Murojaah adalah Metode Menghafal Al-Qur'an, Begini Tekniknya

Murojaah adalah metode yang sangat efektif untuk membantu seseorang menghafal dan memahami Al-Qur'an dengan lebih baik

Diperbarui 13 Juni 2025, 11:49 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Murojaah adalah salah satu istilah yang lekat dengan penghafal Al-Qur'an. Umat Islam sangat dianjurkan untuk mengamalkan Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari termasuk menghafalnya. Murojaah adalah teknik untuk menjaga hafalan Al-Qur'an tetap baik.

Murojaah adalah metode yang sangat efektif untuk membantu seseorang menghafal dan memahami Al-Qur'an dengan lebih baik. Dalam prosesnya, seseorang tidak hanya dapat memperkuat hafalannya, tetapi juga meningkatkan pemahaman dan pengucapan Al-Qur'an dengan lebih baik.

Murojaah sangat disarankan untuk dilakukan bagi siapa saja yang ingin mempelajari Al-Qur'an dengan lebih baik dan efektif. Berikut ulasan tentang murojaah adalah metode menghafal Al-Qur'an yang dirangkum Liputan6.com dari jurnal berjudul Metode Muraja’ah dalam Menjaga Hafalan Al-Qur’an, Jumat (13/6/2025).

Pengertian Murojaah

Murojaah adalah istilah dalam bahasa Arab yang berasal dari kata raja’a – yuraji’u, yang berarti "kembali" atau "mengulang". Dalam konteks pembelajaran Al-Qur’an, murojaah merujuk pada aktivitas mengulang hafalan yang telah dipelajari sebelumnya, dengan tujuan untuk menjaga hafalan agar tetap kuat, lancar, dan tidak mudah lupa.

Dalam pengertian yang lebih luas, murojaah bukan hanya sekadar pengulangan, tetapi juga merupakan bagian integral dari proses memelihara kedekatan hati dengan Al-Qur’an. Aktivitas ini sangat penting karena sifat lupa adalah bagian dari fitrah manusia, sehingga perlu upaya terus-menerus untuk menjaga hafalan agar tidak hilang. 

M. Ilyas dalam jurnalnya yang berjudul Metode Muraja’ah dalam Menjaga Hafalan Al-Qur’an  menegaskan bahwa, metode muraja’ah merupakan suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan cara mengulang kembali hafalan yang sudah pernah dihafalkan untuk menjaga dari lupa dan salah.

Tujuan utama dari murojaah adalah memperkuat hafalan, memperbaiki bacaan (tajwid dan makhraj), serta menanamkan makna ayat-ayat Al-Qur’an lebih dalam ke dalam hati dan pikiran. Proses ini juga membantu seseorang mengevaluasi dan memperbaiki kesalahpahaman terhadap makna ayat yang mungkin muncul saat proses menghafal.

Seperti yang ditegaskan dalam jurnal tersebut, jika seseorang tidak secara konsisten melakukan murojaah, maka hafalannya akan memudar. Al-Qur’an diibaratkan seperti unta yang diikat, jika tidak dijaga, maka ia akan lepas.

Dalam hadist juga disebutkan, “Dari Abdullah bin Umar r.a bahwa Rasulullah Saw bersabda, ‘Perumpamaan hafalan Al-Qur’an adalah seperti onta yang diikat oleh tali. Jika pemiliknya selalu memegangnya, maka dia tetap miliknya. Tetapi, jika dia melepaskannya, maka onta itu pergi”. (HR. Muslim).

Dukungan terhadap pentingnya murojaah juga disebutkan oleh ulama dan pakar hafalan Al-Qur’an seperti Muhammad Habibillah asy-Syinqithi yang mengatakan bahwa “muraja’ah secara kontinyu lebih penting dari hafalan itu sendiri” (asy-Syinqithi, 2011: 87). Hal ini senada dengan pandangan Majdi Ubaid dalam bukunya 9 Langkah Mudah Menghafal Al-Qur’an, yang menekankan bahwa sering murojaah berarti sering membaca Al-Qur’an dan menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari.

Metode Murojaah

Menghafal Al-Qur’an bukan sekadar proses memasukkan ayat-ayat ke dalam ingatan, namun juga memerlukan usaha berkelanjutan untuk menjaganya agar tidak terlupakan. Di sinilah peran penting metode murojaah, yaitu metode pengulangan hafalan Al-Qur’an secara teratur dan konsisten. Murojaah tidak hanya penting, tetapi justru lebih utama daripada proses menghafal itu sendiri.

M. Ilyas dalam jurnalnya menjelaskan bahwa terdapat beberapa cara pelaksanaan murojaah yang dapat dilakukan oleh para penghafal Al-Qur’an.

1. Pengulangan Mandiri

Hafalan yang sudah pernah disetorkan kepada ustadz atau guru hendaknya diulang sendiri secara konsisten. Ini adalah bentuk tanggung jawab pribadi seorang hafidz untuk menjaga kedekatannya dengan ayat-ayat yang telah ia hafalkan.

2. Murojaah dengan Pendamping

Pengulangan bisa dilakukan dengan bantuan orang lain, misalnya teman atau ustadz/ustadzah, yang mendengarkan dan mengoreksi bacaan. Ini berguna untuk menjaga ketepatan bacaan dan membantu mengenali bagian-bagian yang masih lemah.

3. Jadwal Berkala

Membuat jadwal murojaah secara teratur, baik harian, mingguan, maupun bulanan. Bagian yang lebih sering terlupa sebaiknya diulang lebih sering pula, sehingga hafalan tetap solid dan tidak mudah hilang.

4. Membaca dalam Shalat

Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim menjadi dasar kuat pentingnya membaca hafalan dalam shalat,  "Jika seorang penghafal Al-Qur’an shalat lalu ia membacanya pada malam dan siang hari, niscaya ia akan senantiasa mengingatnya. Namun, jika ia tidak melakukan hal itu, niscaya ia akan melupakannya." (HR. Muslim)

Ini menunjukkan bahwa menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian dari ibadah harian membantu mempertahankan hafalan.

Teknik Muroja’ah

Menjaga hafalan agar tetap kuat dalam ingatan dapat tantangan yang besar. Oleh sebab itu, diperlukan metode muroja’ah yang efektif agar hafalan tidak mudah hilang. Teknik muroja’ah ini telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya, dan terus dikembangkan oleh para ulama hingga saat ini.

1. Teknik Muroja’ah Nabi dan Sahabat: Pembagian Hizb

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aus bin Hudzaifah, para sahabat menjelaskan bahwa mereka mengikuti cara Nabi Saw dalam membagi Al-Qur’an ke dalam beberapa bagian atau hizb untuk diulang setiap hari:

  • Hari ke-1: Surah Al-Fatihah – An-Nisa
  • Hari ke-2: Surah Al-Ma’idah – At-Taubah
  • Hari ke-3: Surah Yunus – An-Nahl
  • Hari ke-4: Surah Al-Isra – Al-Furqan
  • Hari ke-5: Surah Asy-Syu’ara – Yasin
  • Hari ke-6: Surah Ash-Shaffat – Al-Hujurat
  • Hari ke-7: Surah Qaf – An-Nas

Pembagian ini dikenal sebagai metode tujuh hizb yang memungkinkan seorang hafizh mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tujuh hari. Inilah metode yang sangat dianjurkan karena sesuai dengan praktik generasi pertama Islam.

2. Beberapa Metode Muroja’ah Hafalan

Berikut ini adalah teknik-teknik lain yang bisa diterapkan dalam muroja’ah hafalan Al-Qur’an:

a. Metode Khatam 5 Hari

Membagi Al-Qur’an menjadi lima bagian dan mengkhatamkan setiap lima hari. Ungkapan populer di kalangan para penghafal menyebutkan, “Siapa yang menghafal seperlima Al-Qur’an setiap hari, ia tidak akan lupa.”

b. Metode Khatam 7 Hari

Metode ini sama seperti yang dipraktikkan Nabi dan sahabat, yaitu mengulang seluruh hafalan dalam waktu tujuh hari.

c. Metode Khatam 10 Hari

Mengkhatamkan Al-Qur’an dalam sepuluh hari. Ini cocok bagi penghafal dengan jadwal yang lebih fleksibel atau baru memulai konsistensi muroja’ah.

d. Mengkhususkan Juz Tertentu

Fokus pada satu juz selama seminggu untuk penguatan hafalan secara mendalam, sambil tetap mengulang hafalan secara umum di waktu lainnya.

e. Khatam Sebulan

Metode ini untuk yang kesibukannya sangat tinggi. Meski begitu, ini digolongkan sebagai muroja’ah dengan intensitas paling rendah (digolongkan ‘malas’ menurut sebagian ulama).

f. Muroja’ah Bersamaan dengan Hafalan Baru

Mengulang hafalan lama sambil tetap melanjutkan hafalan baru agar tidak terjadi tumpukan hafalan yang terlupakan.

g. Muroja’ah Dalam Shalat

Mengulang hafalan saat melaksanakan shalat sunnah seperti qiyamullail atau shalat rawatib. Ini adalah metode yang sangat dianjurkan karena sekaligus mengamalkan hafalan.

h. Teknik Waktu Khusus

Membagi waktu berdasarkan juz. Misalnya:

  • Setelah Subuh: Muroja’ah dari Juz 1–4
  • Setelah Maghrib: Muroja’ah dari Juz 26–30 Metode ini membantu mengingat hafalan dalam rentang tertentu dengan lebih fokus.

 

Macam-macam Muraja’ah dalam Hafalan Al-Qur’an

Muraja’ah atau pengulangan hafalan adalah kunci utama untuk menjaga dan memperkuat hafalan Al-Qur’an agar tersimpan dalam memori jangka panjang. Proses ini tidak hanya membantu hafizh mengingat hafalannya dengan lancar, tapi juga menjaga keistiqamahan dalam menghafal. Berikut ini berbagai metode muraja’ah yang bisa diterapkan:

1. Muraja’ah Lima Kategori (Bertahap Berdasarkan Waktu)

Metode ini berdasarkan tahapan pengulangan hafalan dalam waktu-waktu tertentu untuk memastikan hafalan berpindah ke memori jangka panjang. Langkahnya adalah:

  • Satu jam setelah menghafal: Langsung setelah hafalan selesai agar tidak cepat lupa.
  • Satu hari setelah menghafal: Menguatkan pengulangan agar hafalan tidak memudar.
  • Satu pekan setelah menghafal: Menguji daya ingat dalam rentang waktu menengah.
  • Satu bulan setelah menghafal: Menjaga hafalan agar tetap kuat meski sudah lama.
  • Tiga bulan setelah menghafal: Untuk menguji konsistensi dan memperkuat daya tahan hafalan dalam jangka panjang.

Metode ini dirancang agar hafalan dapat melekat dan mudah diulang-ulang dalam kondisi apapun.

2. Muraja’ah Tujuh Kategori (Berbasis Aktivitas Harian)

Metode ini menekankan pentingnya muraja’ah sepanjang hari di berbagai momen, terutama bagi yang memiliki aktivitas padat:

  • Saat bersiap-siap atau berangkat kerja.
  • Dibaca saat shalat sirriyah (Zhuhur dan Ashar).
  • Saat perjalanan pulang dari kerja.
  • Saat shalat sunnah atau qiyamul lail.
  • Saat ada waktu luang dalam aktivitas.
  • Sebelum tidur.
  • Setelah bangun tidur.

Konsistensi dalam tujuh waktu ini membantu menguatkan hafalan dengan pengulangan alami sepanjang hari.

3. Muraja’ah Pekanan

Muraja’ah ini dilakukan khusus setiap minggu, idealnya pada hari libur. Langkah-langkah sebelum memulai meliputi:

  • Relaksasi singkat selama dua menit.
  • Visualisasi dan membangun pikiran positif.
  • Dilakukan dalam halaqah tahfizh atau kelompok agar saling menguatkan dan menambah semangat.

4. Muraja’ah Bulanan

Tujuan muraja’ah bulanan adalah mencegah hafalan lama hilang karena terlalu lama tidak diulang. Biasanya dilakukan setiap hari Jumat, namun bila hafalan sudah lebih dari satu juz, bisa dibagi dalam beberapa hari.

Konsistensi muraja’ah ini penting, karena hafalan lama mudah hilang jika tidak diulang dalam waktu sebulan.

5. Muraja’ah Sambil Menghafal

Terdapat beberapa bentuk dari jenis ini:

  • Muraja’ah sendiri: Mengulang hafalan lama minimal dua kali sehari, bisa dilakukan setelah shalat fardhu dengan membaca 2 halaman per waktu. Dalam dua bulan bisa khatam Al-Qur’an.
  • Muraja’ah dalam shalat: Menggunakan hafalan dalam bacaan shalat agar lebih meresap dan konsisten.
  • Muraja’ah bersama: Berkelompok, saling menyimak dan membetulkan bacaan.
  • Muraja’ah kepada guru atau muhafizh: Menyetorkan hafalan baru dan lama. Idealnya, porsi muraja’ah 10 kali lebih banyak dari hafalan baru.

6. Muraja’ah Pasca Hafal

Setelah menyelesaikan setoran hafalan (khatam), muraja’ah tetap harus dilakukan agar hafalan tidak hilang. Jenis ini mencakup beberapa metode:

a. Metode Fami Bi Syauqin

Al-Qur’an dibagi menjadi tujuh bagian berdasarkan singkatan Fami Bi Syauqin:

  • Fa: Al-Fatihah – An-Nisa’
  • Mim: Al-Maidah – At-Taubah
  • Ya’: Yunus – An-Nahl
  • Ba: Al-Isra’ – Al-Furqan
  • Syin: Asy-Syu’ara’ – Yasin
  • Waw: As-Shaffat – Al-Hujurat
  • Qaf: Qaf – An-Nas

Setiap bagian dibaca per hari sehingga khatam dalam sepekan.

b. Muraja’ah dalam Shalat

Membaca hafalan dalam shalat, baik fardhu maupun sunnah. Jika setiap rakaat membaca 1 halaman, maka dalam sehari bisa mengulang 10 halaman atau setengah juz. Bisa khatam 30 juz dalam dua bulan.

c. Muraja’ah dengan Penyimakan (Simaan)

  • Penyimakan perorangan: Satu orang membaca seluruh Al-Qur’an disimak oleh banyak orang.
  • Penyimakan keluarga: Dilakukan bersama keluarga dalam waktu terbatas.
  • Penyimakan dua orang: Bergantian menyimak dan membaca.
  • Penyimakan kelompok: Setiap anggota membaca juz tertentu dan saling menyimak.

d. Muraja’ah dengan Mengkaji

Mengulang hafalan disertai dengan mengkaji tafsir, asbabun nuzul, fiqih, atau ulumul Qur’an untuk memperkuat pemahaman dan kecintaan pada isi Al-Qur’an.

e. Muraja’ah dengan Menulis

Menuliskan hafalan surat atau juz. Ketika lupa, berusaha mengingat dahulu sebelum membuka mushaf. Cocok untuk orang yang sibuk.

f. Muraja’ah dengan Alat Bantu

Mendengarkan murottal melalui media seperti MP3 atau aplikasi Al-Qur’an digital. Dengarkan surat tertentu secara berulang agar lebih melekat.

 

FAQ tentang Muroja’ah

1. Apa itu muroja’ah dan mengapa penting bagi penghafal Al-Qur’an?

Muroja’ah adalah kegiatan mengulang hafalan Al-Qur’an yang telah dihafal sebelumnya. Ini penting karena hafalan Al-Qur’an mudah terlupakan jika tidak sering diulang. Dengan muroja’ah yang rutin dan terstruktur, seorang penghafal dapat menjaga hafalan tetap kuat, tajam, dan tidak mudah lupa, sesuai dengan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw dan para sahabat.

2. Bagaimana cara Nabi Muhammad Saw dan para sahabat membagi waktu muroja’ah Al-Qur’an?

Rasulullah Saw dan para sahabat membagi Al-Qur’an menjadi tujuh hizb untuk diulang dalam tujuh hari. Contohnya:

  • Hari 1: Al-Fatihah – An-Nisa’
  • Hari 2: Al-Ma’idah – At-Taubah
  • Hari 3: Yunus – An-Nahl
  • Hari 4: Al-Isra’ – Al-Furqan
  • Hari 5: Asy-Syu’ara – Yasin
  • Hari 6: Ash-Shaffat – Al-Hujurat
  • Hari 7: Qaf – An-Nas

Metode ini memungkinkan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an setiap pekan.

3. Apa saja metode muroja’ah hafalan Al-Qur’an yang bisa diterapkan selain metode mingguan?

Beberapa metode lain yang dapat diterapkan antara lain:

  • Khatam setiap 5 hari (seperlima Al-Qur’an per hari)
  • Khatam 10 hari
  • Khatam bulanan (meskipun dianggap lemah dalam menjaga hafalan)
  • Fokus pada satu juz selama seminggu sambil tetap mengulang hafalan lainnya
  • Muroja’ah dalam shalat seperti qiyamullail
  • Pembagian waktu harian berdasarkan juz tertentu, seperti setelah Subuh atau Maghrib

4. Bagaimana tips agar muroja’ah menjadi lebih efektif dan tidak membosankan?

Tips yang disarankan:

  • Tetapkan jadwal rutin untuk setoran hafalan baru (sabki) dan hafalan lama (manzil)
  • Kenali ciri khas tiap juz untuk menghindari kesalahan
  • Ulangi ayat-ayat yang sering tertukar
  • Lakukan muroja’ah aktif seperti sambil berjalan atau berkendara
  • Manfaatkan waktu luang, seperti saat santai atau dalam perjalanan
  • Tumbuhkan semangat dengan mencontoh orang-orang yang rajin qiyamullail
  • Amalkan hafalan dalam kehidupan agar lebih membekas

5. Apakah boleh melakukan muroja’ah sambil menghafal hafalan baru?

Boleh, bahkan dianjurkan. Seorang penghafal Al-Qur’an bisa tetap menambah hafalan baru sambil menjaga hafalan lama dengan metode yang seimbang. Kuncinya adalah konsistensi dan pembagian waktu yang teratur agar hafalan baru tidak menghapus hafalan lama. Misalnya, waktu pagi untuk muroja’ah, sore atau malam untuk hafalan baru.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6