Cegah Sejak Dini, Ini Cara Mendidik Anak Laki-laki agar Tak Lakukan Pelecehan Verbal

Menghormati orang lain adalah nilai utama yang perlu orangtua ajarkan kepada anak laki-laki sejak dini untuk mencegah ia melakukan pelecehan verbal nantinya.

Diterbitkan 17 April 2026, 09:14 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ramainya kasus dugaan pelecehan seksual verbal yang menyeret belasan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) menjadi pengingat sekaligus pembelajaran penting bagi para orangtua bahwa pencegahan perilaku serupa perlu dimulai sejak anak masih dini di lingkungan keluarga.

Psikolog Kasandra Putranto mengatakan bahwa saat ini masih kuat norma sosial yang sering menormalisasi candaan seksual atau objektifikasi perempuan. Kasandra mengingatkan orangtua untuk perlu secara aktif mengoreksi anggapan seperti “ah itu hanya bercanda”. Lalu, menanamkan menghormati orang lain sebagai nilai utama.

Komunikasi terbuka kepada anak juga menjadi kunci. Ayah dan ibu perlu mendampingi penggunaan gawai, membicarakan konten yang dikonsumsi anak, serta menciptakan ruang aman agar anak mau bercerita tanpa takut dihakimi.

Pola asuh yang hangat namun tetap tegas (authoritative parenting) terbukti lebih efektif dalam membentuk kontrol diri dan tanggung jawab pada anak "Peran orang tua sangat penting dalam mencegah anak menjadi pelaku pelecehan seksual verbal," ucap Kasandra mengutip Antara.

Selain menanamkan sikap menghormati orang lain sejak, anak juga perlu diberi pemahaman tentang batasan (consent), empati, dan etika berkomunikasi. Sebab anak belajar melalui proses meniru, sehingga cara orangtua berbicara dan bersikap akan sangat mempengaruhi perilaku anak.

 

 

Kekerasan Seksual Verbal

Kekerasan seksual verbal adalah segala bentuk ekspresi atau ucapan yang mengandung pesan verbal seksual, mengandung unsur seksual, yang dilakukan tanpa persetujuan (consent), dan membuat orang lain merasa tidak nyaman, terhina atau terintimidasi.

Pembuktian kekerasan seksual secara verbal bukan hanya soal niat pelaku, namun juga dalam menilai dampak perilaku tersebut terhadap korban yang melibatkan relasi kuasa yang membuat korban sulit menolak atau merasa direndahkan dan dirugikan.