Cara Menanam Seledri Jepang di Wadah Kecil untuk Kebun Dapur, Praktis untuk Lahan Terbatas

Ashitaba (Angelica keiskei), dikenal sebagai seledri Jepang, ideal untuk kebun dapur di wadah kecil berkat kemampuan tumbuh kembali.

Diterbitkan 01 Oktober 2026, 21:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Cara menanam seledri Jepang di wadah kecil untuk kebun dapur dapat menjadi pilihan menarik bagi Anda yang ingin mencoba tanaman herbal unik tanpa membutuhkan lahan luas. Tanaman yang dikenal sebagai ashitaba (Angelica keiskei) ini berasal dari Jepang dan masih berkerabat dengan kelompok Angelica yang juga mencakup beberapa tanaman herbal dan sayuran lain.

Ashitaba memiliki daun hijau dengan bentuk yang menarik dan dikenal karena pertumbuhannya yang dapat kembali menghasilkan tunas setelah dipanen. Karakter tersebut membuatnya cukup menarik untuk ditanam di lingkungan rumah, termasuk menggunakan pot atau wadah yang ditempatkan di teras dan kebun dapur.

Meski demikian, ashitaba bukan tanaman yang bisa diperlakukan persis seperti seledri biasa. Tanaman ini merupakan herba tahunan yang dapat tumbuh cukup besar apabila dibiarkan, sehingga pemilihan wadah, pencahayaan, media tanam, dan pola panen perlu diperhatikan sejak awal. Berikut ulasan Liputan6.com, Kamis (1/10/2026).

Mengenal Seledri Jepang atau Ashitaba Sebelum Menanam

Seledri Jepang yang dimaksud dalam artikel ini adalah ashitaba (Angelica keiskei), bukan seledri konsumsi yang umum digunakan sebagai bumbu masakan. Nama ashitaba secara harfiah sering diterjemahkan sebagai “daun hari esok”, merujuk pada kemampuannya menghasilkan pertumbuhan baru setelah bagian daun dipanen.

The Guardian dalam ulasannya mengenai ashitaba menyebut tanaman ini berasal dari wilayah pesisir Pasifik Jepang dan bersifat perennial atau dapat hidup selama beberapa tahun. Tanaman tersebut dapat mencapai tinggi sekitar 120 sentimeter apabila tumbuh dalam kondisi yang sesuai.

Di Jepang, ashitaba dikenal terutama di wilayah Kepulauan Izu. Marukome juga menggambarkan tanaman ini sebagai herba yang tumbuh subur di Izu Oshima, bahkan dapat ditemukan di sekitar rumah, lahan pertanian, dan area lain di pulau tersebut.

Daunnya berwarna hijau dan memiliki aroma khas dengan rasa yang sedikit pahit. The Guardian mencatat bahwa daun ashitaba mentah memiliki cita rasa yang menyerupai seledri, sehingga tidak mengherankan jika tanaman ini kerap disebut seledri Jepang dalam berbagai pembahasan populer.

Pilih Wadah yang Kecil, tetapi Tidak Terlalu Sempit

Salah satu kunci cara menanam seledri Jepang di wadah kecil untuk kebun dapur adalah memilih wadah yang mampu menampung perkembangan akar sekaligus tetap praktis ditempatkan di area rumah.

Wadah tidak harus berukuran sangat besar sejak awal. Bibit muda dapat dimulai di pot kecil atau wadah persemaian, kemudian dipindahkan ketika sudah cukup kuat. Pure Asia Seeds merekomendasikan penanaman benih ashitaba dalam seed tray atau pot kecil pada tahap awal.

Untuk kebun dapur, gunakan pot yang memiliki lubang drainase di bagian bawah. Wadah bekas yang aman digunakan untuk tanaman juga dapat dimanfaatkan selama bersih dan memiliki saluran pembuangan air yang memadai.

Jangan memilih wadah yang terlalu dangkal. Meskipun ukuran tanaman dapat dikendalikan melalui pemangkasan dan panen, ruang akar tetap diperlukan agar tanaman tidak mudah terganggu pertumbuhannya.

Jika ingin menanam satu tanaman dalam satu wadah, pot individual juga memudahkan pengaturan posisi tanaman. Wadah dapat dipindahkan ke tempat yang lebih teduh ketika matahari terlalu terik atau ketika kondisi cuaca berubah.

Siapkan Media Tanam yang Gembur dan Tidak Becek

Ashitaba membutuhkan media yang subur dan memiliki drainase baik. Pure Asia Seeds menyarankan tanah yang gembur, kaya bahan organik, serta tidak mudah mengalami pemadatan.

Untuk kebun dapur di rumah, media tanam dapat dibuat dari campuran tanah, kompos matang, dan bahan yang membantu memperbaiki porositas. Tujuannya bukan membuat media cepat kering, melainkan menjaga keseimbangan antara kelembapan dan sirkulasi udara di sekitar akar.

Media yang terlalu padat dapat membuat air tertahan terlalu lama. Sebaliknya, media yang terlalu cepat kering juga kurang ideal karena ashitaba membutuhkan kelembapan yang cukup selama masa pertumbuhan.

Sebelum memasukkan media ke wadah, pastikan lubang drainase tidak tertutup. Air yang menggenang di dasar pot dapat membuat kondisi akar kurang sehat.

Mulai dari Benih atau Bibit yang Sehat

Ashitaba dapat diperbanyak melalui benih. Namun, kualitas dan kesegaran benih perlu diperhatikan. The Guardian mencatat bahwa benih ashitaba sebaiknya masih segar dan ditanam pada musim yang sesuai karena daya tumbuh benih dapat menjadi persoalan.

Pure Asia Seeds menyebut perkecambahan ashitaba umumnya berlangsung sekitar 10–21 hari dengan kondisi kelembapan dan suhu yang stabil. Karena itu, jangan langsung menganggap benih gagal apabila belum muncul tunas dalam beberapa hari.

Untuk menyemainya, masukkan media yang lembap ke dalam wadah persemaian. Letakkan benih pada permukaan atau tanam tipis sesuai petunjuk benih yang digunakan. Pure Asia Seeds memberikan kedalaman sekitar seperempat inci untuk penanaman benih ashitaba.

Setelah itu, siram menggunakan air secukupnya. Media sebaiknya tetap lembap, tetapi tidak sampai tergenang.

Letakkan persemaian di tempat dengan pencahayaan yang cukup dan kondisi relatif terlindung. Hindari perubahan lingkungan yang terlalu ekstrem selama benih masih dalam tahap awal pertumbuhan.

Pindahkan Bibit Setelah Memiliki Daun Sejati

Ketika bibit mulai tumbuh dan memiliki daun sejati, tanaman dapat dipindahkan ke wadah yang lebih sesuai. Pure Asia Seeds merekomendasikan pemindahan ketika bibit sudah mengembangkan daun sejati.

Lakukan proses pemindahan secara hati-hati agar akar muda tidak banyak rusak. Buat lubang tanam terlebih dahulu, kemudian angkat bibit bersama sebagian media yang melekat pada akarnya.

Letakkan bibit di tengah wadah dan tutup kembali bagian akar menggunakan media. Tekan media dengan lembut agar tanaman berdiri stabil, tetapi jangan memadatkannya secara berlebihan.

Setelah dipindahkan, berikan air secukupnya dan letakkan tanaman di tempat yang mendapatkan cahaya sesuai kebutuhannya.

Atur Cahaya agar Daun Tidak Mudah Stres

Ashitaba dapat tumbuh pada kondisi dengan sinar matahari sebagian atau cahaya teduh ringan. Pure Asia Seeds menyebut partial sunlight atau light shade sebagai kondisi yang mendukung pertumbuhan daun.

Informasi dari Marukome mengenai budidaya ashitaba di Izu Oshima juga menunjukkan pentingnya perlindungan dari sinar matahari yang terlalu kuat. Di sana, pohon hannoki alder digunakan untuk memberikan naungan pada musim panas, sementara ketika daunnya gugur, cahaya matahari dapat kembali mencapai tanaman.

Untuk kebun dapur di Indonesia, prinsip tersebut dapat diterapkan secara sederhana. Tempatkan pot di lokasi yang memperoleh cahaya pagi, tetapi terlindung dari panas matahari siang yang sangat terik.

Jika daun terlihat cepat layu pada siang hari, posisi wadah dapat digeser ke area yang mendapatkan naungan. Namun, jangan menempatkan tanaman terus-menerus di tempat yang terlalu gelap karena pertumbuhan daun juga membutuhkan cahaya.

Siram Secara Teratur, tetapi Hindari Genangan

Penyiraman merupakan bagian penting dari perawatan ashitaba dalam pot. Tanaman yang ditanam dalam wadah memiliki volume media terbatas sehingga perubahan kelembapan dapat berlangsung lebih cepat dibandingkan tanaman yang ditanam langsung di tanah.

Pure Asia Seeds merekomendasikan penyiraman secara teratur untuk mendukung pertumbuhan. Marukome juga mencatat bahwa ketika kondisi kering, tanaman ashitaba yang dibudidayakan perlu mendapatkan irigasi harian.

Untuk kebun dapur, tidak berarti tanaman harus selalu disiram dalam jumlah banyak. Periksa kondisi media terlebih dahulu. Jika permukaan media mulai mengering, siram hingga air keluar dari lubang drainase.

Pada musim hujan, frekuensi penyiraman dapat dikurangi. Pastikan wadah tidak diletakkan di lokasi yang selalu tergenang air hujan.

Berikan Kompos Secukupnya untuk Menunjang Pertumbuhan

Daun merupakan bagian utama yang biasanya dimanfaatkan dari ashitaba, sehingga ketersediaan nutrisi menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.

Pure Asia Seeds menyarankan penggunaan kompos untuk membantu menyediakan nutrisi dan mendukung pertumbuhan daun. Pada tanaman dalam pot, kompos matang dapat diberikan sebagai lapisan tipis di permukaan media.

Tidak perlu memberikan pupuk secara berlebihan. Wadah kecil justru membutuhkan pemberian nutrisi yang lebih terukur karena kelebihan pupuk dapat terkonsentrasi pada volume media yang terbatas.

Perhatikan respons tanaman setelah pemupukan. Jika pertumbuhan terlihat stabil, daun berkembang baik, dan tanaman tetap kokoh, perawatan dapat dilanjutkan dengan pola yang sama.

Panen Daun dengan Cara yang Tidak Mengganggu Titik Tumbuh

Salah satu hal menarik dari ashitaba adalah kemampuan menghasilkan pertumbuhan baru setelah panen. The Guardian menyoroti kemampuan tanaman ini untuk kembali menghasilkan daun dengan cepat, sedangkan Marukome menggambarkan bagaimana tunas baru dapat muncul setelah daun dipanen pada kondisi pertumbuhan yang aktif.

Meski demikian, jangan memetik semua daun sekaligus, terutama jika tanaman masih muda. Sisakan bagian tengah atau titik pertumbuhan agar tanaman dapat terus menghasilkan daun baru.

Marukome juga menjelaskan bahwa petani ashitaba perlu berhati-hati ketika memanen karena tunas tidak boleh ikut terpotong. Daun yang terlalu besar juga dapat menjadi lebih keras, sehingga waktu panen perlu diperhatikan.

Untuk tanaman dalam pot, pemanenan bertahap lebih aman. Ambil daun yang sudah cukup berkembang dari bagian luar tanaman, lalu biarkan bagian tengah terus tumbuh.

Manfaatkan Hasil Panen untuk Masakan Rumahan

Ashitaba memiliki rasa sedikit pahit dengan aroma khas. Marukome menunjukkan berbagai cara masyarakat Izu Oshima mengolah tanaman ini, mulai dari direbus, ditumis, dicampurkan dengan nasi, hingga digunakan dalam tempura.

Salah satu cara sederhana adalah merebus daun terlebih dahulu. Dalam artikel Marukome, daun ashitaba direbus selama sekitar empat sampai lima menit sebagai panduan kasar, kemudian dibilas dengan air dingin dan diperas.

Cara tersebut dapat membantu mengolah daun sebelum dicampurkan dengan masakan lain. Bagi yang baru mencoba ashitaba, pengolahan dengan bumbu sederhana dapat menjadi cara untuk mengenali rasa dan teksturnya.

Perlu dibedakan antara informasi mengenai penggunaan sebagai bahan pangan dan klaim kesehatan. Marukome membahas berbagai penelitian mengenai senyawa chalcone dalam ashitaba, tetapi pembahasan tersebut tidak berarti daun ashitaba dapat dianggap sebagai pengganti pengobatan medis.

Tips agar Ashitaba Tetap Produktif di Wadah Kecil

Menanam ashitaba di wadah membutuhkan perhatian pada beberapa detail sederhana. Pertama, jangan membiarkan media terlalu kering dalam waktu lama. Kedua, hindari genangan dengan memastikan lubang drainase selalu terbuka.

Ketiga, tempatkan pot pada area yang memperoleh cahaya cukup tetapi terlindung dari panas berlebihan. Keempat, lakukan panen secara bertahap agar tanaman tetap memiliki daun dan titik tumbuh yang aktif.

Kelima, lakukan pemindahan ke wadah yang lebih besar apabila akar sudah memenuhi media dan tanaman mulai terlihat terlalu padat. Walaupun artikel ini berfokus pada wadah kecil, ukuran wadah tetap harus disesuaikan dengan perkembangan tanaman.

Dengan pola tersebut, cara menanam seledri Jepang di wadah kecil untuk kebun dapur dapat dilakukan secara sederhana tanpa harus menyediakan lahan khusus. Yang terpenting adalah memberikan ruang akar yang memadai, media yang gembur, kelembapan stabil, cahaya yang sesuai, dan pola panen yang tidak berlebihan.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Seledri Jepang

1. Apakah seledri Jepang sama dengan seledri biasa?

Tidak. Seledri Jepang yang sering dimaksud dalam pembahasan ashitaba adalah Angelica keiskei, sedangkan seledri yang umum digunakan sebagai bumbu dapur berasal dari spesies berbeda. Ashitaba memiliki bentuk daun, pertumbuhan, dan karakter rasa yang berbeda.

2. Apakah ashitaba bisa ditanam di pot kecil?

Bisa, terutama pada tahap awal pertumbuhan. Namun, karena ashitaba merupakan tanaman tahunan dan dapat tumbuh cukup besar, wadah perlu disesuaikan ketika tanaman berkembang. Pastikan pot memiliki drainase yang baik dan ruang akar yang cukup.

3. Berapa lama benih ashitaba berkecambah?

Pure Asia Seeds menyebut benih ashitaba dapat berkecambah sekitar 10–21 hari dalam kondisi yang sesuai. Kesegaran benih, kelembapan, suhu, dan kondisi persemaian dapat memengaruhi keberhasilan perkecambahan.

4. Apakah ashitaba membutuhkan sinar matahari penuh?

Ashitaba dapat tumbuh pada cahaya matahari sebagian atau kondisi teduh ringan. Untuk lingkungan yang panas, perlindungan dari sinar matahari siang dapat membantu mengurangi stres pada tanaman, terutama ketika ditanam dalam wadah.

5. Bagaimana cara memanen daun ashitaba?

Ambil daun yang sudah berkembang dari bagian luar tanaman dan hindari memotong titik tumbuh di bagian tengah. Pemanenan bertahap membantu tanaman mempertahankan pertumbuhan baru. Marukome juga mencatat bahwa daun yang terlalu besar dapat menjadi lebih keras sehingga waktu panen perlu diperhatikan.

 

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6