Sukses

Profil KH Ahmad Dahlan, Perjalanan Hidup Tokoh Pendiri Muhammadiyah

Liputan6.com, Jakarta KH Ahmad Dahlan merupakan salah satu tokoh Islam dan pahlawan nasional, yang memiliki banyak jasa dalam perkembangan organisasi Islam di Indonesia. KH Ahmad Dahlan dikenal sebagai pendiri dari salah satu organisasi Islam besar di Indonesia, Muhammadiyah pada 18 November 1912.

KH Ahmad Dahlan lahir pada tanggal 1 Agustus 1868, dengan nama Raden Ngabehi Ngabdul Darwis, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Muhammad Darwisy.  KH Ahmad Dahlan merupakan pegawai kesultanan Kraton Yogyakarta, yang kemudian bergerak untuk menegakan kembali ajaran Islam yang berdasarkan Quran dan Hadist di sekitarnya.

Sempat ditolak, KH Ahmad Dahlan tidak menyerah untuk memberikan pemahaman keagamaan kepada sesamanya. Dan berkat ketekunan dan kesabarannya, KH Ahmad Dahlan akhirnya berhasil mengorganisir berbagai kegiatan keagamaan, yang kemudian dilanjutkan dengan pendirian persyarikatan Muhammadiyah.

Untuk lebih memahami perjuangan dan perjalanan panjang kehidupan KH Ahmad Dahlan, berikut ini telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber pada Selasa (24/1/2023). Riwayat hidup KH Ahmad Dahlan dan perjalanannya dalam menyebarkan ajaran serta pemikirannya.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Riwayat Hidup KH Ahmad Dahlan

KH Ahmad Dahlan memiliki nama kecilnya Raden Ngabei Ngabdul Darwis yang kemudian dikenal dengan nama Muhammad Darwisy. KH Ahmad Dahlan lahir di Kauman, Yogyakarta pada 1868.Kauman adalah suatu pemukiman yang ditunjuk bagi para pejabat keagamaan dalam pemerintahan pribumi.

Ayahnya adalah seorang ulama bernama K.H. Abu Bakar bin K.H. Sulaiman, yaitu seorang pejabat khatib di Masjid Besar Kesultanan Yogyakarta. Ibunya adalah putri dari H. Ibrahim bin K.H. Hassan, yaitu seorang pejabat penghulu kesultanan. Ia merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara yang semua saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya.

Dalam silsilah KH Ahmad Dahlan termasuk keturunan kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka di antara Wali Songo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran Islam dan pengembangan Islam di Tanah Jawa. 

Sejak kecil, KH Ahmad Dahlan sudah mempunyai sifat yang baik, budi pekerti yang halus, dan hati yang lunak serta berwatak cerdas. Berkat kecerdasannya itu, pada usia 8 tahun ia sudah bisa membaca al-Qur’an dengan lancar. Tidak hanya itu, kecerdasannya juga dibuktikan dengan kepiawaiannya dalam mempengaruhi teman-teman sepermainannya dan dapat mengatasi segala permasalahan yang terjadi di antara mereka.

Kelebihan itulah yang menjadikan ia sering tampil sebagai pemimpin bagi teman-temannya. Nama Muhammad Darwis telah diganti dengan Ahmad Dahlan setelah pulang dari tanah suci.Tidak berapa lama kemudian ia menikah dengan Siti Walidah Puteri Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawan Nasional dan ketua Aisyiyah. 

Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak, yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah. Disamping itu, Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda Abdullah. KH Ahmad Dahlan juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Munawwir Krapyak dan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta.

Sepulang dari haji yang pertama, Ahmad Dahlan memulai hidup berumah tangga dengan berdagang yang diberi modal oleh ayahnya, selain aktif mengajar mengaji.Pada tahun 1890 ibunya meninggal, menyusul pada 1896 ayah yang dicintainya juga meninggal dunia. Karena ayahnya, K.H. Abu Bakar adalah Khatib Amin Kraton dan Penghulu Masjid Besar Yogyakarta, maka masyarakat Yogyakarta dan tentu saja keluarga termasuk Ahmad Dahlan benar-benar merasa kehilangan tokoh panutan.

Tanggung jawab Dahlan semakin bertambah, sebab sepeninggalan ayahnya, jabatan Khatib Amin diserahkan oleh pihak Keraton Yogyakarta kepada Ahmad Dahlan selaku penerusnya. Sejak tahun 1896 itulah Ahmad Dahlan resmi menjadi Khatib Amin dengan sebutan lengkap Khatib Amin Haji Ahmad Dahlan.

Menjadi Khatib Amin bagi Ahmad Dahlan semakin mengukuhkan sosok nya sebagai ulama atau kyai yang memperoleh legitimasi Keraton sebagai simbol kekuasaan yang kuat dalam masyarakat Yogyakarta.

3 dari 4 halaman

Pendidikan dan Karier KH Ahmad Dahlan

Semasa kecil, KH Ahmad Dahlan tidak belajar di sekolah formal, hal ini karena sikap orang-orang Islam pada waktu itu yang melarang anak-anaknya memasuki sekolah gubernemen. Sebagai gantinya, K.H. Ahmad Dahlan diasuh dan dididik mengaji oleh ayahnya sendiri.

Menjelang dewasa, ia mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu agama kepada beberapa ulama besar waktu itu. Sehingga, tidak heran jika dalam usia relatif muda, ia telah mampu menguasai berbagai disiplin ilmu keislaman. Ketajaman intelektualitasnya yang tinggi membuat Dahlan selalu merasa tidak puas dengan ilmu yang telah dipelajarinya dan terus berupaya untuk lebih mendalaminya.

Cita-cita untuk mengarungi samudera pengetahuan sejalan dengan keinginan orang tuanya. Ketika umurnya menginjak 15 tahun di tahun 1883, atas persetujuan Kyai Ketib Amin, Darwis berkeinginan menambah pengetahuan agama di Mekah, kota pusat ilmu pengetahuan Islam, sekaligus melaksanakan rukun Islam yang kelima. 

Keberangkatannya itu tidak lepas dari peran kakak iparnya, K.H. Muhammad Saleh, yang juga seorang saudagar kaya. Dialah yang membiayai segala keperluan Darwis agar bisa berangkat ke tanah suci. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah.

Kembali dari ibadah hajinya, kegiatan sosial Ahmad Dahlan makin meningkat.Ia membuka kelas belajar dengan membangun pondok guna  menampung murid yang hendak belajar ilmu umum seperti ilmu falaq, ilmu tauhid, dan tafsir. Selain itu, ia juga intensif melakukan komunikasi dengan berbagai kalangan ulama intelektual dan kalangan pergerakan seperti Budi Utomo dan Jamiat Khair.

Merasa tidak puas dengan hasil kunjungannya yang pertama, maka pada tahun 1903, ia berangkat lagi ke Mekah dan menetap selama dua tahun. Ketika mukim yang kedua kali ini, ia banyak bertemu dan melakukan muzakarah dengan sejumlah ulama Indonesia yang bermukim di Mekah. 

Dari pengkajian kitab-kitab inilah KH Ahmad Dahlan banyak mendapat ilmu dan wawasan yang luas serta ide pembaharuan. KH Ahmad Dahlan adalah seorang alim yang luas ilmunya dan pengalamannya. Dimana saja ada kesempatan, sambil menambah atau mencocokkan ilmu yang telah diperolehnya.

Observatorium Lembang pernah ia datangi untuk mencocokkan tentang ilmu hisab. Ia ada keahlian dalam ilmu itu. Perantauannya keluar Jawa pernah sampai ke Madinah. Pondok pesantren yang besar-besar di Jawa pada waktu itu banyak KH Ahmad Dahlan kunjungi. Pengalaman yang begitu banyak dan ide pembaharuan yang berhembus di Timur Tengah mendorong KH Ahmad Dahlan untuk mendirikan organisasi Muhammadiyah, hal ini dilakukan karena beliau mendapat banyak dukungan dari teman-temannya. 

Akhirnya, pada 18 November 1912 KH Ahmad Dahlan Mendirikan organisasi Muhammadiyah di Yogyakarta.Sebelum itu pada tahun 1911 KH Ahmad Dahlan mendirikan sekolah Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah. Di sekolah ini tidak saja diberikan pelajaran mengaji Al-Qur’an, tetapi juga ilmu hitung, ilmu bumi, ilmu hayat dan sebagainya.

Madrasah ini bisa dikatakan sekolah modern, yaitu menggabungkan pendidikan tradisional dan pendidikan umum. Organisasi Muhammadiyah yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan merupakan organisasi yang bergerak di bidang kemasyarakatan dan pendidikan. Tujuan organisasi ini adalah menyebarkan pengajaran Rasulullah kepada penduduk bumiputra dan memajukan hal agama Islam kepada anggota anggotanya. 

Untuk mencapai maksud ini, Muhammadiyah mendirikan lembaga pendidikan, mengadakan rapat-rapat dan tabligh, mendirikan badan wakaf dan masjid, serta menerbitkan buku-buku, brosur, surat kabar dan majalah dan masih banyak lagi aktivitas-aktivitas yang dilakukan organisasi Muhammadiyah dalam membangun masyarakat Islam yang berlandaskan pada al-Qur’an dan Hadis.

4 dari 4 halaman

Pemikiran dan Ajaran KH Ahmad Dahlan

Pemikiran KH Ahmad Dahlan dalam berbagai bidang baik itu sosial pendidikan maupun dakwah banyak melihat dari berbagai kejadian atau fenomena yang dianggapnya tidak sesuai dengan ajaran Agama Islam.Sehingga fenomena tersebut mempengaruhi pola pikir KH Ahmad Dahlan, beliau bertekad untuk melakukan pemurnian ajaran Islam kembali.

Pemikiran atau ide-ide KH Ahmad Dahlan tidak terlepas dari hasil petualangannya dalam rangka menimba ilmu di berbagai tempat seperti Mekah dan Kairo. Maka saat K.H. Ahmad Dahlan menimba ilmu inilah dia banyak bertemu dengan tokoh-tokoh pembaru Islam, yang nantinya menjadi pendorong munculnya ide-ide dan gagasan pembaruan Islam yang dilakukan oleh KH Ahmad Dahlan.

Hampir seluruh pemikiran KH Ahmad Dahlan berangkat dari keprihatinan terhadap situasi dan kondisi global umat Islam waktu itu yang tenggelam dalam kejumudan, kebodohan, dan keterbelakangan. Kondisi ini semakin diperparah  dengan politik kolonial belanda yang sangat merugikan bangsa Indonesia.

Dengan realitas yang seperti itu, maka tidak heran bila Muhammadiyah yang mengusung seluruh pemikiran dan ide menitik tekankan pada pemurnian ajaran Islam dan bidang pendidikan. Pemikiran KH Ahmad Dahlan dalam bidang pendidikan, “bahwa pendidikan Islam hendaknya diarahkan pada usaha membentuk manusia muslim yang berbudi pekerti luhur, alim dalam agama,luas pandangan dan paham masalah ilmu ilmu keduniaan, serta bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya”. 

KH Ahmad Dahlan adalah pembaharu di bidang pendidikan, yang saat itu ada dualisme yang terjadi di dunia pendidikan, yaitu pendidikan pesantren dan pendidikan sekolah model Belanda. Menurut KH Ahmad Dahlan, upaya strategis untuk menyelamatkan umat Islam dari pola berpikir yang statis menuju pada pemikiran yang dinamis adalah melalui pendidikan. 

Oleh karena itu, pendidikan hendaknya ditempatkan pada skala prioritas utama dalam proses pembangunan umat. Mereka hendaknya dididik agar cerdas,kritis dan memiliki daya analisa yang tajam dalam dinamika kehidupannya pada masa depan.

KH Ahmad Dahlan kemudian memberikan rumusan metode mengajar yang ideal. Ia menawarkan sebuah metode sintesis antara metode pendidikan Barat dengan metode pendidikan pesantren. Dengan metode ini KH Ahmad Dahlan berharap dapat melahirkan kader yang memiliki wawasan luas bukan hanya dalam segi keagamaan namun juga dalam pendidikan umum.

Pembaharuan yang dilakukan K.H. Ahmad Dahlan dalam hal pendidikan pada masa itu, banyak mendapat tantangan dari masyarakat sekitar, namun karena kegigihannya ia tetap berusaha mempertahankan ide pembaharuannya hingga bisa terkenal sampai saat ini. 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS