Liputan6.com, Jakarta Doa mencuci beras menjadi salah satu praktik keagamaan yang berkembang dalam tradisi Islam Nusantara. Dalam masyarakat Muslim Indonesia, aktivitas mencuci beras sering diawali dengan pembacaan doa, biasanya berupa basmalah atau doa meminta keberkahan rezeki.
Hal ini berdasar firman Allah SWT: "Maka makanlah dari rezeki yang diberikan Allah kepada kalian sebagai rezeki yang halal lagi baik, dan bersyukurlah atas nikmat Allah, jika hanya kepada-Nya kamu menyembah." (QS. An-Nahl: 114).
Advertisement
Di sisi lain, Rasulullah SAW memerintahkan agar umatnya berdoa tiap akan melakukan aktivitas. Rasulullah SAW bersabda: "Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah, maka terputus (tidak berkah)."(HR. Abu Dawud no. 4840, Ahmad no. 8724, dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2716).
Berikut ini adalah doa mencuci beras yang berkembang dalam tradisi Islam di Nusantara, sejalan dengan sunnahnya.
Doa Mencuci Beras
Tak ada ketentuan khusus doa mencuci beras yang tersurat dalam Al-Qur'an maupun hadis. Namun, para ulama menganjurkan agar segala sesuatu diawali dengan basmalah.
Berikut doa awal mencuci beras:
1. Basmalah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Latin: Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm
Artinya"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
Basmalah adalah lafaz pembuka yang sangat dianjurkan untuk dibaca sebelum memulai segala aktivitas baik, seperti makan, minum, belajar, bekerja, dan lain-lain, agar mendapat keberkahan dan perlindungan dari Allah SWT.
Dalam Kitab Al-Adzkar, Imam Nawawi menjelaskan bahwa membaca bismillaah sangat dianjurkan (mustahab) ketika hendak memulai semua aktivitas baik, seperti makan, minum, menulis, berpakaian, masuk rumah, keluar rumah, berwudhu, dan aktivitas sehari-hari lainnya. Tujuannya adalah untuk mencari keberkahan, perlindungan, dan pertolongan dari Allah SWT dalam setiap perbuatan yang dilakukan.
“Disunnahkan untuk membaca bismillaah pada setiap pekerjaan yang baik, seperti makan, minum, menyembelih, mandi, wudhu, mencuci pakaian, dan pekerjaan-pekerjaan lainnya.” (Al-Adzkar, Imam Nawawi, Bab Dzikir Ketika Memulai Suatu Pekerjaan).
Advertisement
Doa Memohon Keberkahan Makanan
Berikut adalah doa keberkahan makanan yang diajarkan dalam Islam:
اللّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Latin: Allahumma barik lana fima razaqtana waqina 'adzaban-nar
Artinya: "Ya Allah, berkahilah kami pada rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami dan jauhkanlah kami dari siksa neraka."
Doa ini diriwayatkan dalam beberapa kitab hadits, salah satunya dari Abdullah bin Abbas RA, Rasulullah SAW apabila selesai makan membaca doa: اللهم بارك لنا فيه وأطعمنا خيراً منه “Ya Allah, berkahilah makanan ini untuk kami dan berilah kami makanan yang lebih baik darinya.” > (HR. Tirmidzi no. 3455, Abu Dawud no. 3730)
Sedangkan lafaz yang lebih umum dan sering diajarkan adalah: اللهم بارك لنا فيما رزقتنا وقنا عذاب النار (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)
Sayyid Sabiq dalam Buku Fikih Sunnah menegaskan bahwa berdoa memohon keberkahan pada makanan adalah sunnah, dan boleh dilakukan sebelum, saat menyiapkan, maupun setelah makan.
Tidak ada larangan untuk memperluas makna doa ini pada aktivitas menyiapkan makanan, seperti mencuci beras, karena termasuk bagian dari proses mendapatkan makanan yang halal dan baik.
Membaca doa keberkahan makanan juga merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.
Doa Afiyah: Kesehatan dan Perlindungan Seluruh Keluarga
Nabi Muhammad SAW sangat menganjurkan umatnya untuk memohon ‘afiyah (kesehatan, keselamatan, dan perlindungan dari segala keburukan). Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah SAW adalah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
Latin: Allahumma inni as’aluka al-‘afwa wal-‘afiyah fid-dunya wal-akhirah
Artinya: “Ya Allah, aku memohon ampunan dan kesehatan/afiyah di dunia dan di akhirat.”(HR. Tirmidzi no. 3512, Ibnu Majah no. 3851, Ahmad no. 25137).
Lafal lebih lengkap:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي
Latin: Allahumma inni as’aluka al-‘afwa wal-‘afiyata fid-dunya wal-akhirah. Allahumma inni as’aluka al-‘afwa wal-‘afiyata fi dini wa dunyaya wa ahli wa mali. Allahummastur ‘awrati wa amin raw’ati. Allahumm-ahfazni min bayni yadayya wa min khalfi wa ‘an yamini wa ‘an shimali wa min fawqi, wa a’udzu bi ‘azhamatika an ughtala min tahti.
Artinya: "Ya Allah, aku memohon ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku memohon ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku dan tenangkanlah rasa takutku. Ya Allah, jagalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri, dan dari atasku. Aku berlindung dengan keagungan-Mu agar aku tidak disambar dari bawahku."
Doa ini bersumber dari hadits sahih yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan lainnya: Dari Ibnu Umar RA, beliau berkata:> Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan doa berikut pada pagi dan sore hari:>> اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي>> (HR. Abu Dawud no. 5074, Ibnu Majah no. 3871, An-Nasa’i dalam Al-Kubra no. 10407, Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud: sahih)
‘Afiyah artinya keselamatan, kesehatan lahir dan batin, perlindungan dari segala keburukan, baik dalam agama, dunia, keluarga, dan harta.Doa ini mencakup permohonan perlindungan menyeluruh: dari segala arah, dari kerusakan agama dan dunia, serta dari musibah yang tidak terlihat.Rasulullah SAW sangat menganjurkan membaca doa ini setiap pagi dan sore.
Doa afiyah ini adalah doa perlindungan yang sangat agung dan dianjurkan untuk dibaca setiap hari untuk memohon kesehatan, keselamatan, dan perlindungan bagi diri, keluarga, dan seluruh aspek kehidupan.
Kebolehan membaca afiah saat mencuci beras berdasar pandangan jumhur ulama. Dalam Syarh Riyadhus Shalihin, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menyatakan tidak mengapa membaca doa-doa kebaikan kapan saja dan di mana saja, selama tidak mengkhususkan waktu atau tempat tertentu tanpa dalil.
Sementara, Sayyid Sabiq dalam Fikih Sunnah menegaskan pentingnya berdoa dan berdzikir dalam setiap aktivitas, meski tidak ada doa khusus dari Nabi SAW untuk aktivitas tertentu seperti mencuci beras.
Advertisement
Doa Dijauhkan Keburukan
Doa lain yang berkembang di kalangan Islam Nusantara adalah doa berikut ini:
لَيْسَ لَهَا مِنْ دُونِ اللَّهِ كَاشِفَةٌ
Latin: Laisa lahaa min duunillahi kaasyifah
Artinya: "Tidak ada yang dapat menyingkapkannya (dalam beberapa redaksi lain diartikan 'Menyembuhkannya') selain Allah."
Kalimat ini adalah bagian dari Al-Qur’an surat An-Najm ayat 58:
عِندَ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍۢ لَّا يُجِيرُهَآ إِلَّا هُوَ، لَيْسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ كَاشِفَةٌ
Artinya: "Pada hari itu hanya Tuhanmu yang mengetahuinya. Tidak ada yang dapat menyingkapkannya selain Dia (Allah)."(QS. An-Najm: 58).
Ayat ini berbicara tentang hari kiamat dan segala perkara besar yang hanya Allah yang mengetahui waktunya dan mampu menyingkapkannya.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, Ibnu Katsir menjelaskan, tidak ada yang dapat menghilangkan atau menyingkap kesulitan dan bencana kecuali Allah semata, bukan selain-Nya, baik malaikat, nabi, maupun siapa pun”.
Dalam tradisi lokal (urf) dan kearifan budaya, terutama di Jawa, kalimat ini sering dilafalkan saat mencuci beras atau menyiapkan makanan. Biasanya, ini dilakukan oleh para ibu rumah tangga secara turun-temurun.
Dengan membaca ayat ini, diharapkan Allah-lah yang benar-benar membersihkan dan menyingkap segala keburukan atau bahaya yang ada pada beras/makanan, sehingga makanan yang dimasak menjadi bersih, sehat, dan berkah.
Tata Cara dan Adab Mencuci Beras
Para ulama menganjurkan kita adab dan doa dalam mencuci beras. Berikut ini adalah adab mencuci beras yang berkembang di Nusantara, merangkum berbagai sumber:
1. Basmallah
2. Menggunakan tangan kanan untuk membasuh beras
3. Aduk dengan arah berlawanan dengan arah jarum jam (seperti arah tawaf)
4. Membaca doa. Bisa membaca doa sebagaimana dicontohkan di atas
5. Boleh juga baca Asmaul Husna. " Yaa Latiif " 3x (يا لطيف)
6. Ulang basuhan selama 3x atau sampai bersih
7. Sholawat
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Latin: Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala aali sayyidina Muhammad
Artinya: "Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan kepada keluarga junjungan kami Nabi Muhammad."
8. Hamdalah
Advertisement
Kisah Ibunda Gus Dur Bersholawat saat Memilah Beras
Dikisahkan, ibunda presiden ke-4 Nyai Hj Sholichah selalu berdoa saat memilah beras, sebagaimana dikisahkan asisten pribadi Gus Dur, Ngatawi al-Zastrouw. Sebelum memulai proses memasak nasi, biasanya ibunda Gus Dur memilih dan memilah sendiri biji-biji beras dari karungnya, kemudian mengambil sedikit yang terbaik, lalu dipisahkan dari yang kebanyakan.
Sembari memunguti beras, ia melafalkan shalawat, sebutir demi sebutir dibasuhnya dengan lembut, hingga selesai. Setiap tahap, ia iringi dengan bacaan shalawat hingga periuk nasi pun siap untuk ditanak.
Tidak ada yang boleh menyentuh nasi yang mengandung shalawat itu selain ayah mertuanya Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari dan suaminya KH Wahid Hasyim. Selain untuk kedua orang yang ia hormati itu, ia juga menyajikannya untuk anak sulungnya Abdurrahman Ad-Dakhil.
"Bu Solichah betul-betul menshalawati beras itu, sebiji demi sebiji," seperti disampaikan ulang oleh Ustadz H Agus Himawan Al-Muayyad Surakarta, dikutip dari nu.or.id.
Tata Cara Mencuci Beras yang Bersih dan Tak Kehilangan Nutrisi
Berikut ini adalah tata cara mencuci beras secara sehat dan higienis berdasarkan hasil penelitian dalam jurnal “Pengaruh Frekuensi Pencucian Beras Terhadap Kadar Vitamin B1, Serat Kasar, dan Total Gula pada Nasi”, karya Chotimah dkk, UGM.
1. Pilih beras yang bersih dari kotoran kasar
Sebelum mencuci, saring atau buang batu, debu, jerami atau benda asing agar bebersih sejak awal.
2. Gunakan air bersih
Gunakan air mengalir yang bersih. Air harus aman, tidak tercemar mikroba atau bahan kimia.
3. Frekuensi pencucian: 2 kali cukup
- Berdasarkan penelitian, mencuci beras sebanyak 2 kali sudah cukup untuk membersihkan debu dan kotoran, serta tidak banyak mengurangi nutrisi (vitamin B1, serat) dibandingkan pencucian lebih banyak.
- Hindari mencuci beras berkali-kali hingga air benar-benar bening, karena hal tersebut dapat mengakibatkan hilangnya vitamin larut air dan nutrisi lainnya.
4. Teknik mencuci yang lembut
- Aduk atau gosok beras secara lembut, hindari tekanan kuat yang bisa merusak butiran beras sehingga bagian dalamnya (yang lebih kaya nutrisi) ikut larut.
- Jangan biarkan beras terlalu lama terendam sebelum mencuci, agar larutan nutrisi tidak banyak terlepas.
5. Ganti air setelah setiap pencucian
Setelah mencuci 1×, buang air cucian yang keruh lalu tambahkan air baru untuk pencucian berikutnya.
6. Drain (tiriskan) segera
Setelah selesai mencuci, tiriskan air sisa dengan baik agar tidak ada genangan air pada beras.
7. Segera masak setelah dicuci
Jangan membiarkan beras yang sudah dicuci lama dalam kondisi lembap, agar tidak terjadi kontaminasi mikroba.
8. Perhatikan kebersihan wadah & alat
Pastikan wadah, saringan, tangan, dan alat lain yang digunakan dalam proses mencuci beras dalam keadaan bersih untuk mencegah kontaminasi silang.
9. Praktik tambahan (opsional, jika diperlukan)
Jika beras tertutup debu atau pestisida, beberapa praktisi menyarankan perendaman singkat (misalnya 5–10 menit) sebelum pencucian, tapi hal ini harus dilakukan dengan hati-hati karena perendaman lama juga bisa memperbesar hilangnya nutrisi larut air.
Jika menggunakan teknik perendaman, disarankan airnya segera dibuang dan segera dilakukan pencucian.
Advertisement
People Also Ask
1. Apa yang dibaca saat mencuci beras?
Menggunakan tangan kanan ketika mencuci beras. Aduk berlawanan dari arah jarum, seperti melakukan tawaf. Dilanjutkan dengan membaca bacaan berikut ini: Laysa lahaa min duunillahi kaasyifah (Tidak ada penyembuh selain dari Allah). Atau juga bisa membaca Yaa Latiif sebanyak tiga kali.
2. Bagaimana cara mencuci beras yang benar?
Untuk mencuci beras dengan benar, tuangkan beras ke dalam wadah bersih, lalu bilas dengan air mengalir atau air matang, aduk perlahan, dan buang air keruh. Ulangi proses ini 2-3 kali hingga air bilasan relatif jernih tetapi tidak perlu sampai benar-benar bening, karena air yang terlalu jernih berarti vitamin dan mineral sudah banyak hilang.
3. Kenapa beras harus dicuci 3 kali?
Karena selain membersihkan kotoran, mencuci beras 2-3 kali cukup untuk mengurai kadar arsenik dan mengangkat pati berlebih pada beras.
4. Berapa kali membilas beras?
Beras umumnya disarankan untuk dibilas sebanyak dua hingga tiga kali saja sebelum dimasak, bukan sampai airnya benar-benar bening, karena mencuci terlalu sering atau terlalu lama dapat menghilangkan nutrisi penting seperti vitamin B dan pati yang bermanfaat. Proses mencuci ini juga membantu menghilangkan kotoran dan residu dari proses penggilingan beras.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8475678/original/062240100_1782386179-cek_fakta_bansos_PKH_-_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471521/original/041151500_1782374656-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3968655/original/065769700_1647752951-presiden_ukraina_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8472796/original/057767300_1782376694-cek_fakta_BPS.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812228/original/000972700_1538749244-foto_nanang_fahrudin.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264253/original/054046300_1782102358-uruguay.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8456333/original/005196400_1782354547-063_2282682114.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259250/original/045793700_1781492796-curacao.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263742/original/070388900_1781993920-063_2282542238.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8416187/original/088882300_1782301187-kane.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264262/original/083963700_1782102827-senegal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8309790/original/022314100_1782176318-000_B7XQ8ZR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028216/original/059069000_1732870090-logo_piala_dunia_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471172/original/087617600_1782374206-IMG-20260625-WA0035.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262546/original/008930600_1781836184-063_2282273523.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8411046/original/046902000_1782294947-000_B83G9YJ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263356/original/061813100_1781903816-AP26170714954300-Amerika_Serikat.jpg)