Liputan6.com, Jakarta Cultural lag adalah situasi yang terjadi pada masyarakat ketika budaya baru masuk ke komunitasnya. Cultural lag umumnya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap perubahan yang terjadi di sekitar mereka. Kondisi ini sebetulnya hanya proses transisi dari masyarakat yang beradaptasi dengan budaya yang baru.
Meski demikian, cultural lag adalah situasi yang dapat memicu konflik, kesenjangan, atau hambatan dalam masyarakat. Oleh karena itu, upaya antisipasi dalam mengatasi cultural lag diperlukan agar masyarakat dapat beradaptasi dengan perubahan sosial dengan lebih efektif dan mengurangi ketidakseimbangan antara aspek sosial dan budaya.
Cultural lag adalah fenomena yang tidak selalu berakhir pada hal negatif. Dalam beberapa kasus, cultural lag dapat memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk berkembang. Berikut ulasan tentang cultural lag adalah ketimpangan di masyarakat karena masuknya budaya baru yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Rabu (12/7/2023).
Advertisement
Culture Lag Sebagai Konsep Sosiologi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4430751/original/098087500_1684296311-farhan-abas-sHLxeo8is3k-unsplash.jpg)
Cultural lag dalam bahasa Indonesia disebut sebagai ketertinggalan budaya. Cultural lag adalah konsep dalam sosiologi yang diperkenalkan oleh sosiolog William F. Ogburn pada tahun 1922. Ogburn menjelaskan, kebudayaan dan pertumbuhan tidak selalu selaras. Cultural lag adalah salah satu kondisi yang diakibatkan oleh perbedaan taraf kemajuan berbagai kebudayaan. Cultural lag terjadi ketika perubahan dalam masyarakat, seperti teknologi, ekonomi, atau kelembagaan sosial, berlangsung lebih cepat daripada perubahan dalam budaya yang sesuai.
Setiap komunitas masyarakat pasti memiliki aspek budaya yang mencakup nilai-nilai, norma-norma, kepercayaan, tradisi, dan praktik-praktik yang dipegang oleh anggota masyarakat tersebut. Aspek budaya ini tidak selalu dapat secara cepat beradaptasi dengan perubahan sosial yang terjadi di sekitarnya. Proses perubahan budaya biasanya memerlukan waktu yang lebih lama karena melibatkan pergeseran dalam pemikiran, nilai, dan perilaku masyarakat secara keseluruhan.
Misalnya, dalam konteks teknologi, mungkin ada kemajuan besar dalam bidang komunikasi seperti internet atau media sosial. Teknologi ini dapat mengubah cara orang berinteraksi, mendapatkan informasi, atau melakukan pekerjaan. Namun, budaya masyarakat mungkin belum sepenuhnya memahami implikasi dan dampaknya. Hal ini dapat mengakibatkan kesenjangan antara adopsi teknologi dan pemahaman budaya yang sesuai. Masyarakat mungkin menghadapi tantangan dalam menyesuaikan norma, etika, privasi, atau implikasi sosial yang terkait dengan teknologi ini.
Cultural lag dapat berakhir pada hal yang negatif maupun positif. Pada satu sisi, situaisi transisi ini dapat memberikan waktu bagi masyarakat untuk mengevaluasi dan memahami perubahan yang terjadi sebelum mengadopsinya sepenuhnya. Ini dapat membantu masyarakat mengurangi dampak negatif atau tidak diinginkan dari perubahan tersebut.Â
Namun, di sisi lain, cultural lag juga dapat menyebabkan konflik atau ketidakcocokan dalam masyarakat, terutama ketika perubahan sosial terjadi dengan cepat dan budaya tidak dapat mengikuti dengan cukup cepat.
Advertisement
Faktor Pemicu Cultural Lag
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4357703/original/018059900_1678778580-WhatsApp_Image_2023-03-14_at_14.21.25.jpeg)
Perbedaan taraf kemajuan menjadi bagian dari cultural lag. Berikut faktor yang menjadi pemicu terjadinya culture lag.
1. Kurangnya Minat Masyarakat pada Pembangunan Sosial
Beberapa anggota masyarakat mungkin tidak tertarik atau tidak memperhatikan perubahan yang terjadi dalam bidang tertentu yang perlu disesuaikan dengan perkembangan sosial. Mereka mungkin tidak memperoleh pengetahuan atau pemahaman yang cukup tentang perubahan tersebut, sehingga sulit bagi mereka untuk beradaptasi dengan budaya yang baru.
2. Hambatan Pembangunan Secara Umum
Faktor-faktor seperti kemiskinan, kurangnya sumber daya, atau ketidakstabilan politik dapat menjadi hambatan dalam melakukan pembangunan dan perubahan sosial. Jika masyarakat mengalami keterbatasan dalam akses terhadap pendidikan, teknologi, atau infrastruktur yang diperlukan untuk beradaptasi dengan perubahan budaya, maka cultural lag dapat terjadi.
3. Kurangnya Kontak dengan Budaya Lain
Ketika seseorang atau suatu kelompok masyarakat mengisolasi diri dari budaya material yang ada di masyarakat lain, mereka cenderung tidak terpapar dengan perubahan dan perkembangan yang terjadi. Ini dapat menyebabkan ketertinggalan budaya karena mereka tidak mampu atau tidak tertarik untuk beradaptasi dengan budaya yang baru.
4. Heterogenitas MasyarakatÂ
Ketika masyarakat memiliki kesatuan yang kuat dalam suatu wilayah, mereka mungkin lebih enggan atau sulit untuk berubah dan beradaptasi dengan perubahan budaya yang terjadi di luar wilayah mereka. Faktor-faktor seperti identitas budaya yang kuat, tradisi yang kental, atau isolasi geografis dapat mempengaruhi ketertinggalan budaya ini.
Perbedaan Cultural Lag dan Cultural Shock
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3298889/original/079039500_1605615038-pexels-yogendra-singh-1630786.jpg)
Cultural lag terjadi ketika ada ketimpangan atau kesenjangan dalam adaptasi unsur kebudayaan terhadap perubahan budaya lain yang terjadi. Ini terjadi ketika aspek-aspek budaya tertentu lambat beradaptasi dengan perubahan sosial, teknologi, atau perkembangan lainnya.Â
Dalam cultural lag, unsur budaya tertentu tidak mampu mengikuti atau beradaptasi dengan perubahan budaya yang lebih luas dalam masyarakat. Hal ini dapat menyebabkan kesenjangan antara perubahan dalam masyarakat dan perubahan dalam aspek budaya yang berkaitan.
Cultural shock terjadi ketika individu atau masyarakat mengalami guncangan atau ketidaknyamanan akibat belum siap menerima kebudayaan baru. Ini dapat terjadi ketika ada perubahan lingkungan budaya yang signifikan, seperti individu yang pindah dari desa ke kota atau ketika seseorang mengalami perbedaan budaya yang besar saat berada di lingkungan baru. Cultural shock dapat menyebabkan stres, kebingungan, dan ketidaknyamanan psikologis, karena individu atau kelompok harus menyesuaikan diri dengan cara baru berinteraksi, kebiasaan, dan norma budaya.
Dapat disimpulkan, cultural shock berhubungan dengan keguncangan dan ketidaknyamanan individu saat beradaptasi dengan budaya baru. Sedangkan, cultural lag berkaitan dengan ketidakseimbangan atau ketidakcocokan dalam adaptasi unsur budaya terhadap perubahan budaya yang lebih luas.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261063/original/026293200_1781677316-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-17T130056.370.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8682083/original/077005500_1782732215-dedi_mulyadi_-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5495122/original/083308700_1770356146-Menteri_Keuangan__Menkeu__Purbaya_Yudhi_Sardewa-6_Februari_2026b.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5537107/original/075541100_1774410122-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-03-25T095300.861.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3235896/original/046311000_1777366243-pp.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1551452/original/097977500_1490848903-673x373.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812256/original/019737900_1776314232-pexels-beyzaa-yurtkuran-279977530-17071110.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263380/original/090952300_1781922466-AP26171045705794-Brasil_vs_Haiti.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5415752/original/060786800_1763419826-000_84BP8PA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263965/original/063636200_1782038065-000_B7RD77E.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8312896/original/014782800_1782180155-000_B7XU3U2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5381016/original/018832800_1760444417-AP25287418037906.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4728012/original/006431800_1706361596-000_34GE37C.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8666203/original/007626600_1782698654-000_B8H28ZD.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8633516/original/070380800_1782633001-photo-collage.png__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8674531/original/079790200_1782716407-AP26177104053905.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260382/original/054470700_1781590662-063_2281748273.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259253/original/099827400_1781493084-AP26165774269127.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4864218/original/041026400_1718404435-AP24166759629724.jpg)