Rabu Wekasan Adalah Hari Rabu Terakhir di Bulan Safar, Pahami Makna Filosofia

Sejarah, makna, dan amalan dalam tradisi Rabu Wekasan.

Diperbarui 11 Juni 2025, 13:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Rabu wekasan adalah salah satu tradisi Islam Nusantara yang masih lestari hingga kini, khususnya di kalangan masyarakat Jawa dan sebagian Sumatera. Dilansir dari situs Desa Suci Kabupaten Gresik, Rebo artinya nama hari dalam bahasa Jawa, yaitu Rabu dalam bahasa Indonesia, sedangkan Wekasan adalah bahasa Jawa yang artinya pungkasan atau akhir. Jadi, Rabu Wekasan secara bahasa adalah hari Rabu Terakhir.

Rabu wekasan merujuk pada hari Rabu terakhir di bulan Safar, bulan kedua dalam kalender Hijriah. Dalam keyakinan sebagian masyarakat, hari tersebut dipercaya sebagai waktu turunnya berbagai bala atau musibah, sehingga umat Muslim dianjurkan untuk meningkatkan ibadah, memperbanyak doa, dan melakukan amalan-amalan tertentu demi memohon perlindungan dari Allah.

Meskipun tidak terdapat dalil syar’i yang secara khusus menetapkan Rabu Wekasan sebagai hari turunnya musibah, masyarakat tetap memaknainya sebagai bentuk ikhtiar spiritual. Rabu Wekasan adalah momen reflektif di mana umat memanjatkan doa keselamatan, melaksanakan shalat sunnah tolak bala, membaca surat Yasin, dan berbagi sedekah. Semua ini dilakukan bukan untuk mempercayai hari sial, tetapi sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah agar dijauhkan dari marabahaya yang tidak terlihat dan tidak terduga.

Dari sisi budaya, Rabu Wekasan memperlihatkan bagaimana nilai-nilai keislaman dihidupkan dalam tradisi lokal yang sarat makna. Di beberapa daerah, Rabu Wekasan juga menjadi ajang penguatan ikatan sosial, seperti pengajian bersama atau kenduri. Meskipun ada perbedaan pandangan dalam menilai keabsahannya, tak dapat dimungkiri bahwa Rabu Wekasan adalah wujud kearifan lokal yang tumbuh dari rasa keimanan, harapan, dan kepedulian terhadap sesama, yang terus diwariskan lintas generasi.

Berikut ini Liputan6.com ulas selengkapnya, Rabu (11/6/2025). 

Rabu Wekasan Adalah

Dilansir dari situs Desa Suci Kabupaten Gresik, Rebo artinya nama hari dalam bahasa Jawa, yaitu Rabu dalam bahasa Indonesia, sedangkan Wekasan adalah bahasa Jawa yang artinya pungkasan atau akhir. Jadi, Rabu Wekasan secara bahasa adalah hari Rabu Terakhir. 

Namun, sebagai sebuah istilah tradisi, Rabu Wekasan adalah tradisi budaya yang diadakan pada hari Rabu terakhir di bulan Safar, yakni bulan kedua dari dua belas bulan dalam sistem penanggalan Hijriyah. Tradisi ini berkembang di tengah masyarakat Muslim Nusantara, khususnya di wilayah Jawa, sebagai bentuk kearifan lokal yang dipengaruhi oleh nilai-nilai spiritual Islam.

Pada Rabu Wekasan dipercaya sebagai waktu turunnya banyak bala atau musibah ke bumi. Keyakinan ini telah berkembang secara turun-temurun dan menjadi bagian dari praktik keagamaan dan budaya yang dijalankan secara kolektif oleh sebagian masyarakat Muslim Indonesia.

Meski tidak ada dalil yang secara eksplisit menyebutkan keistimewaan atau kewaspadaan khusus terhadap hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam ajaran Islam formal, sebagian masyarakat tetap meyakininya sebagai hari yang memerlukan kehati-hatian dan peningkatan ibadah. Oleh karena itu, pada hari Rabu Wekasan, biasanya masyarakat melaksanakan shalat sunnah tolak bala, membaca Surat Yasin sebanyak tiga kali, memperbanyak istighfar, serta melakukan sedekah sebagai bentuk permohonan perlindungan dari berbagai musibah yang mungkin terjadi.

Sejarah dan Asal-Usul Rabu Wekasan

Dikutip dari situs Warisan Budaya Takbenda Indonesia Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sejarah dan asal-usul tradisi Rabu Wekasan memiliki beragam versi yang berkembang di masyarakat. Salah satu versi menyebutkan bahwa tradisi ini telah ada sejak tahun 1784, yang dikaitkan dengan sosok ulama bernama Kyai Faqih Usman, seorang tokoh yang dikenal memiliki keahlian mendalam di bidang agama dan pengobatan tradisional. Ia kemudian lebih dikenal dengan nama Kyai Welit atau Kyai Wonokromo Pertama. Masyarakat percaya bahwa Kyai Faqih mampu menyembuhkan berbagai penyakit melalui metode penyembuhan spiritual dengan media air yang telah dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an (dikenal dengan istilah disuwuk). Karena keistimewaan dan jasa-jasanya, Kyai Faqih mendapatkan pujian dari Sri Sultan Hamengku Buwono I. Sejak wafatnya Kyai tersebut, keyakinan tentang keberkahan hari Rabu terakhir di bulan Safar tetap hidup, sehingga masyarakat terus mengadakan ritual Rabu Wekasan sebagai bentuk ikhtiar spiritual.

Versi lain menyebutkan bahwa tradisi Rabu Wekasan juga memiliki keterkaitan kuat dengan sejarah Kerajaan Mataram, khususnya pada masa pemerintahan Sultan Agung pada abad ke-17. Saat itu, wilayah Mataram dilanda wabah penyakit atau pagebluk. Untuk meredam keresahan rakyat dan memohon perlindungan dari Allah, diselenggarakanlah ritual tolak bala yang kemudian dikenal sebagai bagian dari tradisi Rabu Wekasan. Praktik ini kemudian menjadi adat turun-temurun yang tidak terlepas dari unsur religius dan budaya keraton.

Sementara versi ketiga mengangkat latar cerita dari Desa Wonokromo, tempat asal Kyai Muhammad Faqih yang juga dikenal sebagai Kyai Welit karena kesehariannya membuat welit (atap dari daun rumbia). Dalam versi ini, Kyai Welit dikenal sebagai tokoh spiritual yang sering dimintai tolak bala dalam bentuk wifik atau rajah Arab yang dituliskan pada kertas khusus, kemudian direndam dalam air dan digunakan untuk mandi sebagai simbol perlindungan diri. Tradisi ini berkembang menjadi kebiasaan masyarakat di malam menjelang Rabu terakhir Safar, dan akhirnya disebut sebagai Rabu Wekasan.

Di sisi lain, terdapat pula keyakinan bahwa Rabu Wekasan berkaitan erat dengan sejarah penyebaran Islam di Jawa oleh para wali, khususnya Wali Songo. Ulama seperti Abdul Hamid Quds bahkan menyebut bahwa pada hari Rabu terakhir bulan Safar, Allah menurunkan 32.000 bala ke bumi. Dalam konteks ini, Wali Songo diyakini memiliki andil besar dalam memperkenalkan dan mengembangkan ritual Rabu Wekasan sebagai bagian dari dakwah yang dikemas dalam bentuk budaya lokal. Di Gresik, misalnya, masyarakat Desa Suci meyakini bahwa Sunan Giri pernah memberikan petunjuk tentang sumber air penyelamat saat terjadi kekeringan, dan ia pula yang memberi pesan agar masyarakat menggelar ritual Rabu Wekasan sebagai sarana permohonan keselamatan kepada Tuhan.

Makna dan Tujuan Rabu Wekasan

Rabu Wekasan memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat yang masih melestarikannya. Tradisi ini bertujuan sebagai sarana tolak bala atau menangkal marabahaya yang dipercaya banyak turun pada bulan Safar. Beberapa ulama, seperti yang dikutip dalam kitab Al-Risalah Al-Badi'ah, menyebutkan bahwa pada bulan Safar, Allah SWT menurunkan lebih dari 500 macam penyakit.

Selain sebagai upaya tolak bala, Rebo Wekasan juga menjadi momentum untuk meningkatkan ketakwaan dan rasa syukur kepada Allah SWT. Melalui berbagai ritual dan amalan yang dilakukan, masyarakat berharap mendapatkan perlindungan dan keberkahan dari Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Hud ayat 90:

وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَوَدُودٌ

Artinya: "Dan mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sungguh, Tuhanku Maha Penyayang, Maha Pengasih." (QS. Hud: 90)

Ayat ini menjadi salah satu landasan spiritual dalam tradisi Rabu Wekasan, di mana umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak istighfar dan bertobat kepada Allah SWT.

Amalan dan Ritual dalam Rabu Wekasan

Dalam memperingati Rabu Wekasan, terdapat beberapa amalan dan ritual yang biasa dilakukan oleh masyarakat, di antaranya:

1. Mandi Tolak Bala

Sebagian masyarakat melakukan ritual mandi dengan air yang telah diberi doa-doa khusus. Ritual ini diyakini dapat membersihkan diri dari segala marabahaya.

2. Salat Sunah

Dilaksanakan salat sunah empat rakaat dengan niat salat mutlak. Dalam setiap rakaatnya dibaca:

  • Surat Al-Fatihah 1 kali
  • Surat Al-Kautsar 17 kali
  • Surat Al-Ikhlas 5 kali
  • Surat Al-Falaq 1 kali
  • Surat An-Nas 1 kali

3. Membaca Doa Khusus

Setelah salat, dibaca doa Rabu Wekasan yang cukup panjang. Doa ini berisi permohonan perlindungan dari segala marabahaya dan penyakit.

4. Memperbanyak Istighfar

Sesuai dengan anjuran dalam Al-Qur'an, masyarakat dianjurkan untuk memperbanyak istighfar pada hari tersebut.

5. Sedekah dan Silaturahmi

Sebagai wujud rasa syukur, masyarakat juga dianjurkan untuk bersedekah dan memperkuat tali silaturahmi.

 

Perkembangan Tradisi Rabu Wekasan

Seiring perkembangan zaman, pelaksanaan tradisi Rabu Wekasan mengalami beberapa perubahan. Di beberapa daerah, tradisi ini masih dilaksanakan secara meriah dengan berbagai ritual adat. Namun di daerah lain, perayaannya lebih sederhana dan lebih fokus pada aspek spiritual seperti berdoa dan beribadah.

Meski demikian, esensi dari Rebo Wekasan tetap sama, yaitu sebagai momentum untuk meningkatkan ketakwaan dan memohon perlindungan Allah SWT. Tradisi ini menjadi bukti bagaimana Islam dapat berakulturasi dengan budaya lokal tanpa menghilangkan nilai-nilai fundamental agama.

Rabu Wekasan merupakan tradisi yang kaya akan nilai-nilai spiritual dan kearifan lokal. Meski pelaksanaannya bervariasi di berbagai daerah, inti dari tradisi ini adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memohon perlindungan-Nya. Sebagai bagian dari khazanah budaya Indonesia, Rebo Wekasan menjadi cerminan bagaimana agama dan budaya dapat berjalan beriringan dalam kehidupan masyarakat.

QnA tentang Rabu Wekasan

Q: Apa itu Rabu Wekasan?

A: Rabu Wekasan adalah hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Hijriah. Hari ini diyakini oleh sebagian masyarakat, khususnya di Indonesia, sebagai waktu turunnya bala atau musibah ke bumi, sehingga dirayakan dengan amalan-amalan tolak bala.

 

Q: Apa saja amalan yang dilakukan saat Rabu Wekasan?

A: Di antaranya adalah shalat sunnah tolak bala dua rakaat, membaca Surat Yasin tiga kali, memperbanyak istighfar, sedekah, dan doa keselamatan. Amalan ini dilakukan sebagai bentuk ikhtiar spiritual agar terhindar dari marabahaya.

Q: Apakah Rabu Wekasan ada dalam ajaran Islam?

A: Tidak ada dalil syar’i yang secara langsung menyebut Rabu Wekasan. Namun, selama tradisi ini tidak diyakini sebagai hal wajib atau mutlak dan dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, sebagian ulama membolehkannya sebagai bentuk budaya dan kearifan lokal.

Q: Apakah mempercayai Rabu Wekasan termasuk perbuatan syirik?

A: Tidak, selama tidak meyakini bahwa hari tersebut membawa sial secara mutlak. Jika tujuannya untuk memperbanyak doa dan ibadah, serta tidak bertentangan dengan prinsip tauhid, maka hal tersebut masih dalam batas yang dibolehkan menurut sebagian ulama.

Q: Mengapa bulan Safar dianggap membawa musibah?

A: Dalam budaya lokal, Safar sering dikaitkan dengan energi negatif atau waktu turunnya banyak ujian. Namun, dalam Islam secara umum, semua bulan adalah sama mulianya, dan tidak ada bulan yang dianggap membawa sial. Anggapan ini berkembang karena warisan tradisi dan pengalaman sosial masyarakat di masa lalu.

Q: Apakah semua umat Islam memperingati Rabu Wekasan?

A: Tidak. Tradisi ini umumnya dikenal dan dijalankan oleh sebagian masyarakat Indonesia, terutama di daerah Jawa dan Madura. Banyak umat Islam lainnya yang tidak merayakan karena tidak ada tuntunan langsung dari Al-Qur’an atau hadis.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6