Merayakan 1 Muharam, Tradisi Tahun Baru Islam di Berbagai Penjuru Dunia

1 Muharam adalah momen penting bagi umat Islam di seluruh dunia. Simak tradisi unik perayaan Tahun Baru Islam di berbagai negara.

Diterbitkan 27 Juni 2025, 19:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Tahun Baru Islam atau 1 Muharam tak sekadar menjadi penanda pergantian tahun dalam kalender Hijriah, tetapi juga menjadi momen perenungan bagi umat Muslim di seluruh dunia. Berbeda dengan perayaan tahun baru Masehi yang identik dengan pesta kembang api dan gegap gempita, tahun baru Hijriah lebih banyak diisi dengan kegiatan spiritual. Dari Maroko hingga Indonesia, umat Islam menyambutnya dengan cara yang khas sesuai budaya masing-masing, namun tetap berpegang pada nilai-nilai keagamaan.

Di Indonesia, misalnya, suasana tahun baru Islam kerap ditandai dengan pawai obor, doa bersama, hingga pengajian akbar. Tradisi ini meski tidak berasal dari zaman Rasulullah, tetap dianggap sah-sah saja selama tidak bertentangan dengan syariat. Menurut Drs. Fakhrurazi, M.A. dari UMJ, kegiatan tersebut bisa menjadi syiar Islam dan sarana mempererat silaturahmi antarumat.

Perayaan Tahun Baru Hijriah menjadi semacam penanda awal bagi umat Islam untuk memperbaiki diri secara spiritual, sosial, dan moral. Momen ini biasanya digunakan untuk introspeksi dan memperkuat komitmen terhadap nilai-nilai keislaman seperti taqwa, keadilan, dan ukhuwah. Berikut ulasan Liputan6.com, Jumat (27/6/2025).

Apa Itu Tahun Baru Hijriah?

Tahun Baru Hijriah dimulai dari bulan Muharam, bulan pertama dalam kalender Islam. Kalender ini didasarkan pada peredaran bulan dan dimulai dari peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah pada tahun 622 M. Penetapan sistem kalender ini baru dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Seperti dijelaskan oleh Drs. Fakhrurazi, Umar memilih peristiwa hijrah karena ia melihatnya sebagai tonggak lahirnya masyarakat Islam yang tertib dan berdaulat, bukan hanya berdasarkan kemenangan perang atau kelahiran tokoh besar.

Kalender Hijriah terdiri dari 12 bulan dan memiliki 354 atau 355 hari dalam setahun, lebih pendek dari kalender Masehi yang menggunakan sistem matahari. Perhitungan awal bulan Hijriah ditentukan berdasarkan penampakan hilal (bulan sabit baru), sehingga tanggalnya bisa berbeda antarwilayah.

Perayaan Tahun Baru Hijriah di Berbagai Negara Islam

Walaupun Tahun Baru Hijriah umumnya lebih bersifat reflektif daripada meriah, cara umat Islam menyambutnya sangat beragam tergantung pada latar budaya dan mazhab yang dianut.

1. Arab Saudi dan Negara Teluk

Di negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait, Tahun Baru Islam biasanya ditetapkan sebagai hari libur nasional. Namun, perayaannya tidak dirayakan secara besar-besaran. Sebagian besar umat mengisi momen ini dengan shalat sunnah, membaca doa awal dan akhir tahun, serta memperbanyak zikir dan amal ibadah. Menurut AP News, karena bulan Muharam adalah salah satu dari empat bulan suci dalam Islam, banyak umat yang lebih memilih untuk merenung dan memperbanyak ibadah daripada berpesta.

2. Iran, Irak, dan Komunitas Syiah

Bagi umat Syiah, 10 hari pertama Muharam adalah masa berkabung atas gugurnya cucu Nabi Muhammad, Imam Husain, dalam peristiwa Karbala pada tahun 680 M. Mereka memperingatinya dengan ritual Asyura. Di Iran, Lebanon, dan Irak, peringatan ini sangat intens dengan prosesi duka, iring-iringan, bahkan beberapa di antaranya melakukan bentuk ekspresi fisik seperti memukul dada atau ritual simbolik lainnya. Dalam laporan National Geographic, makanan khusus seperti "doodh ka sharbat" di India juga menjadi bagian dari penghormatan terhadap al-Husain.

3. Maroko dan Afrika Utara

Di Maroko, Kementerian Urusan Islam menetapkan Tahun Baru Islam sebagai hari libur nasional. Seperti dilaporkan Morocco World News, sebagian masyarakat menyambutnya dengan makan bersama keluarga besar, menyajikan hidangan seperti couscous dan berbagai makanan tradisional lainnya. Meski lebih bersifat kekeluargaan dan tidak semeriah perayaan lain, hari ini tetap dianggap sebagai momen penting untuk berdoa dan memberi selamat satu sama lain.

4. Indonesia dan Asia Tenggara

Di Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam, perayaan Tahun Baru Hijriah diwarnai oleh tradisi lokal. Di Indonesia misalnya, pawai obor menjadi simbol penerangan jalan hidup di tahun yang baru. Selain itu, digelar pula doa bersama, pengajian, dan selawatan. Seperti yang disampaikan oleh Fakhrurazi dari UMJ, “Perayaan seperti tahlilan, selawatan, doa bersama, atau makan-makan bersama pun boleh dilakukan, selama niatnya untuk menambah semangat keislaman dan mempererat silaturahmi.”

5. Bagdad di Masa Lalu

Menariknya, dalam catatan sejarah seperti ditulis oleh qalam.global, Baghdad pada abad ke-8 hingga ke-10 menjadi pusat kosmopolitan yang merayakan berbagai tahun baru dari beragam tradisi agama. Meski Tahun Baru Hijriah bukan momen besar, tetap ada perayaan sederhana, termasuk pembagian hadiah dan pertunjukan teater yang ditonton khalifah dari atas panggung khusus. Ini menandakan bahwa tahun baru juga pernah menjadi bagian dari kebudayaan dan perayaan resmi di masa keemasan peradaban Islam.

 

FAQ Tentang Tahun Baru Islam

1. Apa itu Tahun Baru Islam (Hijriah)?

Tahun Baru Islam adalah penanda awal tahun dalam kalender Hijriah, yang dimulai pada 1 Muharam. Kalender ini didasarkan pada peredaran bulan dan dimulai sejak peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah pada tahun 622 M.

2. Mengapa Tahun Baru Islam dimulai dari peristiwa hijrah, bukan kelahiran Nabi?

Penetapan ini dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Hijrah dipilih karena merupakan peristiwa monumental yang menandai awal terbentuknya masyarakat Islam yang terorganisir, bukan sekadar kejadian pribadi atau kemenangan militer.

3. Bagaimana umat Islam merayakan Tahun Baru Hijriah?

Berbeda dengan tahun baru Masehi, Tahun Baru Islam dirayakan secara sederhana dan lebih bersifat spiritual. Umat Islam memperingatinya dengan doa bersama, zikir, pengajian, hingga pawai obor di beberapa daerah. Di negara-negara seperti Iran, Arab Saudi, dan Maroko, ada tradisi lokal yang khas dan berbeda.

4. Apa makna spiritual dari Tahun Baru Islam?

Tahun Baru Islam menjadi momen reflektif untuk memperbaiki diri, meningkatkan ketakwaan, dan menjauhi maksiat. Momen ini digunakan untuk introspeksi serta menata niat dan resolusi ke arah yang lebih baik dalam kehidupan dunia dan akhirat.

5. Apakah ada perbedaan perayaan antara Sunni dan Syiah dalam menyambut Muharam?

Ya, ada. Umat Syiah memperingati 10 hari pertama Muharam sebagai masa berkabung atas wafatnya cucu Nabi, Imam Husain, di Karbala. Sementara itu, umat Sunni lebih menekankan puasa dan doa pada hari Asyura, tanpa ritual berkabung yang mendalam. 

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6