Bukan Sekadar Minum Obat, Ini Jurus Pemerintah Tekan Penularan TB di Papua

Pemerintah tekan penularan TB di Papua lewat skrining X-ray, renovasi rumah pasien, dan pendekatan komunitas untuk deteksi dini dan dukungan.

Diterbitkan 30 April 2026, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah terus memperkuat upaya penanganan tuberkulosis (TB) di Tanah Papua dengan pendekatan yang lebih menyeluruh. Tidak lagi hanya berfokus pada pengobatan, strategi terbaru kini menyasar deteksi dini hingga perbaikan lingkungan tempat tinggal pasien.

Dalam kunjungan kerja ke Jayapura, Wakil Menteri Kesehatan RI, Benjamin P. Octavianus, menegaskan bahwa penanganan TB membutuhkan intervensi yang lebih luas dari sekadar pemberian obat.

"Penanganan TB tidak cukup hanya dengan obat. Lingkungan tempat tinggal juga harus sehat agar pasien bisa sembuh optimal dan tidak menularkan ke orang lain," ujar Wamenkes Benny seperti dikutip dari kemkes.go.id pada Rabu, 29 April 2026.

Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah mempercepat penemuan kasus melalui skrining aktif menggunakan X-ray portable. Metode ini dinilai efektif, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses layanan kesehatan.

Skrining dilakukan dengan pendekatan tracing kontak serumah dari pasien TB. Artinya, anggota keluarga atau orang yang tinggal satu rumah dengan pasien akan diperiksa lebih awal untuk mendeteksi kemungkinan penularan.

Langkah ini menjadi penting mengingat TB merupakan penyakit menular yang sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan kedekatan antarindividu.

Selain deteksi dini, pemerintah juga menghadirkan program renovasi rumah bagi pasien TB.

Intervensi ini bertujuan untuk memperbaiki kondisi hunian yang berisiko tinggi terhadap penularan, seperti ventilasi yang buruk, pencahayaan minim, hingga kepadatan ruang yang tidak ideal.

Dengan lingkungan yang lebih sehat, diharapkan proses penyembuhan pasien menjadi lebih optimal sekaligus menekan risiko penularan ke anggota keluarga lainnya.

 

Pendekatan Berbasis Komunitas

Di sisi lain, pendekatan berbasis komunitas juga terus diperkuat. Wakil Menteri Dalam Negeri, Akhmad Wiyagus, menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat hingga tingkat desa dan kelurahan.

"Pendekatan berbasis komunitas, seperti Desa dan Kelurahan Siaga TBC, menjadi kunci dalam memperluas jangkauan layanan sekaligus membangun kesadaran masyarakat dalam pencegahan penyakit," ujarnya.

Program ini tidak hanya berfokus pada layanan kesehatan, tapi juga mendorong peran aktif masyarakat dalam mendeteksi, mendampingi, dan mendukung pasien TB.

Pendampingan pasien oleh kader kesehatan dan keluarga menjadi bagian penting dalam memastikan pasien menjalani pengobatan secara rutin dan tidak merasa sendirian.

"Pendekatan berbasis komunitas sangat penting. Pasien tidak boleh merasa sendiri. Harus ada dukungan dari keluarga, kader, dan lingkungan sekitar," tambah Wamenkes Benny.

Langkah kolaboratif ini menunjukkan bahwa penanganan TB membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat.

Dengan kombinasi strategi berupa skrining aktif, perbaikan lingkungan, dan penguatan komunitas, pemerintah berharap angka penularan TB di Papua dapat ditekan secara signifikan.

Upaya ini juga menjadi bagian dari komitmen Indonesia dalam mengeliminasi TB, sekaligus memastikan setiap pasien mendapatkan perawatan yang layak dan menyeluruh.