Liputan6.com, Jakarta - Frugal living vs soft life semakin sering diperbincangkan ketika biaya hidup terasa makin berat. Harga kebutuhan pokok naik perlahan, biaya transportasi meningkat, dan pengeluaran bulanan terasa lebih cepat habis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Banyak orang mulai bertanya: gaya hidup seperti apa yang paling masuk akal dijalani di tengah situasi ini?
Data resmi dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa inflasi year-on-year (y-on-y) pada Januari 2026 mencapai 3,55 persen, dengan inflasi inti sebesar 2,45 persen. Angka tersebut memang masih terkendali, tetapi tetap berarti daya beli masyarakat mengalami tekanan. Uang dengan nominal yang sama kini tidak lagi bisa membeli jumlah barang yang sama seperti sebelumnya.
Dalam kondisi seperti ini, gaya hidup bukan lagi sekadar preferensi personal atau tren media sosial. Ia berubah menjadi strategi bertahan. Sebagian orang memilih memperketat pengeluaran lewat frugal living. Sebagian lainnya justru berusaha menjaga kewarasan dan keseimbangan hidup melalui soft life. Lalu, mana yang sebenarnya lebih relevan menghadapi inflasi 2026? Berikut ulasan Liputan6.com, Sabtu (21/3/2026).
Advertisement
Frugal Living Bukan Sekadar Hemat, Tapi Sadar Finansial
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5179475/original/056196300_1743576602-pexels-tima-miroshnichenko-7009853.jpg)
Merujuk pada artikel “Pengertian Frugal Living dan Cara Penerapannya” di laman feb.umsu.ac.id, frugal living adalah gaya hidup hemat yang berfokus pada pengelolaan uang secara bijaksana, mengurangi pengeluaran tidak perlu, serta memaksimalkan nilai dari setiap rupiah yang dibelanjakan.
Namun, penting digarisbawahi bahwa frugal living bukan berarti hidup pelit atau menolak semua kesenangan. Prinsip utamanya adalah keseimbangan: kebutuhan dasar tetap terpenuhi, kualitas hidup tetap terjaga, tetapi tanpa pemborosan dan tanpa jeratan utang yang tidak perlu.
Dalam praktiknya, frugal living diwujudkan melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana namun konsisten. Seseorang membuat anggaran yang realistis berdasarkan pendapatan. Ia memprioritaskan kebutuhan pokok seperti makanan, tempat tinggal, tagihan, dan tabungan sebelum memikirkan hiburan. Ia juga terbiasa membuat daftar belanja untuk menghindari pembelian impulsif.
Kebiasaan lain yang sering dilakukan adalah memasak di rumah untuk menekan biaya konsumsi, menghemat listrik dan air, serta berupaya meminimalkan utang. Bahkan dalam kondisi berhemat, frugal living tetap mendorong individu untuk menabung dan berinvestasi demi tujuan jangka panjang.
Dengan kata lain, frugal living membangun fondasi keuangan yang lebih kokoh. Di tengah inflasi, fondasi inilah yang menjadi “bantalan” ketika harga-harga naik dan pengeluaran tak terduga muncul.
Advertisement
Soft Life Menjaga Keseimbangan dan Kesehatan Mental
![Meski Tinggal di Kota Besar, Hati Tetap Tenang dengan 5 Trik Slow Living Ini [Dok/freepik.com]](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/7ritVw7yP72mVEM18nKT51_qKVw=/640x360/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5313254/original/062393900_1754989273-female-meditating-indoor-portrait.jpg)
Di sisi lain, fenomena soft life yang dibahas dalam artikel “Gen-Z dan Fenomena Soft Life” di laman pgsd.fip.unesa.ac.id. Gaya hidup ini populer di kalangan Generasi Z yang merasa lelah dengan tekanan budaya kerja yang serba cepat dan tuntutan sukses instan.
Soft life menekankan kenyamanan, ketenangan, dan keseimbangan hidup. Bagi penganutnya, hidup tidak harus selalu dikejar target besar dengan ritme melelahkan. Ambisi tetap ada, tetapi dijalani dengan cara yang lebih santai dan mindful.
Fenomena ini juga menguat setelah pandemi, ketika banyak orang menyadari pentingnya kesehatan fisik dan mental. Soft life bukan berarti malas atau tidak produktif. Justru sebaliknya, ia mendorong produktivitas yang lebih sehat—tanpa mengorbankan waktu istirahat, relasi sosial, dan kebahagiaan pribadi.
Dalam konteks keuangan, soft life mengajak seseorang untuk tidak terobsesi semata-mata pada angka dan pencapaian materi. Hidup yang nyaman, waktu luang berkualitas, serta kesehatan mental yang stabil dianggap sama pentingnya dengan kenaikan gaji atau tabungan yang besar.
Frugal Living VS Soft Life di Tengah Inflasi 2026
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5103467/original/057047800_1737457741-20250121-Jaga_Inflasi-ANG_3.jpg)
Ketika inflasi y-on-y mencapai 3,55 persen menurut Badan Pusat Statistik, artinya harga barang dan jasa secara umum lebih mahal dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam situasi seperti ini, pendekatan frugal living tampak lebih “aman” secara finansial.
Dengan anggaran yang disiplin, pengeluaran terkontrol, dan kebiasaan menabung, seseorang lebih siap menghadapi kenaikan harga. Dana darurat menjadi penyangga ketika terjadi situasi tak terduga, seperti biaya kesehatan atau perbaikan rumah. Risiko terjebak utang konsumtif pun lebih kecil.
Namun, ada sisi lain yang perlu dipertimbangkan. Tekanan ekonomi yang berkepanjangan bisa berdampak pada kesehatan mental. Jika frugal living dijalankan terlalu ketat—misalnya dengan memangkas semua bentuk hiburan, menolak self-reward, dan terus-menerus merasa bersalah saat mengeluarkan uang—stres bisa menumpuk.
Di sinilah soft life memainkan peran penting. Kesehatan mental yang terjaga membantu seseorang tetap rasional dalam mengambil keputusan finansial. Orang yang tidak diliputi stres berlebihan cenderung lebih bijak dalam mengelola uang, tidak mudah tergoda belanja impulsif sebagai pelarian emosi, dan tetap produktif dalam pekerjaannya.
Jadi, dalam perdebatan frugal living VS soft life, sebenarnya keduanya tidak perlu dipertentangkan secara ekstrem. Frugal living memberikan struktur dan keamanan finansial. Soft life memberikan ruang bernapas dan menjaga stabilitas emosi.
Advertisement
Strategi Paling Realistis Menghadapi Inflasi 2026
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3200510/original/035025800_1596685974-finances-saving-economy-concept-female-accountant-banker-use-calculator_1421-90.jpg)
Jika ditanya mana yang lebih baik untuk menghadapi inflasi 2026, jawabannya bergantung pada prioritas. Dari sisi ketahanan finansial, frugal living jelas lebih unggul karena langsung menyasar pengelolaan uang, pengurangan utang, dan peningkatan tabungan.
Namun, dalam jangka panjang, pendekatan yang terlalu kaku bisa melelahkan. Karena itu, strategi paling realistis adalah menggabungkan keduanya secara proporsional.
Misalnya, tetap membuat anggaran dan mengontrol pengeluaran, tetapi menyisihkan dana khusus untuk self-care atau rekreasi sederhana. Tetap fokus menabung dan berinvestasi, tetapi tidak memaksakan diri bekerja tanpa jeda istirahat. Tetap hidup hemat, tetapi tidak kehilangan makna dan kebahagiaan.
Dengan kombinasi ini, seseorang tidak hanya bertahan secara finansial, tetapi juga tetap sehat secara mental. Dan di tengah inflasi yang perlahan menggerus daya beli, ketahanan mental sama pentingnya dengan ketahanan finansial.
FAQ Seputar Frugal Living dan Soft Life
1. Apakah frugal living sama dengan hidup pelit?
Tidak. Frugal living berfokus pada pengelolaan uang secara bijaksana dan sadar prioritas, bukan menolak semua bentuk pengeluaran.
2. Apakah soft life berarti tidak ambisius?
Tidak. Soft life tetap menghargai tanggung jawab dan produktivitas, tetapi dijalani dengan ritme yang lebih sehat.
3. Apakah frugal living efektif menghadapi inflasi?
Ya. Dengan anggaran yang disiplin dan kebiasaan menabung, seseorang lebih siap menghadapi kenaikan harga.
4. Apakah soft life relevan di tengah tekanan ekonomi?
Sangat relevan, karena menjaga kesehatan mental membantu pengambilan keputusan finansial yang lebih rasional.
5. Bisakah frugal living dan soft life diterapkan bersamaan?
Bisa. Justru kombinasi keduanya membantu menciptakan keseimbangan antara keamanan finansial dan kesejahteraan mental.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564063/original/036332000_1776924981-cek_fakta_-_BSU_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5496891/original/097309800_1770608635-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-09T103958.761.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710243/original/038928400_1782790135-IMG_3966.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715404/original/084148600_1782803575-Cek_fakta_bsu_25_juta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3235896/original/046311000_1777366243-pp.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5179474/original/099429900_1743576600-pexels-cottonbro-3943716.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812277/original/052062800_1684314288-Beach_life.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8524757/original/078321100_1782454482-AP26176835585287.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262583/original/036434300_1781838197-000_B7LE9YQ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776146/original/063906300_1782856231-Sweden_s_Lucas_Bergvall__7__and_Yasin_Ayari__18__defend_France_s_Ousmane_Dembele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8584006/original/084196900_1782546499-AP26178201151443.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776154/original/033634700_1782859536-France_s_Kylian_Mbappe__10__celebrates_scoring_their_third_goal_with_Michael_Olise.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776150/original/042954000_1782857106-France_s_Kylian_Mbappe.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263357/original/030094600_1781903941-063_2282397170.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776149/original/009414100_1782856874-France_s_Kylian_Mbappe.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8593999/original/023505700_1782562806-ekuador.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560483/original/094482200_1782508278-000_B8GH2KY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776140/original/038104800_1782846348-063_2284057834.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4392354/original/038664200_1681288233-mufid-majnun-P4ONXslEkxM-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5133864/original/005571000_1739592026-1739589262071_arti-gen-z-dalam-bahasa-gaul.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4668821/original/000742500_1701320491-yuri-krupenin-S2FVm0tOv1w-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4866998/original/091379800_1718710170-20240618-Liburan_di_Ancol-HER_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5702051/original/036876100_1778582835-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5503185/original/007766100_1771114389-pinjol.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5319153/original/007607300_1755506626-bansos.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6497047/original/076308500_1779353887-ini-besaran-umk-2016-se-jabar-karawang-tertinggi.jpg)