Sukses

Usai Bom Bunuh Diri Bandung, Pernikahan Kaesang Erina Perlu Kewaspadaan Tinggi

Liputan6.com, Jakarta Peneliti terorisme dan intelijen Ridlwan Habib mengatakan resepsi pernikahan putra Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep perlu penerapan kewaspadaan tinggi.

"Kewaspadaan tinggi juga perlu dilakukan pada acara akad nikah dan resepsi putra Presiden Jokowi Kaesang yang akan berlangsung Sabtu dan Minggu nanti," kata Ridlwan Habib di Jakarta, Rabu.

Dia menyampaikan hal tersebut usai adanya aksi bom bunuh diri di Markas Kepolisian Sektor Astanaanyar, Bandung, Jawa Barat.

"Ya maksud saya dengan kewaspadaan tinggi itu adalah, jangan sampai peristiwa bom di Astanaanyar ini menginspirasi jejaring atau sel-sel lain di kota-kota lain termasuk di Solo dan Jogja karena ada acara besar," kata Ridlwan, dikutip Antara.

Resepsi pernikahan Kaesang Pangarep dan Erina Gudono pastinya menurut dia akan ada banyak tamu penting, VVIP, pejabat bahkan para duta besar yang mungkin diundang.

"Jadi memang benar-benar harus pengamanan ekstra ketat termasuk screening terhadap tamu-tamu undangan. Ya saya kira kalau mengundang ribuan orang walaupun sudah dengan barcode undangan, tetap harus waspada," kata dia.

 

 

Saksikan Video Pilihan Ini:

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Sekilas Bom Bunuh Diri di Bandung

Demikian pula, lanjut Ridlwan dengan acara panggung rakyat pasti akan dihadiri ribuan rakyat. Menurut dia jangan sampai kondisi tersebut dimanfaatkan sel-sel terorisme yang mungkin ada di Solo maupun daerah sekitar.

"Ya tetap harus menjaga jangan sampai kemudian ada hal-hal yang tidak diinginkan, itu saja sih, bukan sesuatu yang (dilebih-lebihkan), hanya soal kewaspadaan saja," kata dia.

Sementara itu, menurut dia pelaku aksi bom bunuh diri di Markas Kepolisian Sektor Astanaanyar, Bandung, Jawa Barat diduga terkait jaringan ISIS, jika dilihat dari stiker di atas motor dan kertas yang berisi penolakan terhadap hukum demokrasi/ KUHP.

Pelaku diduga terkait dengan jaringan lama JAD yang berafiliasi ke ISIS, dari sisi pemilihan sasaran berupa polisi dan kantor polisi. Pola serangan kelompok JAD pro-ISIS selama ini menargetkan polisi , misalnya di Surabaya 2018, Medan 2019 dan di Polsek Daha Kalsel 2020.

"Perlu segera diurai jaringan pelaku sebagai antisipasi dini," ujarnya.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS