QS Maryam 4 adalah Potongan dari Doa Nabi Zakaria, Ini Bacaan Arab, Latin dan Terjemahnya

Bacaan surat Maryam ayat 4 dan juga maknanya yang merupakan bagian dari doa Nabi Zakaria AS.

Diterbitkan 05 Agustus 2025, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta QS Maryam 4 merupakan salah satu ayat yang sangat istimewa dalam Al-Quran karena mencerminkan doa yang tulus dari Nabi Zakaria AS kepada Allah SWT. Ayat ini menunjukkan bagaimana seorang nabi tetap rendah hati dan berserah diri di hadapan Allah meskipun dalam keadaan lemah dan tua.

Surat Maryam adalah surat ke-19 dalam Al-Quran yang dinamai berdasarkan nama Maryam, ibu dari Nabi Isa AS. QS Maryam 4 secara khusus menceritakan tentang doa Nabi Zakaria yang dipanjatkan dengan suara lirih dan penuh ketulusan. 

Melansir dari Learn Quran Tafsir, Nabi Zakaria adalah seorang nabi dari kaum Bani Israil yang dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan berprofesi sebagai tukang kayu. Suatu malam, beliau berdoa kepada Allah meminta agar dikaruniai anak meskipun istrinya sudah tua dan mandul. Berikut Liputan6.com ulas lengkapnya melansir dari berbagai sumber, Jumat (1/8/2025).

QS Maryam 4: Teks Arab, Latin, dan Terjemahan

QS Maryam 4 merupakan bagian dari doa panjang Nabi Zakaria yang diawali dengan pengakuan akan kelemahan fisiknya di usia senja. Ayat ini menjadi contoh sempurna bagaimana seorang hamba Allah berdoa dengan penuh kerendahan hati dan kepasrahan.

Berikut adalah teks lengkap QS Maryam 4 dalam bahasa Arab, latin, dan terjemahannya:

قَالَ رَبِّ اِنِّيْ وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّيْ وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَّلَمْ اَكُنْۢ بِدُعَاۤىِٕكَ رَبِّ شَقِيًّا

Qâla rabbi innî wahanal-'adhmu minnî wasyta'alar-ra'su syaibaw wa lam akum bidu'â'ika rabbi syaqiyyâ

Artinya: "Dia (Zakaria) berkata, 'Wahai Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah, kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku.'"

Dikutip dari Quran.com, Imam Qurthubi dalam tafsirnya menyebut bahwa Nabi Zakaria menyebutkan kelemahan dan kekurangan diri sendiri agar doanya untuk dikaruniai seorang anak laki-laki dan kelak meneruskan kenabiannya dapat dikabulkan Allah SWT.

Tafsir dan Makna Mendalam QS Maryam 4

Tafsir QS Maryam 4 memiliki makna yang sangat mendalam dan dapat dipahami melalui dua pendekatan utama, yaitu tafsir wajiz dan tafsir tahlili. Kedua tafsir ini memberikan pemahaman yang komprehensif tentang kandungan ayat tersebut.

Tafsir Wajiz QS Maryam 4

Tafsir wajiz menjelaskan bahwa ayat ini menceritakan peristiwa ketika Nabi Zakaria berdoa dengan santun dan suara lembut. Beliau berkata, "Ya Tuhanku Yang Maha Pengasih dan Maha Pemelihara, sungguh kini tulang belulangku telah menjadi lemah sehingga aku sering merasa letih dan rambut kepalaku telah memutih seperti perak karena dipenuhi uban, pertanda bahwa aku telah berusia senja." Meski demikian, Nabi Zakaria menegaskan bahwa ia tidak pernah putus asa dan belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Allah. 

Tafsir Tahlili QS Maryam 4

Tafsir tahlili memberikan penjelasan yang lebih detail tentang tiga alasan utama yang dikemukakan Nabi Zakaria dalam doanya. Pertama, beliau telah mencapai usia yang sangat tua yaitu hampir sembilan puluhan tahun dengan tulang-tulang yang sudah lemah dan kelemahan yang menyeluruh di seluruh tubuh.

Kedua, kepala beliau sudah penuh dengan uban yang menunjukkan usia senja. Ketiga, sepanjang hidupnya, Nabi Zakaria tidak pernah dikecewakan dalam berdoa kepada Allah sejak masa muda hingga usia tua.

Dari doa ini terlihat bahwa seorang nabi pun akan mendapatkan cobaan dan mengalami masa-masa ketika dirinya berada di titik terendah. Namun, umat Islam diajarkan melalui contoh Nabi Zakaria untuk terus berdoa kepada Allah dan tidak pernah berputus asa karena Allah pasti akan mengabulkan doa hamba-Nya.

Konteks Historis dan Latar Belakang QS Maryam 4

Untuk memahami Surah Maryam 4 secara utuh, penting untuk mengetahui konteks historis dan latar belakang turunnya ayat ini. Nabi Zakaria AS adalah seorang nabi yang hidup pada masa Bani Israil dan menjadi wali dari Maryam, ibu Nabi Isa AS.

Pada masa itu, Nabi Zakaria sudah mencapai usia yang sangat lanjut, diperkirakan sekitar 90 tahun. Kondisi fisiknya sudah sangat lemah dengan tulang-tulang yang rapuh dan rambut yang telah memutih semua. Meskipun demikian, beliau masih memiliki keinginan yang kuat untuk memiliki keturunan yang dapat meneruskan misi kenabian dan menjaga kesinambungan dakwah di kalangan Bani Israil.

Istri Nabi Zakaria juga sudah sangat tua dan dalam kondisi mandul, sehingga secara normal tidak mungkin lagi hamil dan melahirkan. Dalam kondisi yang tampaknya mustahil inilah, Nabi Zakaria tetap berdoa kepada Allah dengan penuh keyakinan. Beliau tidak menyerah pada keadaan dan tetap berharap kepada Allah yang Maha Kuasa.

Doa yang termuat dalam QS Maryam 4 ini merupakan bagian dari doa panjang yang dipanjatkan Nabi Zakaria di mihrab (tempat ibadah) pada malam hari dengan suara yang lirih. Dikutip dari Tafsir Ibnu Katsir, latar belakang doa ini juga berkaitan dengan kekhawatiran Nabi Zakaria terhadap kondisi keagamaan kaumnya setelah beliau wafat. Beliau menginginkan ada penerus yang dapat melanjutkan misi dakwah dan memelihara agama Allah di tengah-tengah Bani Israil yang sering menyimpang dari ajaran yang benar.

Keutamaan Membaca QS Maryam 4

Surah Maryam ayat 4 memiliki keutamaan khusus yang dipercaya oleh banyak umat Islam, terutama bagi mereka yang sedang mengharapkan keturunan atau dalam masa kehamilan. Keyakinan ini didasarkan pada kisah Nabi Zakaria yang akhirnya dikabulkan doanya oleh Allah dan dikaruniai seorang putra bernama Yahya.

Keutamaan pertama dari membaca QS Maryam 4 adalah sebagai wasilah atau perantara dalam berdoa untuk memohon keturunan. Banyak pasangan suami istri yang rutin membaca ayat ini dengan harapan Allah mengabulkan keinginan mereka untuk memiliki anak. Meskipun tidak ada dalil shahih yang secara spesifik menyebutkan keutamaan ini, namun mengambil teladan dari doa Nabi Zakaria tetap dianjurkan dalam Islam.

Keutamaan kedua adalah sebagai penguat iman dan ketaqwaan dalam menghadapi cobaan hidup. QS Maryam 4 mengajarkan bahwa meskipun dalam kondisi lemah dan tua, seorang muslim tetap harus optimis dan tidak putus asa dari rahmat Allah. Ayat ini dapat menjadi motivasi bagi mereka yang sedang menghadapi kesulitan dalam hidup.

Keutamaan ketiga adalah sebagai pengingat untuk selalu bersikap rendah hati di hadapan Allah SWT. Contoh Nabi Zakaria yang dengan jujur mengakui kelemahannya dapat menjadi teladan bagi umat Islam untuk tidak sombong dan selalu bergantung kepada Allah dalam segala hal. Para ulama juga menyarankan untuk membaca ayat ini ketika sedang dalam kondisi sakit atau lemah sebagai bentuk tawassul dan berserah diri kepada Allah.

Daftar Sumber

  • Learn Quran Tafsir - Platform pembelajaran Al-Quran dan tafsir
  • Quran.com - Sumber tafsir Imam Qurthubi
  • Tafsir Ibnu Katsir - Tafsir klasik karya Ibnu Katsir
  • Sahih Bukhari - Koleksi hadis shahih

FAQ

1. Apa arti QS Maryam 4?

QS Maryam 4 adalah ayat yang berisi doa Nabi Zakaria yang mengakui kelemahannya di usia tua namun tetap berharap kepada Allah.

2. Mengapa QS Maryam 4 sering dibaca oleh pasangan yang menginginkan keturunan?

Karena ayat ini merupakan bagian dari doa Nabi Zakaria yang memohon keturunan dan akhirnya dikabulkan oleh Allah.

3. Apa hikmah utama dari QS Maryam 4?

Hikmah utamanya adalah mengajarkan kerendahan hati dalam berdoa dan tidak putus asa dari rahmat Allah.

4. Kapan waktu yang baik untuk membaca QS Maryam 4?

Ayat ini dapat dibaca kapan saja, terutama ketika berdoa memohon sesuatu kepada Allah atau dalam kondisi lemah.

5. Siapa yang dimaksud dengan "Dia berkata" dalam QS Maryam 4?

Yang dimaksud adalah Nabi Zakaria a.s. yang sedang berdoa kepada Allah SWT.

6. Apa makna "tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu" dalam ayat ini?

Maknanya adalah Nabi Zakaria selalu mendapat jawaban dari Allah atas doa-doanya, baik dikabulkan maupun dalam bentuk hikmah lain.

7. Mengapa Nabi Zakaria menyebutkan kelemahannya dalam doa?

Untuk menunjukkan kerendahan hati dan ketergantungan total kepada Allah, bukan karena mengeluh atau tidak bersyukur.