setiap langkah ibadah mereka.

Rasulullah Muhammad SAW dikenal tidak pernah melewati bagian ini tanpa menyentuhnya. Menariknya, bagi sebagian jemaah, momen itu bukan hanya sekadar bagian dari rangkaian tawaf, melainkan pengalaman batin yang menenangkan dan penuh makna. Rukun Yamani mengajarkan bahwa setiap gerak dan doa di sekitar Ka’bah, termasuk doa keluar rumah atau doa penenang hati, adalah bentuk komunikasi dengan Allah, Sang Pemilik Segala Harapan.

Letak dan Sejarah Rukun Yamani

Ka’bah memiliki empat sudut utama, masing-masing disebut dengan istilah “rukun”. Kempat sudut tersebut yakni:

  • Rukun Hajar Aswad terletak di tenggara,
  • Rukun ‘Iraqi di timur laut,
  • Rukun Syami di barat laut,
  • Rukun Yamani berada di barat daya, mengarah ke negeri Yaman.

Nama “Yamani” berasal dari arah tersebut. Menurut para ahli sejarah Islam, bagian ini termasuk pondasi asli yang dibangun oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Oleh karena itu, nilai sejarah Rukun Yamani dianggap lebih tua dibanding dua sudut lainnya.

Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan Abdullah bin Umar RA disebutkan:

لَمْ أَرَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَلِمُ مِنَ الْبَيْتِ إِلَّا الرُّكْنَيْنِ الْيَمَانِيَّيْنِ

Lam ara Rasūlallāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam yastalimu minal-bayti illā ar-ruknain al-yamāniyyain

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah Muhammad SAW menyentuh bagian dari Ka’bah kecuali dua rukun Yamani, yaitu Rukun Yamani dan Hajar Aswad.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan perhatian khusus Nabi terhadap dua sudut suci tersebut. Dari sinilah ulama menyimpulkan bahwa hanya Rukun Yamani dan Hajar Aswad yang disunnahkan untuk disentuh saat thawaf.

Adab Menyentuh Rukun Yamani

Saat melewati Rukun Yamani, disunnahkan menyentuhnya dengan tangan kanan tanpa mencium atau mengucapkan takbir. Apabila jemaah tidak bisa mendekat karena padatnya kerumunan, cukup melewatinya.

Abdullah bin Umar RA berkata:

مَا تَرَكْتُ اسْتِلَامَ هَذَيْنِ الرُّكْنَيْنِ الْيَمَانِيَّ، وَالْحَجَرَ، مُذْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَلِمُهُمَا، فِي شِدَّةٍ وَلَا رَخَاءٍ

Mā taraktu istilāma hadzainir-ruknainil-yamāni wal-ḥajar, mundz ra’aytu Rasūlallāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam yastalimuhumā fī syiddatin walā rakhā’

“Aku tidak pernah meninggalkan kebiasaan mengusap dua rukun (Rukun Yamani dan Hajar Aswad) sejak melihat Rasulullah Muhammad SAW melakukannya, baik dalam keadaan sulit maupun lapang.” (HR. Muslim)

Dari teladan ini, umat Islam belajar tentang keteguhan dan kesungguhan menjaga sunnah Nabi Muhammad SAW. Menyentuh Rukun Yamani tidak hanya simbol ibadah, tetapi juga bentuk penghormatan, cinta, dan ketaatan.

Doa Mustajab antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad

Di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan doa yang sangat indah yakni doa yang merangkum permohonan dunia dan akhirat sekaligus:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Rabbanaa ātinā fid-dunyā ḥasanah, wa fil-ākhirati ḥasanah, wa qinā ‘adzāban-nār

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201)

Doa singkat ini mencerminkan keseimbangan hidup seorang muslim. Doa ini tidak hanya meminta rezeki dan keberuntungan duniawi, tetapi juga keselamatan dan keberkahan akhirat. Banyak jemaah menjadikannya waktu terbaik untuk memanjatkan doa pembuka rezeki, doa untuk anak, doa minta kesembuhan, hingga doa penenang hati.

Keutamaan Menyentuh Rukun Yamani

Dalam beberapa hadis, Rasulullah Muhammad SAW menegaskan betapa besar keutamaan mengusap dua sudut suci Ka’bah ini:

مَسْحُ الْحَجَرِ وَالرُّكْنِ الْيَمَانِيِّ يَحُطُّ الْخَطَايَا حَطًّا

Masḥul-ḥajari war-ruknil-yamāni yaḥuthu al-khaṭāyā ḥaththā

“Mengusap Hajar Aswad dan Rukun Yamani dapat menggugurkan dosa-dosa.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, Thabrani)

Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa di Rukun Yamani terdapat malaikat yang selalu mengucapkan “Amin” atas setiap doa jemaah yang lewat. Oleh karena itu, para sahabat Nabi seperti Umar bin Khattab, Ibnu Abbas, dan Abu Hurairah tidak pernah meninggalkan amalan ini.

Bagi sebagian jemaah, menyentuh Rukun Yamani terasa seperti momen penghapus beban hidup. Di tengah putaran tawaf, saat tangan menyentuh batu yang pernah disentuh jutaan manusia beriman, terasa seolah Allah sedang mendengarkan setiap bisikan doa, entah itu doa keberkahan rumah tangga, doa sebelum bekerja, atau doa husnul khatimah.

Makna Spiritual dan Psikologis di Balik Rukun Yamani

Menyentuh Rukun Yamani tidak hanya ibadah lahiriah, tetapi juga bentuk refleksi batin. Banyak jemaah menggambarkannya sebagai momen di mana hati benar-benar hening dan damai, seolah dunia berhenti sejenak di hadapan keagungan Allah.

Beberapa makna yang bisa direnungkan dari amalan ini yakni:

1. Simbol Melepaskan Dosa dan Penyesalan

Setiap usapan di Rukun Yamani adalah simbol pengakuan diri dan upaya melepaskan beban dosa. Dalam psikologi modern, hal ini disebut self-forgiveness atau kemampuan memaafkan diri untuk memulai lembaran baru.

2. Menumbuhkan Ketenangan Hati

Gerakan thawaf yang berulang menciptakan efek meditatif. Ketika disertai doa seperti doa keluar rumah atau doa setelah adzan, jiwa terasa lebih tenang dan fokus. Perasaan ini dapat membantu seseorang menghadapi hidup dengan lebih sabar.

3. Menguatkan Ikatan Spiritual

Menyadari bahwa Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat juga melakukan hal yang sama membangun rasa keterhubungan lintas zaman. Hal ini menumbuhkan rasa kebersamaan dan solidaritas umat Islam di seluruh dunia.

4. Menjaga Keseimbangan Hidup

Doa “Rabbanaa ātinā fid-dunyā ḥasanah…” mengajarkan agar manusia tidak hanya mengejar dunia, tetapi juga mempersiapkan kehidupan di akhirat. Nilai keseimbangan ini sejalan dengan ajaran Islam dan psikologi positif: hidup yang baik adalah hidup yang seimbang.

5. Ruang Sunyi untuk Mendekat kepada Allah

Di tengah keramaian thawaf, menyentuh Rukun Yamani menjadi ruang pribadi untuk berbisik kepada Allah. Banyak jemaah menjadikan momen ini untuk berdoa memohon ampun, berbicara jujur kepada diri sendiri, dan memperbarui niat hidup.

Adab dan Etika saat Menyentuh Rukun Yamani

Para ulama menegaskan bahwa keselamatan jemaah harus selalu diutamakan. Tidak disunnahkan berdesak-desakan atau memaksakan diri hanya untuk menyentuh Rukun Yamani.

Jabir bin Zaid pernah berpesan:

“Janganlah kamu berdesak-desakan untuk mencapainya. Jika sedang longgar, sentuhlah. Namun jika ramai, maka lewatlah dengan tenang.”

Pesan sederhana ini menunjukkan bahwa ibadah sejati bukan hanya tentang fisik, tapi juga tentang sikap batin. Menyentuh Rukun Yamani seharusnya menjadi pengalaman yang penuh kelembutan dan kesadaran, bukan perlombaan.

Pertanyaan seputar Rukun Yamani

Apakah wanita boleh menyentuh Rukun Yamani?

Boleh, selama tidak menimbulkan fitnah atau bahaya. Aisyah RA tidak menganjurkan kaum wanita untuk berdesakan, tapi jika aman, mereka boleh menyentuh sambil tetap menjaga adab dan aurat.

Apa perbedaan Rukun Yamani dan Hajar Aswad?

Hajar Aswad disunnahkan untuk dicium atau disalami dengan isyarat bila tidak bisa mendekat. Sedangkan Rukun Yamani cukup disentuh dengan tangan kanan tanpa perlu isyarat dari jauh.

Apakah menyentuh Rukun Yamani bisa menghapus dosa?

Ya, sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih, menyentuh dua sudut itu (Hajar Aswad dan Rukun Yamani) dapat menggugurkan dosa kecil bila dilakukan dengan hati yang tulus dan penuh iman.