Contoh Kata Tidak Baku dalam Bahasa Indonesia, Simak Pula Ciri-cirinya

Kata tidak baku adalah kata yang tidak mengikuti kaidah, berikut ini pengertian kata tidak baku, ciri-ciri kata tidak baku dan contoh kata tidak baku yang perlu diperhatikan.

Diperbarui 20 Juni 2025, 13:19 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, penting untuk memahami perbedaan antara kata baku dan tidak baku. Kesalahan umum dalam komunikasi tertulis maupun lisan seringkali terjadi karena penggunaan kata yang tidak sesuai kaidah resmi. Memahami contoh kata tidak baku membantu kita mengenali bentuk-bentuk penyimpangan bahasa yang kerap muncul, seperti “aktip” (seharusnya “aktif”) atau “resiko” (seharusnya “risiko”), yang sering digunakan dalam konteks informal.

Dalam buku Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi (2009) karya Kunjana Rahardi, dijelaskan bahwa bahasa baku adalah bahasa yang digunakan dalam komunikasi resmi dan telah mengalami standarisasi dalam ejaan, pelafalan, dan struktur. Pernyataan ini memperjelas bahwa contoh kata tidak baku adalah bentuk-bentuk bahasa yang menyimpang dari aturan standar tersebut dan biasanya tidak digunakan dalam konteks akademik maupun administratif.

Sementara itu, menurut Gorys Keraf dalam bukunya Komposisi (1980), dijelaskan bahwa bahasa yang baik adalah bahasa yang mengungkapkan pikiran dan perasaan pembicara secara tepat serta dapat dimengerti oleh pendengar. Dari sini dapat dipahami bahwa meskipun contoh kata tidak baku sering muncul dalam percakapan, namun penggunaannya harus disesuaikan dengan konteks agar pesan tersampaikan secara efektif dan tepat sasaran.

Berikut ini Liputan6.com ulas selengkapnya, Jum’at (20/5/2025).

Mengenal Kata Tidak Baku

Kata tidak baku adalah kata-kata yang tidak mengikuti kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia. Dimana kaidah Bahasa Indonesia yang resmi haruslah mengikuti Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Kebalikan dari kata tidak baku adalah kata baku, dimana kata baku merupakan kata-kata yang telah resmi dan standar dalam penggunaannya. Kata tidak baku bisa berasal dari serapan bahasa asing dan bahasa daerah yang belum memenuhi kaidah ejaan dalam bahasa Indonesia. 

Sehingga, penggunaan kata tidak baku tidak digunakan sebagai tuturan atau tulisan yang resmi di Indonesia. Ketidakbakuan sebuah bahasa tak hanya ditentukan dari penulisan yang tidak sesuai pedoman, tetapi juga bisa terjadi karena salah penulisan, pengucapan yang salah, dan susunan kalimat yang tidak sesuai. Kalimat tidak baku lebih sering digunakan dalam percakapan sehari-hari karena terkesan lebih santai dan tidak kaku. Kata tidak baku juga dapat digunakan saat berdiskusi membahas suatu hal bersama teman atau keluarga.

Ciri-Ciri Kata Tidak Baku

Kata tidak baku memiliki beberapa ciri-ciri yang dapat digunakan sebagai penanda untuk membedakannya dengan kata baku. Berikut ini adalah beberapa ciri-cirinya : 

  1. Kata tidak baku umumnya berasal dari dialek bahasa Indonesia yang ada. 
  2. Kata tidak baku berasal dari serapan bahasa daerah.
  3. Berasal dari bahasa asing yang tidak memenuhi persyaratan ejaan dalam bahasa Indonesia. 
  4. Kata tidak baku adalah bentukan yang tidak menuruti kaidah yang berlaku.
  5. Bentuk kata tidak baku mudah berubah-ubah karena dipengaruhi oleh zaman.
  6. Kata tidak baku digunakan dalam percakapan informal.
  7. Kata tidak baku memiliki arti yang sama, meski berbeda dengan bahasa baku aslinya.

Selain itu, kata tidak baku sering kita temui dan gunakan dalam kehidupan sehari-hari, memiliki kegunaan tersendiri, kata tidak baku menjadi bagian yang tidak terlupakan dalam kehidupan kita yang bersifat informal, berikut ini beberapa kondisi penggunaan kata tidak baku :

  1. Kata tidak baku lebih sering digunakan dalam obrolan informal sehari-hari
  2. Kata tidak baku digunakan untuk menambah kesan keakraban 
  3. Kata tidak baku digunakan untuk memberi kesan percakapan asli yang tidak formal.

Contoh Kata Tidak Baku

1. Abjad (kata baku) - Abjat (kata tidak baku)

2. Akhirat - Akherat

3. Aksesori - Asesoris

4. Aktif - Aktip

5. Akuarium - Aquarium

6. Aluminium - Almunium

7. Ambulans - Ambulan

8. Analisis - Analisa

9. Antena - Antene

10. Antre - Antri

11. Anugerah - Anugrah

12. Azan - Adzan

13. Afdal - Afdol

14. Agamais - Agamis

15. Ajek - Ajeg

16. Adjektif - Ajektifaktivitas

17. Aktifitasaktual - Aktuil

18. Balsam - Balsem

19. Batalion - Batalyon

20. Baterai - Batere 

21. Baka - Baqa

22. Barzakh - Barzah

23. Batalion - Batalyon

24. Batil - athil

25. Bazar - Bazaar

26. Becermin - Bercermin

27 Besok - Esok

28. Blanko - Blangko

29. Boks - Bok

30. Bosan - Bosen

31. Bus - Bis

32. Cabai - Cabe

33. Capai - Capek

34. Cedera - Cidera

35. Cendekiawan - Cendikiawan

36. Cengkih - Cengkeh

37. Cinderamata - Cenderamata

38. Cokelat - Coklat

39. Daftar - Daptar

40. Derajat - Derajad

41. Desain - Desaign

42. Detail - Detil

43. Detergen - Deterjen

44. Diagnosis - Diagnosa

45. Durian - Duren

46. Efektif - Efektip

47. Efektivitas - Efektifitas

48. Ekosistem - Ekosistim

49. Ekspor - Eksport

50. Ekstra - Extra

56. Fondasi - Pondasi

57. Frasa - Frase

58. Geladi - Gladi

59. Gizi - Giji

60. Gua - Goa

Yang Lainnya

61. Gubuk - Gubug

62. Hektare - Hektar

63. Hierarki - Hirarki

64. Higienis - Higenis

65. Ijazah - Ijasah

66. Ikhlas - Ihlas

67. Indera - Indra

68. Jagat - Jagad

69. Jemaah - Jamaah

70. Jenderal - Jendral

71. Karier - Kari

72. Kategori - Katagori

73. Komplet - Komplit

74. Kreativitas - Kreatifitas

75. Kuitansi - Kwitansi

76. Lembap - lembab

77. Leukemia - leukimia

78. Linear - linier

79. Litoral - literal

80. Lokalisasi - lokalisir

81. Mag - Maag

82. Mazhab -  Madzab

83. Mafhum - Mafum

84. Magrib  - Maghrib

85. Magnet - Mahnet

86. Nazar - Nadzar

87. Napas - Nafas

88. Nakhoda - Nahkoda

89. Neokolonialisme - Neo-kolonialisme

90. Neto - Netto

91. Ukulele - Okulele

92. Omzet - Omset

93. Apostrof - Opostrop

94. Oranye  - Orange

95. Organisasi - Organisir

96. Palm - Palem

97. Pamflet - Pamfelet

98. Pancaindera - Panca indra

99. Vanili - Panili

100. Paradoks - Paradox

101. Razia - Rajia

102. Ranking- Rangking

103. Ransel - Rangsel

104. Lafal - Rapal

105. Rapi - Rapih

106. Syahid - Sahid

107. Sakaguru - Saka guru guru

108. Sakelar - Saklar

109. Sambal - Sambel

110. Sengkalan - Sangkalan

111. Tamsil - Tamzil

112. Tanker - Tangker

113. Tapai - Tape

114. Taplak - Tapelak

115. Tetapi - Tapi

116. Tipe- Type

117. Walikota - Wali kota

118. Ultramodern - Ultra modern

119. Vakum - Vacum

120. Vampir - Vampire

121. Junior - Yunior

122. Yurisdiksi - Jurisdiksi

123. Zamzam - Zam-zam

124. Zaman - Jaman

125. Zamrud - Jamrud

Perbedaan Kata Baku dan Tidak Baku

Perbedaan antara kata baku dan tidak baku terletak pada kesesuaiannya terhadap kaidah bahasa Indonesia yang telah ditetapkan secara resmi. Kata baku adalah kata yang bentuknya sesuai dengan pedoman ejaan dan tata bahasa yang berlaku, serta diakui secara formal dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) maupun mengikuti ejaan yang ditetapkan dalam PUEBI. Sementara itu, kata tidak baku merupakan bentuk yang tidak mengikuti aturan tersebut, baik dalam hal penulisan maupun pelafalan, sehingga penggunaannya tidak dianjurkan dalam konteks resmi.

Kata baku umumnya digunakan dalam situasi atau komunikasi yang bersifat formal, seperti dokumen administrasi, penulisan akademik, pidato resmi, dan pemberitaan di media massa. Bahasa baku mencerminkan kedisiplinan berbahasa dan bertujuan untuk menciptakan keseragaman serta kejelasan dalam penyampaian pesan. Sebaliknya, kata tidak baku lebih banyak muncul dalam interaksi sehari-hari, percakapan santai, serta tulisan nonformal yang tidak mengutamakan ketepatan struktur bahasa.

Secara linguistik, kata baku berasal dari hasil pembakuan bahasa yang dilakukan melalui proses seleksi dan kodifikasi oleh lembaga kebahasaan resmi. Kata tidak baku sering muncul dari pengaruh bahasa daerah, bahasa asing, atau kesalahan pelafalan yang kemudian terbawa menjadi kebiasaan masyarakat. Meskipun tidak dianggap benar dalam konteks formal, kata tidak baku tetap hidup dalam masyarakat karena sifatnya yang luwes dan mudah diterima dalam komunikasi lisan.

Memahami perbedaan antara kata baku dan tidak baku sangat penting agar seseorang dapat menggunakan bahasa dengan tepat sesuai situasi. Dalam konteks pendidikan, pemerintahan, maupun dunia kerja, penggunaan bahasa baku akan menunjukkan profesionalisme dan kecermatan. Oleh karena itu, kemampuan membedakan serta menerapkan bentuk kata yang sesuai merupakan bagian penting dari keterampilan berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

QnA tentang Contoh Kata Tidak Baku

Q: Apa yang dimaksud dengan kata tidak baku?

A: Kata tidak baku adalah kata yang penulisannya tidak sesuai dengan kaidah resmi Bahasa Indonesia, baik dari segi ejaan maupun bentuknya. Kata-kata ini umumnya digunakan dalam situasi informal atau sehari-hari.

Q: Apa penyebab munculnya kata tidak baku dalam komunikasi sehari-hari?

A: Kata tidak baku sering muncul karena pengaruh kebiasaan masyarakat dalam berbicara, pengaruh bahasa daerah, kesalahan penulisan, atau kemudahan pelafalan yang tidak sesuai dengan aturan resmi.

Q: Dalam situasi apa penggunaan kata tidak baku sebaiknya dihindari?

A: Kata tidak baku sebaiknya dihindari dalam penulisan akademik, surat resmi, pidato formal, atau dokumen pemerintahan. Penggunaan kata baku diperlukan agar komunikasi lebih jelas, kredibel, dan sesuai standar bahasa.

Q: Apakah kata tidak baku selalu salah digunakan?

A: Tidak selalu. Dalam percakapan santai, novel, dialog film, atau media sosial, penggunaan kata tidak baku masih bisa diterima asalkan konteksnya tidak formal. Namun, penggunaannya tetap harus disesuaikan dengan audiens dan tujuan komunikasi.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6