Deteksi Kehamilan dari Rumah Jadi Bagian Riset Penurunan Kematian Ibu

Inovasi deteksi kehamilan dari rumah diuji untuk turunkan angka kematian ibu, tapi masih terkendala budaya dan kesiapan sistem.

Diterbitkan 16 April 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Angka kematian ibu di Indonesia masih menjadi persoalan serius dalam sistem kesehatan nasional. Dengan sekitar 140 kematian per 100 ribu kelahiran hidup, Indonesia masih tercatat sebagai salah satu negara dengan angka kematian ibu tertinggi di Asia Tenggara.

Di balik angka tersebut, tantangan terbesar bukan hanya soal fasilitas kesehatan, tapi juga keterlambatan deteksi kondisi ibu dan janin, terutama di wilayah dengan akses terbatas ke layanan medis.

Kini, sebuah pendekatan baru mulai dikembangkan, deteksi kehamilan dari rumah yang menjadi bagian dari riset kolaborasi Indonesia-Australia dalam proyek ULTRALIGHT.

Associate Professor Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran yang menjadi peneliti utama proyek ini, Restuning Widiasih, menjelaskan, inovasi ini menghadirkan perangkat pemantauan janin yang dapat digunakan secara mandiri oleh ibu hamil di rumah.

Data yang terekam dari alat tersebut kemudian terhubung ke aplikasi digital, dan dapat dipantau oleh tenaga kesehatan secara real-time. Artinya, kata Restu, kondisi ibu dan janin tidak lagi hanya diketahui saat kunjungan ke fasilitas kesehatan, tapi bisa terus dipantau dari jarak jauh.

Jika ditemukan indikasi risiko atau anomali, tenaga kesehatan dapat segera melakukan tindakan lebih cepat.

"Selama ini sistem kesehatan menempatkan ibu hamil sebagai penerima layanan pasif. Mengubah posisi itu butuh pendekatan yang jauh lebih dari sekadar membagikan alat," ujar Restu dalam forum IDE Katadata Future Forum 2026 di Jakarta.

Namun, Restu tak memungkiri bahwa perubahan perilaku menjadi tantangan terbesar dalam implementasi teknologi ini.

"Sekarang mereka diminta memakai alat sendiri di rumah. Itu saja sudah membuat sebagian ibu hamil merasa takut," tambahnya.

Proyek ini adalah hasil kolaborasi tujuh institusi dari Indonesia dan Australia. Di antaranya Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Bandung, Telkom University, RS Hasan Sadikin, Poltekkes Kemenkes Kupang, hingga University of Newcastle Australia.

Wilayah penelitian juga dipilih secara strategis, mencakup daerah dengan tantangan akses kesehatan tinggi seperti Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku.

Tujuannya guna mempercepat respons medis agar risiko kematian ibu dan bayi bisa ditekan sejak dini.

 

Perubahan Peran Keluarga dalam Kehamilan

Menariknya, lanjut Restu, implementasi awal teknologi ini menunjukkan dampak sosial yang tidak terduga. Keterlibatan keluarga, terutama suami, justru meningkat saat alat digunakan di rumah.

Para suami mulai membantu penggunaan alat, membaca data, hingga ikut memantau kondisi janin bersama istri mereka.

Meski menjanjikan, Restu mengatakan bahwa penerapan deteksi kehamilan dari rumah tidak lepas dari tantangan. Selain kesiapan teknologi dan infrastruktur digital, faktor budaya juga menjadi hambatan utama.

Banyak ibu hamil masih terbiasa dengan pola layanan kesehatan konvensional yang bersifat pasif. Pemeriksaan dilakukan oleh tenaga kesehatan tanpa keterlibatan aktif pasien.

Sehingga perubahan menuju sistem yang lebih mandiri membutuhkan edukasi dan pendampingan yang berkelanjutan.

Ke depan, para peneliti berharap sistem ini dapat terintegrasi dengan layanan kesehatan nasional, mulai dari puskesmas hingga sistem pelaporan kesehatan digital pemerintah.

Dengan integrasi tersebut, deteksi dini tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi bagian dari sistem pemantauan kesehatan ibu secara menyeluruh.

"Detect Me tidak akan berdampak kalau tidak ada kolaborasi," pungkas Restuning.

Lebih lanjut dia menekankan bahwa teknologi saja tidak cukup tanpa dukungan tenaga kesehatan, kebijakan, dan kesiapan masyarakat.

Dari sisi industri dan ekosistem kesehatan, inovasi ini dinilai memiliki potensi besar. Namun, membutuhkan kesiapan sistem yang lebih luas.

Ketua Umum Himpunan Pengembangan Ekosistem Alat Kesehatan Indonesia (HIPELKI), Randy H. Teguh menambahkan bahwa keberhasilan inovasi seperti ini tidak bisa berdiri sendiri.

"Industri alat kesehatan itu sangat padat teknologi dan membutuhkan ekosistem dari hulu ke hilir. Tanpa dukungan sistem yang terintegrasi, inovasi seperti ini akan sulit berdampak luas," kata Randy.

Randy juga menyoroti pentingnya integrasi antara teknologi, kebijakan, dan kesiapan layanan kesehatan.

Menurutnya, inovasi alat kesehatan sering kali menghadapi paradoks. Secara teknologi sudah siap tapi adopsi di lapangan belum tentu mudah.

"Yang sering terjadi adalah teknologi sudah ada, tetapi implementasi di lapangan tertahan karena faktor ekosistem, termasuk regulasi, kesiapan tenaga kesehatan, dan penerimaan masyarakat," ujarnya.