Arti Mad Shilah Qashirah dan Cara Bacanya, Ketahui Bedanya dengan Mad Shilah Thawilah

Mad shilah merupakan salah satu jenis mad yang terdapat di dalam Al-Qur’an.

Diperbarui 17 Juni 2025, 14:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Mad shilah adalah salah satu hukun bacaan tajwid dalam Al-Qur’an yang sangat penting dipahami umat Islam. Bila pemahaman terhadap hukum mad minim, maka kamu bisa salah dalam membaca Al-Qur’an. Seorang muslim bisa saja memendekkan bacaan yang seharusnya dibaca panjang maupun sebaliknya memanjangkan bacaan yang seharusnya dibaca pendek.

Secara bahasa, mad mempunyai arti panjang. Sementara itu, secara istilah mad artinya adalah membaca panjang pada huruf yang ada pada Al-Qur’an. Hal ini dikarenakan bertemunya huruf dengan beberapa huruf mad seperti hamzah, wawu, dan yak. Panjangnya bacaan tergantung dari macam-macam mad itu sendiri.

Sebagaimana dijelaskan dalam jurnal Penerapan Fonetik Akustik Dalam Bacaan Mad Alquran (Studi Kasus Pada Qiraat Qari Internasional, mad adalah pemanjangan suara bacaan sesuai aturan tajwid tertentu.

Mad shilah merupakan salah satu jenis mad yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Mad shilah terbagi lagi menjadi dua, yaitu mad shilah thawilah dan mad shilah qashirah. Kamu tentunya wajib memahami kedua mad ini agar bisa membaca Al-Qur’an dengan cara yang benar.

Berikut Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Selasa (25/6/2025) tentang mad shilah.

 

Pengertian Mad Shilah

Mad shilah merupakan salah satu hukum tajwid yang penting dipahami umat Islam. Mad shilah termasuk ke dalam salah satu jenis mad dalam membaca Al-Qur’an. Secara bahasa, mad shilah artinya hubungan, sedangkan secara istilah berarti mad tambahan atau panjang. Mad shilah juga disebut sebagai mad tambahan dari mad asli/tabi'i yang disebabkan oleh ha dhamir (ه).

Menurut istilah, mad adalah memanjangkan suara bacaan huruf Al-Qur’an disebabkan adanya huruf mad sesuai aturan-aturan yang berlaku. Sementara kata shilah artinya bergabung atau berhubungan. Mad shilah adalah mad yang berlaku pada huruf ha dhamir atau kata ganti. Khususnya pada hu dan hi yang berarti dia. Letak mad ini selalu di akhir kalimat.

Melansir dari Uhamka, mad shilah adalah salah satu hukum mad far’i dalam ilmu tajwid yang terjadi apabila terdapat ha’ dhamir berharakat dhammah maupun kasrah, terletak di akhir kata, tidak dibaca waqaf, tidak dibaca sambung dengan huruf berikutnya dan sebelumnya adalah huruf yang berharakat hidup bukan mad. Mad Shilah ini terbagi menjadi dua, yaitu mad shilah thawilah dan mad shilah qashirah.

 

Pengertian Mad Shilah Thawilah secara Bahasa dan Istilah

Pengertian Mad Shilah Thawilah

Dijelaskan di jurnal Penerapan Fonetik Akustik dalam Bacaan Mad Alquran (Studi Kasus pada Qiraat Qari Internasional oleh Hiluz (2019),

Secara bahasa, kata "mad" berasal dari bahasa Arab yang berarti "memanjangkan" atau "menambah." Sedangkan "shilah" berarti "sambungan" dan "thawilah" berarti "panjang." Dengan demikian, secara etimologis Mad Shilah Thawilah dapat diartikan sebagai "pemanjangan sambungan yang panjang." Pengertian ini merujuk pada perpanjangan bunyi pada huruf tertentu dalam bacaan Al-Qur’an, yang berlangsung lebih lama dari mad pendek. Mad ini berfungsi untuk menjaga kesinambungan antar huruf agar bacaan terdengar fasih dan tartil.

Secara istilah dalam ilmu tajwid, Mad Shilah Thawilah adalah hukum tajwid yang terjadi ketika ada huruf ha’ dhamir (yaitu huruf ha yang merujuk pada kata ganti orang ketiga) yang berharakat dhammah atau kasrah, kemudian setelahnya langsung diikuti oleh huruf hamzah (ء) dalam satu rangkaian kata yang sama. Dalam kondisi ini, bacaan ha' dhamir tersebut dipanjangkan menjadi 4 hingga 5 harakat. Bacaan ini termasuk ke dalam kelompok mad far’i (mad cabang) dan sering disebut juga Mad Kubra karena panjangnya yang mencapai dua setengah alif.

Dilansir dari jurnal Penerapan Fonetik Akustik dalam Bacaan Mad Alquran oleh Hiluz (2019), disebutkan bahwa “Pemanjangan pada mad shilah thawilah dimaksudkan untuk memperjelas makna, memperindah bacaan, dan menghindari kekeliruan fonetik dalam pelafalan kata yang memiliki makna gramatikal penting.” Dengan demikian, fungsi utama mad ini tidak hanya dalam aspek estetika bacaan, tetapi juga ketepatan makna dalam komunikasi kitab suci.

Pengertian Mad Shilah Qasirah 

Kata “qasirah” dalam bahasa Arab berarti “pendek.” Maka, Mad Shilah Qasirah berarti “mad sambungan pendek.” Ini menunjuk pada bentuk mad yang durasi pemanjangannya hanya dua harakat (satu alif), lebih singkat dibanding Mad Shilah Thawilah. Seperti pada mad lainnya, tujuan dari mad ini tetap untuk menjaga kelancaran bacaan dan pengucapan yang benar sesuai kaidah fonetik tajwid. Mad ini tidak muncul jika tidak ada ha' dhamir yang berharakat dan tidak memenuhi syarat tertentu.

Secara istilah, Mad Shilah Qasirah adalah hukum bacaan tajwid yang terjadi ketika ada huruf ha’ dhamir yang berharakat dhammah atau kasrah, tetapi tidak diikuti oleh huruf hamzah setelahnya. Dalam kondisi ini, suara ha’ akan disambungkan secara halus dengan huruf setelahnya dengan penambahan suara wawu kecil (jika dhammah) atau ya kecil (jika kasrah), dan dibaca sepanjang dua harakat. Karena tidak ada tekanan fonetik dari hamzah setelahnya, maka panjang bacaan ini cukup pendek.

Menurut Hiluz (2019), “Dalam bacaan qari internasional, mad shilah qasirah tetap dipertahankan pelafalannya untuk menjaga keaslian makna kata dan memperindah pembacaan, meskipun tidak sejelas mad panjang.” Ini menunjukkan bahwa mad ini berfungsi dalam menjaga keselarasan bacaan serta aspek estetika suara, terutama dalam qira’at yang memiliki aturan ketat terhadap fonetik dan tempo bacaan.

 

Cara Membaca Mad Shilah Thawilah dan Mad Shilah Qasirah

Dalam ilmu tajwid, aturan hukum Mad Shilah Thawilah dan Shilah Qasirah dibedakan berdasarkan kondisi setelah huruf ha’ dhamir dan panjang durasi bacaan. Menurut buku Ilmu Tajwid Praktis karangan Muhammad Amri Amir, mad shilah thawilah terjadi bila ha’ dhamir (kata ganti “hi/hu”) yang berharakat kasrah atau dhammah kemudian diikuti hamzah dalam satu kata. Bacaan ini dipanjangkan 4–5 harakat (≈ 2½ alif) Jika tidak diikuti hamzah, maka berlaku hukum Mad Shilah Qasirah.

Durasi bacaan menjadi pembeda penting di antara keduanya. Mad Shilah Qasirah dibaca selama dua harakat (satu alif), sedangkan Mad Shilah Thawilah dibaca selama empat hingga lima harakat (dua sampai dua setengah alif). Keduanya termasuk dalam kategori mad far’i, namun Shilah Thawilah masuk dalam kelompok yang lebih ditekankan karena berpotensi mengubah makna jika dibaca tidak tepat. Durasi ini sangat penting dalam pembacaan Al-Qur’an karena setiap perubahan panjang-pendek bacaan bisa berpengaruh pada kefasihan dan pemahaman terhadap isi ayat.

Dalam jurnal Penerapan Fonetik Akustik (Hiluz, 2019), disebutkan bahwa “Durasi harakat pada bacaan mad ditentukan tidak hanya oleh jumlah harakat secara teoritis, tetapi juga oleh efek fonetik dari huruf setelahnya.” Artinya, kehadiran huruf hamzah setelah ha’ dhamir memperkuat kebutuhan akan pemanjangan suara. Oleh karena itu, ketelitian dalam mengenali huruf setelah ha’ dhamir menjadi sangat penting dalam menentukan hukum bacaannya. Pemahaman yang tepat atas aturan ini sangat dibutuhkan, terutama bagi pembaca Al-Qur’an yang ingin membaca dengan tartil dan fasih sesuai dengan tuntunan Rasulullah.

Mad Shilah Qasirah beserta Contohnya

Sebelum mengenali mad shilah thawilah, kamu perlu memahami mad shilah qashirah terlebih dahulu. Mad Shilah Qashirah terjadi jika ada haa dhamir sedangkan sebelum haa tadi terdapat huruf hidup (berharakat). Mad shilah qashirah adalah mad silah yang pendek, artinya mad ini terjadi sesudah bersambungnya ha dhamir dengan huruf hidup.

Biasanya mad shilah qashirah adalah mad shilah yang tidak diiringi oleh huruf hamzah. Hukum atau cara membacanya adalah satu alif atau dua harakat, seperti panjang dari mad tabi’i.

Contoh Mad Shilah Qashirah

1. Surat An-Nazi'at ayat 40

وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰىۙ

Wa ammaa man khaafa maqooma Rabbihii wa nahan nafsa 'anil hawaa (ha dhamir kasrah).

2. Surat An-Naba ayat 15

لِّنُخْرِجَ بِهٖ حَبًّا وَّنَبَاتًاۙ

Linukh rija bihii habbaw wana baata (ha dhamir kasrah).

3. Surat Abasa ayat 6

فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ

Fa-anta lahu tasaddaa (ha dhamir dhammah).

4. Surat An-Nazi'at ayat 16

اِذْ نَادٰىهُ رَبُّهٗ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًىۚ

Iz nadaahu rabbuhu bil waadil-muqad dasi tuwa (ha dhamir dhammah).

5. Surat An-Nazi'at ayat 17

اِذْهَبْ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰىۖ

Izhab ilaa fir'auna innahu taghaa (ha dhamir dhammah).

6. Surat Abasa ayat 3

وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ

Wa maa yudriika la'allahu yaz zakkaa (ha dhamir dhammah).

7. Surat An-Naba ayat 39

ذٰلِكَ الْيَوْمُ الْحَقُّۚ فَمَنْ شَاۤءَ اتَّخَذَ اِلٰى رَبِّهٖ مَاٰبًا

Zaalikal yaumul haqqu faman shaa-at ta khaaza ill-laa rabbihi ma-aaba (ha dhamir kasrah).

Mad Shilah Thawilah beserta Contohnya

Mad shilah thawilah terjadi apabila ada mad shilah qashirah bertemu dengan hamzah ( ء ). Mad silah thawilah merupakan mad yang dibaca panjang, yakni apabila ada ha dhomir bertemu dengan hamzah qata’ atau hamzah yang berharakat atau masih hidup.

Cara membacanya adalah seperti Mad Jaiz Munfashil. Hukum atau cara membacanya adalah dibaca panjang 1, 2, atau 3 alif yang berarti 2,4, atau 6 harakat.

Contoh Mad Silah Thawilah

1. Surat Al Baqarah ayat 90

بِهِ أَنْفُسَهُمْ

bihii angfusahum.

Huruf ha dhamir pada kata bihii bertemu dengan hamzah berharakat fathah sehingga dibaca panjang 5 harakat.

2. Surat Al Baqarah ayat 93

بِهِ إِيمَانُكُمْ

bihii iymaanukum.

Huruf ha dhamir pada kata bihii bertemu dengan hamzah berharakat kasrah sehingga dibaca panjang 5 harakat.

3. Surat Ali Imran ayat 7

تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ

takwiilahuu illallah.

Huruf ha dhamir pada kata takwiilahuu bertemu hamzah berharakat kasrah sehingga dibaca panjang 5 harakat.

4. Surat Ali Imran ayat 30

وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا

wabainahuu amadamba'iidaa.

Huruf ha dhamir pada kata wabainahuu bertemu dengan hamzah berharakat fathah sehingga dibaca panjang 5 harakat.

5. Surat Ali Imran ayat 36

وَضَعْتُهَا أُنْثَىٰ

wadho'tuhaa untsaa.

Huruf ha dhamir pada kata wadho’tuhaa bertemu dengan hamzah berharakat dhommah sehingga dibaca panjang 5 harakat.

6. Surat Al Humazah ayat 3

يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخْلَدَهُۥ

Huruf ‘ha dhamir’ pada bacaan Anna maa lahuu bertemu dengan hamzah berharakat fathah, sehingga dibaca panjang 5 harakat.

7. Surat Al Muthafifin Ayat 21

وَمَا يُكَذِّبُ بِهٖۤ اِلَّا كُلُّ مُعۡتَدٍ اَثِيۡمٍ

Huruf ‘ha dhamir’ pada bacaan yukazzibu bihiii bertemu dengan hamzah berharakat fathah, sehingga dibaca panjang 5 harakat.

FAQ - Pertanyaan Umum Seputar Mad Shilah Thawilah dan Mad Shilah Qashirah

1. Apa perbedaan utama antara Shilah Thawilah dan Qashirah?

Shilah Qashirah dibaca pendek (2 harakat), tanpa hamzah setelah ha’ dhamir.Shilah Thawilah dibaca panjang (4–5 harakat), karena ha’ dhamir diikuti hamzah dalam satu kata.

2. Mengapa penting membedakan keduanya?

Keduanya masuk kategori mad dengan durasi berbeda. Kesalahan durasi bisa merubah makna atau merusak tartil bacaan Qur’an.

3. Bagaimana cara mengetahui apakah hamzah ada atau tidak?

Lihat huruf setelah ha’ dhamir: jika harakat dhammah/kasrah dan diikuti hamzah dalam kata yang sama → Shilah Thawilah; jika tidak, → Shilah Qashirah.

4. Apa kaitannya dengan durasi harakat?

Shilah Qashirah tetap di 2 harakat (pendek) sedangkan Thawilah memperpanjang bacaan menjadi 4–5 harakat (panjang).

5. Apa akibat jika salah membaca durasi mad?

Bisa menghilangkan keindahan tajwid (tartil), dan apabila mengubah huruf/tafsir, bacaan bisa menjadi tidak sah dan melenceng maknanya.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6