Lauhul Mahfudz: Pahami Gambaran Kitab dan Isinya dalam Al-Qur'an

Lauh Mahfudz artinya adalah sebuah kitab yang terdapat tulisan atau catatan, yang isinya terpelihara dan terjaga.

Diperbarui 10 Juni 2025, 16:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Lauhul Mahfudz adalah bahwa ia merupakan kitab yang ditulis dan dijaga Allah SWT sebagai catatan takdir seluruh alam, mencakup masa lalu, sekarang, dan masa depan. Merujuk pada buku Al Ifaadah Aqidah Dasar Salafiyah oleh Abu Fawwaz Nasrul Mas’udi, bahwa menurut Imam Kholil Ahmad, Lauhul Mahfudz berasal dari kata "lauh" (lembaran kayu/tulang) dan "mahfudz" (terjaga), yakni kitab yang tidak bisa ditambah atau dikurangi.

Istilah Lauhul Mahfudz sendiri merupakan istilah yang telah disebutkan dalam Al-Qur'an sebanyak tiga belas kali. Padanya, Allah telah menuliskan dan mencatat segala kejadian yang terjadi mulai dari permulaan zaman, di mana alam semesta semula diciptakan, sampai dengan hingga akhir nanti.

Dikatakan dalam sebuah hadits riwayat At-Tirmidzi, bahwa kitab Lauhul Mahfudz memiliki panjang antara langit dan bumi, sedangkan lebarnya membentang antara barat di timur.

"Yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah kalam yang berasal dari cahaya.’ Menurut sebuah pendapat, qalam berasal dari permata putih yang panjangnya hampir sama antara langit dan bumi. ‘Kemudian Dia menciptakan Lauh Mahfuzh (Lembaran yang Terjaga) dari mutiara putih yang berasal dari yaqut (batu mulia) merah, yang panjangnya antara langit dan bumi, sedangkan lebarnya antara barat dan timur.” (HR. Tirmidzi)

Untuk memahami Lauhul Mahfudz artinya apa, dan apa saja yang terkandung di dalamnya, simak penjelasan selengkapnya seperti yang telah dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Selasa (10/6/2025).

Memahami Kitab Lauhul Mahfudz

Untuk dapat memahami Lauh Mahfudz artinya apa, bentuk bagi kita untuk memahami asal dari nama Lauhul Mahfudz. istilah Lauhul Mahfudz terbentuk dari dua kata dari bahasa Arab, yakni "lauh" yang berarti tulang lebar yang dapat ditulisi, dan "mahfudz" yang berarti terpelihara atau terjaga.

Berdasarkan asal katanya tersebut, dapat dipahami bahwa Lauhul Mahfudz artinya adalah sebuah kitab yang terdapat tulisan atau catatan, yang isinya terpelihara dan terjaga, sehingga tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah SWT.

Kitab Lauhul Mahfudz juga memiliki beberapa sebutan lain, di antaranya adalah Kitaabun Min Qabli yang berarti kitab ketetapan; Ummu Al-kitab yang berarti induk kitab; Kitabbim Maknuun yang berarti kitab yang terpelihara; serta Kitabbim Mubiin yang berarti kitab yang nyata.

Melansir dari id.scribd.com, kitab ini juga dikenal sebagai Ummu al-Kitab (induk kitab), Kitab Maknun (terjaga), dan Kitab Mubiin (nyata), sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat Al-Qur’an, seperti dalam Surah Al-Waqi’ah 56:78 dan An-Naml 27:75.

Allah bersumpah bahwa sesungguhnya Al-Qur’an yang berisi tuntunan-Nya ini adalah bacaan yang sangat mulia. Wahyu Allah ini tertulis pada kitab yang terpelihara, yaitu Lauh Mahfuz yang selalu terjaga, sehingga tidak ada yang dapat menyentuhnya kecuali hamba-hamba-Nya yang disucikan. Sungguh, Al-Qur’an ini diturunkan dari Tuhan seluruh alam. (Surah Al-Waqi’ah 56:78)

Dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di langit dan di bumi, sekecil dan sehalus apa pun, melainkan tercatat dalam Kitab yang jelas di sisi Allah, yaitu Lauh Mahfuzh. Kitab itu mencakup segala sesuatu yang telah dan yang akan terjadi. (An-Naml 27:75)

Gambaran tentang Bentuk Lauh Mahfudz

Mengenai seperti apa bentuk Lauh Mahfudz, hal itu juga telah digambarkan dalam sejumlah riwayat. Disebutkan bahwa Lauh Mahfudz diciptakan dari mutiara dan batu mulia. 

Gambaran rupa kitab ini disebut sangat megah, panjangnya sama dengan jarak langit ke bumi, lebarnya antara ufuk timur dan barat, terbuat dari mutiara putih dan yaqut merah dengan qalam dari cahaya dan tinta juga cahaya, sebagaimana dijelaskan oleh Hamid Ahmad Ath-Thahir Al-Basyuni dalam buku Kisah-kisah dalam Al-Qur'an dan riwayat Tirmidzi.

"Yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah kalam yang berasal dari cahaya.’ Menurut sebuah pendapat, qalam berasal dari permata putih yang panjangnya hampir sama antara langit dan bumi. ‘Kemudian Dia menciptakan Lauh Mahfuzh (Lembaran yang Terjaga) dari mutiara putih yang berasal dari yaqut (batu mulia) merah, yang panjangnya antara langit dan bumi, sedangkan lebarnya antara barat dan timur.” (HR. Tirmidzi)

Selain itu, disebutkan pula bahwa Lauh Mahfudz terbuat dari yaqut merah dan zamrud hijau, sebagaimana disampaikan Anas bin Malik,

"Rasulullah saw bersabda, ‘Allah memiliki lauh (lembaran) yang salah satu permukaannya terbuat dari yaqut merah dan permukaan lainnya dari zamrud hijau, sedangkan qalam-nya berasal dari cahaya’

“Sesungguhnya Allah memiliki lauh yang berasal dari mutiara putih. Dia suka melihatnya 360 kali dalam sehari semalam. Dalam setiap kali lihatan, Dia mencipta, memberi rezeki, mematikan, menghidupkan, mencabut kerajaan, memberikan kerajaan, dan mengerjakan apa pun sekehendak-Nya.” (Ibnu Abbas ra)

Isi Lauhul Mahfudz

Secara konsep, isi Lauhul Mahfudz meliputi seluruh skenario hidup, takdir makhluk, ketetapan rezeki, ajal, serta silih bergantinya peristiwa alam dan sosial. Kepala manuskrip akademik dari UIN Alauddin menyebutnya sebagai catatan “detail dan kompleks tentang segala sesuatu yang tercipta, ada, dan akan terjadi.”

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Lauh Mahfudz artinya adalah sebuah kitab yang berisi segala ketetapan Allah mulai dari awal mulai diciptakan alam semesta sampai dengan hari akhir nanti. Selain itu, Lauh Mahfudz artinya adalah sebuah kitab yang terpelihara dan terjaga kerahasiaannya.

Dengan kata lain, tidak ada yang mengetahui informasi yang ada di dalam Lauh Mahfudz selain Allah SWT. Akan tetapi secara umum, kitab Lauh Mahfudz berisi informasi tentang apa yang akan terjadi, bagaimana kehidupan akan berjalan, kepada siapa Allah akan memberikan rezeki, dan sebagainya.

Segala yang tertulis dalam kitab itu akan terjadi secara akurat jika kita dapat melihatnya. Di dalam Al-Qur’an dijelaskan, tidak ada yang tahu mengenai apa yang terjadi pada langit dan bumi melainkan telah ditulis dalam sebuah kitab (Lauhul Mahfudz).

Meski apa yang sudah tertulis di Lauh Mahfudz merupakan hal-hal yang akan terjadi secara akurat, namun semua takdir yang sudah tertulis masih dapat dihapus maupun diubah oleh Allah SWT.

Rasulullah Saw bersabda, “Tiada yang bisa mengubah takdir selain doa dan tiada yang bisa memanjangkan umur kecuali perbuatan baik.”

Sifat-Sifat Lauh Mahfudz

Lauh Mahfudz artinya adalah kitab yang berisi catatan mengenai takdir setiap makhluk Allah, mulai dari awal alam semesta diciptakan sampai hari akhir nanti.

Mengimani Lauhul Mahfudz berarti mengakui bahwa setiap kejadian—besar atau kecil, tampak atau tersembunyi—semuanya telah dicatat rapi oleh Allah. Ini sangat ditekankan dalam QS. Al-Hadid 57:22–23 yang menyatakan, “Tidak ada bencana… kecuali telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfudz) sebelum Kami mewujudkannya…”

Lauh Mahfudz memiliki sifat-sifat antara lain sebagai berikut:

1. Setiap yang Tertulis Akan terjadi

Salah satu sifat Lauh Mahfudz adalah bahwa setiap hal yang telah tertulis, baik itu soal jodoh, rezeki, maut, dan sebagainya, akan terjadi. Tidak ada akan ada satu pun yang luput darinya.

2. Berisi Informasi tentang Takdir Seluruh Makhluk

Segala sesuatu yang hidup dan tinggal di alam jagat raya ini, telah ditulis dan tertera catatannya di lauhul mahfudz. Mulai dari manusia, hewan-hewan, tumbuhan, air yang mengalir, bumi yang bergoyang, semuanya tak terlepas dari hal yang telah tercatat di Lauh Mahfudz.

3. Berisi Informasi yang Mendetail

Sifat Lauh Mahfudz selanjutnya adalah bahwa di dalamnya terdapat informasi yang mendetail. Bahkan daun-daun yang jatuh dari pohonnya pun sudah tertulis di dalamnya. Hanya saja tidak ada yang mengetahui informasi tersebut kecuali Allah SWT.

4. Berisi Segala Ilmu Allah yang Tidak Akan Habis

Di lauhul mahfudz, tidak akan pernah habis kalimat Allah yang tertulis. Bahkan jika pohon-pohon yang ada di bumi ini semuanya menjadi pena dan lautan menjadi tintanya, maka tidak akan pernah kering untuk menuliskan kalimatNya.

Lauhul Mahfudz dalam Al-Qur'an

Lauhul Mahfudz dalam Al-Qur’an dijelaskan sebagai kitab yang menjadi pusat segala pencatatan dan ilmu Allah SWT, termasuk asal usul wahyu. Salah satu ayat paling eksplisit yang menyebutkan keberadaan Lauhul Mahfudz adalah QS. Al-Buruj ayat 21–22, yang berbunyi: “Bahkan, (yang didustakan itu) Al‑Qur’an yang mulia (21) pada Lauhul Mahfudz (22).” Ayat ini menjelaskan bahwa Al-Qur’an sudah tercatat secara utuh di dalam Lauhul Mahfudz sebelum diturunkan ke dunia melalui wahyu.

Ini menandakan bahwa wahyu bukanlah hasil spontanitas, melainkan berasal dari catatan ilahi yang telah dijaga dengan sempurna sejak sebelum masa penciptaan. Beberapa penafsiran seperti yang dijelaskan dalam buku Al Ifaadah Aqidah Dasar Salafiyah oleh Abu Fawwaz Nasrul Mas’udi juga menyatakan bahwa ini adalah bukti bahwa semua wahyu bersumber dari tempat yang suci dan terjaga, yaitu Lauhul Mahfudz.

Selain sebagai sumber wahyu, Lauhul Mahfudz juga menjadi tempat pencatatan rezeki dan tempat tinggal setiap makhluk. Hal ini dikuatkan dalam QS. Hud ayat 6: “Dan tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiamnya dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalam Kitab yang nyata (Kitabun Mubīn).”

Istilah “Kitabun Mubīn” oleh para mufassir banyak yang mengidentifikasi sebagai Lauhul Mahfudz, yaitu kitab di mana Allah mencatat semua takdir makhluk-Nya termasuk pembagian rezeki, tempat tinggal, hingga ajal. Ini menunjukkan betapa sistematis dan detilnya catatan Allah, serta memperkuat keyakinan bahwa tidak ada kejadian sekecil apa pun yang luput dari pengawasan dan pengetahuan-Nya. 

Menariknya, dalam Al-Qur’an juga dijelaskan bahwa sebagian dari isi Lauhul Mahfudz dapat dihapus atau ditetapkan kembali oleh kehendak Allah. Hal ini dijelaskan dalam QS. Ar-Ra’d ayat 39: “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki; dan di sisi-Nya Ummul Kitab.” Ummul Kitab dalam hal ini dipahami sebagai nama lain dari Lauhul Mahfudz.

Ayat ini memberikan pemahaman bahwa catatan takdir di Lauhul Mahfudz tidak sepenuhnya bersifat kaku dan final dalam hal tertentu, melainkan berada di bawah kehendak mutlak Allah yang memiliki otoritas penuh untuk mengubah atau menetapkannya. Ini menegaskan konsep kehendak Allah berada di atas segala rencana manusia.

Beberapa penulis seperti yang disampaikan dalam TheLastDialogue.org dan SearchTruth.com turut memperkuat bahwa perubahan takdir melalui doa, amal shaleh, dan ikhtiar adalah bagian dari sistematika takdir yang berada di dalam kerangka catatan Allah yang luas tersebut.

Lauhul Mahfudz juga digambarkan sebagai catatan seluruh kejadian, bahkan sebelum semuanya terjadi. Dalam QS. Al-Hadid ayat 22–23 disebutkan: “Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” Ini memperkuat pemahaman bahwa Lauhul Mahfudz merupakan catatan ilahiah yang tidak hanya mencakup sejarah dan kondisi masa kini, tetapi juga memuat kejadian yang belum terjadi. Bahkan musibah, sakit, kegagalan, dan keberhasilan telah tercatat secara pasti dalam kitab ini. 

Q&A

Apa itu Lauhul Mahfudz?

Lauhul Mahfudz adalah kitab yang dijaga Allah SWT yang mencatat segala takdir, peristiwa, dan amal makhluk, sebelum semuanya terjadi.

Di mana disebutkan Lauhul Mahfudz dalam Al‑Qur’an?

Disebut secara eksplisit di QS. Al-Buruj 85:22 sebagai tempat terpeliharanya Al‑Qur’an dan secara makna dalam surat lainnya sebagai Kitab induk takdir.

Bagaimana gambaran fisik Lauhul Mahfudz?

Dikisahkan melalui tafsir dan riwayat bahwa kitab ini terbuat dari mutiara dan yaqut, panjangnya sejauh langit—bumi, dan lebarnya antara ufuk timur–barat.

Apakah Lauhul Mahfudz pernah berubah?

Meskipun hukumnya “terjaga” dari gangguan, QS. Ar-Ra’d 13:39 memberikan indikasi bahwa Allah memiliki kekuasaan untuk menghapus atau menetapkan isi sesuai kehendak-Nya.

Mengapa penting mengimani Lauhul Mahfudz?

Iman kepada Lauhul Mahfudz meningkatkan kesadaran takdir, memupuk rasa tawakkal dan sabar, serta menegaskan ketauhidan dalam pemeliharaan Allah atas alam semesta.

Apa kaitannya Lauhul Mahfudz dengan turunannya wahyu?

Al‑Qur’an diturunkan pertama kali dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia (Baitul Izzah), sebelum selanjutnya Allah beri perantarakan kepada Nabi Muhammad SAW.

Apakah manusia bisa mempengaruhi apa yang ada di Lauhul Mahfudz?

Sementara manusia memiliki kebebasan memilih (ikhtiar), semua pilihan itu sudah tertulis dalam Lauhul Mahfudz—istilah ini dijelaskan pendukung mazhab Ahlus Sunnah.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6