Hari Kesehatan Mental Sedunia: Jaga Mental Health dan Kapan Cari Bantuan

Hari Kesehatan Mental Sedunia 10 Oktober jadi pengingat untuk jaga kesehatan mental. Kenali tandanya dan kapan harus cari bantuan.

Diterbitkan 09 Oktober 2026, 15:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Hari Kesehatan Mental Sedunia diperingati setiap 10 Oktober, yang tahun ini jatuh pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Momen ini menjadi pengingat bahwa kesehatan mental adalah bagian tak terpisahkan dari kesehatan secara utuh, dan siapa pun berhak mendapat dukungan ketika membutuhkannya.

Tahun ini, Federasi Dunia untuk Kesehatan Mental (World Federation for Mental Health/WFMH) mengusung tema "Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change". Jika diterjemahkan bebas, tema tersebut berarti pengalaman hidup yang didengar, suara nyata yang membawa perubahan nyata. WFMH berharap berbagai organisasi di dunia menggelar kegiatan yang selaras dengan tema itu.

Di tengah kesibukan sehari-hari, tidak sedikit orang masih bingung membedakan stres biasa dengan kondisi yang perlu ditangani tenaga profesional. Pembahasan ini Liputan6.com telah merangkum cara menjaga kesehatan mental, tanda yang perlu diwaspadai, hingga layanan resmi yang bisa dihubungi, berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Jum'at (9/10/2026).

Mengapa Kesehatan Mental Perlu Dijaga?

Kemenkes menjelaskan, kesehatan mental adalah keadaan sejahtera yang memungkinkan seseorang mengatasi tekanan hidup, belajar dengan baik, bekerja dengan baik, serta berkontribusi pada komunitasnya. Seseorang dinyatakan sehat bila kondisinya baik secara fisik, jiwa, dan sosial, bukan sekadar terbebas dari penyakit.

Persoalan ini nyata dan luas. WHO mencatat, pada 2023 hampir 1 dari 7 orang di dunia, atau sekitar 1,2 miliar orang, hidup dengan gangguan mental. Gangguan kecemasan dan depresi menjadi yang paling umum. Namun, sebagian besar penderitanya belum mendapat akses perawatan yang efektif.

Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi depresi secara nasional sebesar 1,4 persen. Angka tertinggi ada pada kelompok usia 15-24 tahun, yakni 2 persen. Kemenkes juga mencatat hanya 10,4 persen anak muda dengan depresi yang mencari pengobatan.

Gambaran singkat datanya:

  • Dunia (WHO, 2023): sekitar 1,2 miliar orang hidup dengan gangguan mental.
  • Kecemasan: sekitar 470 juta orang di dunia.
  • Depresi: sekitar 322 juta orang di dunia.
  • Indonesia (SKI 2023): depresi 1,4 persen, tertinggi pada usia 15-24 tahun (2 persen).
  • Remaja Indonesia usia 10-17 tahun (I-NAMHS 2022): 5,5 persen mengalami gangguan mental.

Tanda yang Perlu Diwaspadai

Rasa sedih atau tertekan sesekali adalah hal wajar. WHO menegaskan, depresi berbeda dari perubahan suasana hati biasa. Satu episode depresi ditandai suasana hati yang tertekan atau hilangnya minat pada aktivitas, berlangsung hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, selama setidaknya dua minggu.

Selain itu, ada sejumlah gejala lain yang bisa menyertai. Gejala-gejala ini dapat memengaruhi kehidupan di rumah, sekolah, maupun tempat kerja. Perlu diingat, daftar ini bukan alat diagnosis mandiri. Penilaian tetap dilakukan tenaga kesehatan.

Beberapa tanda yang disebut WHO:

  • Perasaan sedih, mudah marah, atau kosong
  • Kehilangan rasa senang atau minat pada aktivitas yang biasa disukai
  • Sulit berkonsentrasi
  • Rasa bersalah berlebihan atau merasa diri tidak berharga
  • Merasa putus asa akan masa depan
  • Gangguan tidur
  • Perubahan nafsu makan atau berat badan
  • Mudah lelah dan kehilangan energi
  • Pikiran tentang kematian atau bunuh diri

Cara Menjaga Kesehatan Mental Sehari-hari

WHO menyebut perawatan diri (self-care) berperan penting dalam mengelola gejala dan menjaga kesejahteraan secara umum. Langkahnya sederhana dan bisa dimulai dari rutinitas harian, tanpa perlu menunggu kondisi memburuk.

Di Indonesia, Kemenkes juga menjalankan skrining kesehatan jiwa di komunitas, seperti perkantoran, sekolah, dan masyarakat umum. Skrining ini bertujuan mendeteksi masalah sejak dini sehingga penanganannya bisa lebih cepat.

Langkah yang direkomendasikan WHO:

  • Tetap lakukan aktivitas yang biasa Anda nikmati
  • Jaga hubungan dengan teman dan keluarga
  • Berolahraga secara teratur, walau hanya jalan kaki singkat
  • Pertahankan pola makan dan tidur yang teratur
  • Kurangi atau hindari alkohol, dan jangan gunakan narkoba karena dapat memperburuk depresi
  • Ceritakan perasaan kepada orang yang dipercaya

Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?

Menurut WHO, siapa pun yang mengalami gejala depresi sebaiknya mencari perawatan. Kabar baiknya, depresi dapat diobati. Terapi psikologis menjadi penanganan pertama, dan dapat dikombinasikan dengan obat antidepresan pada depresi tingkat sedang hingga berat. Keputusan penggunaan obat ada di tangan tenaga kesehatan.

Kemenkes mengingatkan, hasil skrining yang menunjukkan adanya masalah kesehatan jiwa bisa ditindaklanjuti dengan berkonsultasi kepada guru di sekolah, bagian kepegawaian di kantor, atau kader kesehatan. Bila membutuhkan penanganan lanjutan, pasien dapat dirujuk ke fasilitas kesehatan terdekat.

Sinyal bahwa sudah waktunya mencari bantuan:

  • Gejala muncul hampir setiap hari dan berlangsung dua minggu atau lebih
  • Perasaan tersebut mulai mengganggu sekolah, pekerjaan, atau hubungan dengan orang terdekat
  • Muncul pikiran tentang kematian atau bunuh diri
  • Kondisi tidak membaik meski sudah menjalani perawatan diri

Jika ada pikiran untuk bunuh diri, WHO menyarankan segera bicara dengan orang yang dipercaya atau tenaga kesehatan. Bila merasa dalam bahaya langsung, segera hubungi layanan darurat atau datang ke fasilitas kesehatan terdekat.

Layanan Resmi yang Bisa Dihubungi di Indonesia

Kemenkes menyediakan Healing119.id, layanan kesehatan mental daring yang gratis dan terbuka untuk siapa pun tanpa batas usia atau domisili. Layanan ini berfungsi sebagai pertolongan pertama psikologis, yaitu membantu menstabilkan kondisi emosional dan menghubungkan pengguna ke layanan lanjutan jika diperlukan. Ini bukan terapi atau konseling jangka panjang.

Konselornya adalah tenaga medis dan tenaga kesehatan yang telah mengikuti pelatihan kesehatan jiwa dan memiliki izin praktik. Kemenkes menyebut percakapan dijaga kerahasiaannya, dan pengguna tidak perlu mendaftar lebih dulu.

Cara mengakses Healing119.id:

  • Telepon: hubungi 119 ekstensi 8, atau pilih opsi panggilan di www.healing119.id
  • Chat WhatsApp: buka www.healing119.id lalu klik tombol WhatsApp
  • Waktu layanan: 24 jam, tetapi antrean bisa penuh sehingga chat WhatsApp disarankan bila telepon belum tersambung
  • Durasi: 30 menit per sesi, dapat diperpanjang hingga maksimal dua sesi
  • Daerah sulit internet: datangi Puskesmas terdekat yang memiliki psikolog atau tenaga kesehatan terlatih

Informasi di artikel ini bersifat edukatif dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional.

Tanya Jawab Seputar Hari Kesehatan Mental Sedunia

1. Apa itu Hari Kesehatan Mental Sedunia?

Peringatan tahunan setiap 10 Oktober untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental. Tema 2026 dari WFMH adalah "Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change".

2. Apakah sedih berkepanjangan selalu berarti depresi?

Belum tentu. WHO membedakan depresi dari perubahan suasana hati biasa. Gejala depresi muncul hampir setiap hari selama minimal dua minggu, dan diagnosis ditegakkan oleh tenaga kesehatan.

3. Kapan sebaiknya ke psikolog atau dokter?

Saat gejala bertahan dua minggu atau lebih, mengganggu aktivitas, atau muncul pikiran tentang kematian atau bunuh diri. Mulai dari Puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.

4. Apakah layanan Healing119.id gratis?

Ya. Layanan ini gratis, tersedia 24 jam lewat 119 ekstensi 8 atau www.healing119.id, dan tidak perlu registrasi.

5. Bolehkah menghubungi layanan itu untuk membantu orang lain?

Boleh. Healing119.id juga bisa diakses untuk meminta saran dalam mendampingi teman atau anggota keluarga yang sedang tertekan.

 

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6