Banyak Pasangan Lupa Hal Ini Setelah Punya Anak, Psikolog Ungkap Cara Menjaga Keharmonisan

Banyak pasangan lupa menjaga hubungan setelah punya anak. Psikolog bagikan cara menjaga keharmonisan rumah tangga.

Diterbitkan 11 Maret 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Suasana hangat Ramadan menjadi momentum bagi banyak keluarga untuk mempererat hubungan, tidak hanya dengan Tuhan, tapi juga dengan pasangan dan keluarga. Hal inilah yang menjadi semangat dalam acara buka puasa bersama yang digelar oleh Teman Bumil & Parenting bersama komunitas Teman Bumil.

Mengusung tema 'Ramadan Pertama KITA: Keluarga Islami Penuh Cinta', kegiatan ini diikuti oleh 50 pasangan suami istri serta lima pasangan key opinion leader (KOL), dengan total peserta mencapai 110 orang. Acara ini menjadi ruang berbagi inspirasi sekaligus refleksi bagi para pasangan untuk kembali memperkuat fondasi rumah tangga.

Pernikahan dalam Islam adalah Ibadah

Dalam sesi tausiyahnya, Encep Sehabudin menekankan bahwa pernikahan dalam Islam bukan sekadar hubungan antara dua individu. Lebih dari itu, pernikahan merupakan bagian dari ibadah yang memiliki tujuan besar dalam kehidupan.

"Ketika menikah karena Allah, pasangan tidak hanya fokus pada kebahagiaan sesaat, tapi juga pada bagaimana saling mendukung untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pernikahan menjadi perjalanan bersama menuju kebaikan," ujar Encep.

Menurutnya, konflik dalam rumah tangga merupakan hal yang wajar terjadi. Namun, niat yang lurus serta komitmen untuk saling menjaga menjadi kunci penting dalam mempertahankan keharmonisan hubungan.

Dia juga menekankan pentingnya komunikasi yang baik, saling menghargai, serta memperkuat ibadah bersama agar rumah tangga tetap kokoh menghadapi berbagai dinamika kehidupan.

Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta sempat menanyakan tentang prioritas seorang pria setelah menikah, apakah harus lebih mendahulukan ibu atau istri.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Encep menjelaskan bahwa setelah menikah, tanggung jawab utama seorang suami adalah kepada istri dan anak-anaknya.

"Sedekah yang paling tinggi nilainya adalah sedekah kepada istri dan anak. Setelah itu baru kepada ibu atau saudara lainnya. Tetapi jika ada rezeki lebih, istri juga perlu ikhlas ketika suami berbagi kepada orang tua," ujarnya.

 

Keharmonisan Rumah Tangga Tidak Terjadi Secara Otomatis

Sementara itu, psikolog Ayoe Sutomo mengingatkan bahwa keharmonisan rumah tangga tidak muncul dengan sendirinya. Hubungan yang sehat perlu dirawat melalui komunikasi yang baik, empati, dan kemampuan memahami kebutuhan pasangan.

Menurut Ayoe, banyak pasangan yang tanpa sadar mulai melupakan kualitas hubungan mereka setelah memiliki anak. Energi dan waktu sering kali tercurah sepenuhnya untuk mengurus keluarga.

"Keharmonisan keluarga sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan antara pasangan. Ketika suami dan istri saling merasa dihargai, didengar, dan didukung, maka suasana rumah juga akan terasa lebih hangat bagi anak-anak," kata Ayoe.

Dia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara peran sebagai pasangan dan sebagai orang tua.

Hal ini dapat dimulai dari langkah sederhana seperti meluangkan waktu berbicara dari hati ke hati, memberikan apresiasi kecil kepada pasangan, hingga saling mendukung dalam menjalani peran masing-masing.

 

Momen Refleksi bagi Para Pasangan

Diskusi dalam acara tersebut berlangsung interaktif. Banyak peserta yang telah menikah lebih dari 10 tahun turut berbagi pengalaman mengenai tantangan menjaga keharmonisan rumah tangga, terutama setelah hadirnya anak dalam keluarga.

Selain sesi diskusi, kegiatan juga diisi dengan momen yang menghangatkan suasana melalui sesi Ngabubucin (Ngabuburit Sambil Bucin). Dalam sesi ini, pasangan suami istri saling menyampaikan pesan dan kenangan berharga dalam perjalanan pernikahan mereka.

Product Manager Teman Bumil & Parenting, Intan Anindyana Hapsari, mengatakan, kegiatan ini bertujuan membantu para ibu dan pasangan memahami pentingnya keseimbangan antara nilai spiritual dan kesehatan emosional dalam keluarga.

"Melalui kegiatan ini, Teman Bumil & Parenting berharap para ibu dapat semakin memahami bahwa membangun keluarga harmonis membutuhkan keseimbangan antara nilai spiritual dan kesehatan emosional. Dengan fondasi yang kuat, keluarga tidak hanya menjadi tempat pulang yang nyaman, tetapi juga menjadi ruang tumbuh bagi setiap anggota keluarga," ujar Intan.