Jemaah Haji Gelombang 2 Mulai ke Madinah, Kemenag Harap Tak Ada Lagi yang Hilang

Total ada sekitar 111.000 jemaah haji gelombang dua yang akan tinggal di Madinah secara bergantian.

Diperbarui 13 Juli 2023, 14:33 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ribuan jemaah haji Indonesia gelombang dua melanjutkan rangkaian ibadah di Kota Madinah sebelum dipulangkan ke Tanah Air. Jemaah haji telah didorong secara bertahap dari Kota Makkah ke Madinah sejak tanggal 10 hingga 24 Juli 2023.

Total ada sekitar 111.000 jemaah haji gelombang dua yang akan tinggal di Madinah secara bergantian. Hingga hari ke-4 pendorongan, Kamis (13/7/2023), sudah ada 57 kelompok terbang (kloter) dengan 21.711 jemaah yang sudah berada di Kota Nabi tersebut.

Banyaknya jemaah haji yang didorong ke Madinah sebelum pulang ke Indonesia ini menjadi perhatian serius Kementerian Agama (Kemenag). Apalagi mereka juga akan berkumpul dengan ribuan jemaah haji lain dari berbagai negara. Praktis kondisi Kota Madinah akan kembali padat pasca-fase puncak haji ini.

Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Dirjen PHU) Kemenag R Hilman Latief meminta fenomena jemaah haji hilang dan tersesat tidak terjadi lagi di Madinah. Hilman berharap Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menyiapkan skema untuk mengantisipasi persoalan tersebut.

"Nah saya meminta para petugas mawas diri, jaga-jaga dan mempersiapkan skema agar fenomena tersesat, hilang di jalan bisa kita minimalisasi," ujarnya seusai rapat koordinasi pelayanan jemaah haji gelombang kedua di Kantor PPIH Arab Saudi Daker Madinah, Rabu (12/7/2023).

Hilman juga meminta para jemaah haji yang didorong ke Madinah untuk selalu menjaga diri agar tak tersesat. Sebab, intensitas pergerakan manusia di Kota Madinah sudah mulai padat.

"Jangan sampai jemaah yang pernah tersesat atau hilang di Makkah sudah ketemu dan sudah bersama kelompoknya lagi, di Madinah terulang. Karena intensitas pergerakannya juga lumayan di sini," kata dia.

Dirjen PHU Kemenag ini juga meminta kepada ketua kloter agar lebih lebih intensif mengkampanyekan isu-isu kerawanan jemaah hilang dan tersesat kepada para jemaahnya. Sehingga fenomena ini dapat diantisipasi bersama.

"Untuk jemaah tertentu yang punya pengalaman tersesat lama atau hilang kemudian ditemukan belum ditanazulkan, ini masih harus ke Madinah. Nah di Madinah kita harapkan mereka juga bisa menikmati suasananya, tapi jangan sampai hilang lagi karena ini fenomena umum banyak terjadi," harap Hilman.

Jemaah Haji Jangan Paksakan Diri Ibadah Arbain di Nabawi

 

 

Di lain kesempatan, Kepala Daker Madinah PPIH Arab Saudi Zaenal Muttaqin mengimbau jemaah haji terutama yang lanjut usia (lansia) tidak memaksakan diri melaksanakan ibadah arbain atau sholat berjamaah 40 waktu di Masjid Nabawi.

Hal ini lantaran cuaca di Madinah sangat panas, kendati jarak hotel dan Masjid Nabawi dekat. Selain itu, kondisi di seputaran Masjid Nabawi juga sangat padat, sehingga rawan jemaah tersesat.

"Jangan paksakan ibadah arbain, khususnya jamaah lansia. Kita akan terus ingatkan juga kepada petugas kloter dan petugas haji daerah untuk mengawasi jemaahnya," katanya beberapa waktu lalu.

Mengutip imbauan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Quomas, Zaenal berharap jemaah dapat beraktivitas sesuai kemampuan fisiknya dan tidak memaksakan diri, sehingga tidak memicu kelelahan. Apalagi, jemaah baru saja menyelesaikan puncak ibadah haji di Armuzna, serta thawaf ifadhah, sai, dan thawaf wada' di Makkah.

"Bahkan, kemarin juga kita dapat imbauan agar jemaah yang di Makkah tidak Salat Jumat di Masjidil Haram, tapi di masjid terdekat sekitar hotel. Ini juga berlaku sama di Madinah, pekan depan," kata Zaenal.

Sebagai informasi, jemaah haji gelombang dua didorong secara bertahap ke Madinah sejak 10 hingga 24 Juli 2023. Mereka akan tinggal selama 8 hingga 9 hari di Madinah sebelum dipulangkan ke Tanah Air.

Selama di Madinah, jemaah akan menjalankan ibadah sunnah arbain di Masjid Nabawi, berziarah ke Raudhah dan Makam Nabi Muhammad SAW, serta berkunjung ke sejumlah tempat bersejarah mulai dari Masjid Qiblatain, Masjid Quba, percetakan Al-Qur'an, hingga kebun kurma.