Saat Rasa Takut Naik Kereta Belum Hilang, Ini Kata Psikolog

Kecelakaan kereta di Bekasi Timur pada Senin lalu membuat sebagian orang merasa takut naik moda transportasi ini. Ada yang tetap naik meski takut menghampiri.

Diterbitkan 02 Mei 2026, 12:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kesedihan mendalam dirasakan banyak pihak, termasuk para anker alias anak kereta, usai kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan kereta Commuter Line pada Senin malam, 27 April 2026. Meski tidak mengenal korban secara langsung, rasa kehilangan begitu terasa.

Kejadian itu pun membuat sebagian orang merasa takut terlebih yang biasa menggunakan moda transportasi ini untuk bepergian. Ada yang jadi lebih waspada, memilih posisi duduk tertentu saat naik kereta, bahkan ada yang merasa enggan bepergian dengan moda transportasi ini untuk sementara waktu.

"Jujur masih takut naik kereta gara-gara kejadian kecelakaan kemarin, tapi karena lebih efisien waktu, tetap naik juga," tutur Ria, (27) warga Tangerang Selatan yang sehari-hari menggunakan KRL Commuter Line menuju kantor di Jakarta. 

Menurut psikolog klinis Jovita Maria Ferlina, rasa takut  yang dirasakan  merupakan hal yang normal. Setelah mendengar kabar kecelakaan, otak secara alami akan berusaha mencari cara agar kita merasa lebih aman. Hal ini berlaku untuk orang dewasa dan anak-anak.

"Yang penting adalah jangan langsung menyalahkan rasa takut tersebut. Validasi dulu, wajar kok kalau merasa takut," tutur Jovita kepada Health Liputan6.com.

Lalu, bantu diri dengan informasi yang realistis, misalnya tentang sistem keselamatan tetap ada dan kecelakaan merupakan kejadian yang sangat jarang terjadi. Salah satunya dengan melihat perbandingan antara jumlah perjalanan kereta yang selamat sampai tujuan dengan yang mengalami kecelakaan.

Ada juga sebagian orang yang terus mencari berita atau konten terkait kecelakaan tesebut. Pada sebagian orang, kondisi itu bisa menimbulkan kecemasan.

"Hindari paparan berita berulang yang justru bisa memperbesar kecemasan," saran Jovita.

 

Kapan Perlu Cari Bantuan Profesional?

Bila rasa takut itu hanya sementara, kata Jovita, itu masih sangat normal. Namun, bila sampai mengganggu aktivitas sehari-hari secara terus menerus maka perlu mendapat perhatian lebih lannjut.

"Kalau sampai menganggu aktivitas sehari-hari, kemudian juga cemasnya berlanjut dan tidak selesai-selesai, bisa menemui tenaga profesional, misalnya psikiater atau psikolog untuk mendapatkan bantuan yang lebih lanjut terkait perasaan-perasaan cemas ataupun takut terhadap peristiwa-peristiwa traumatik yang terjadi,"pesan Jovita.