Kopi Tanpa Gula Tetap Bisa Naikkan Kolesterol, Kok Bisa?

Kopi tanpa gula tetap bisa meningkatkan kolesterol akibat senyawa alami. Simak penjelasan ilmiah dan cara seduh kopi yang lebih aman.

Diterbitkan 03 Februari 2026, 16:24 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Minum kopi tanpa gula kerap dianggap pilihan paling aman bagi kesehatan. Selain rendah kalori, kopi hitam juga dikenal kaya antioksidan dan dikaitkan dengan penurunan risiko berbagai penyakit kronis. Namun, di balik manfaat tersebut, riset ilmiah menunjukkan fakta menarik. Kopi tanpa gula tetap berpotensi meningkatkan kadar kolesterol darah.

Data global mencatat konsumsi kopi dunia mencapai sekitar 2,25 miliar cangkir per hari. Indonesia pun masuk 10 besar negara dengan konsumsi kopi terbesar di dunia, mencapai 4,8 juta kantong pada periode 2024/2025. Tak heran jika kopi kini bukan sekadar minuman pengusir kantuk, melainkan bagian dari gaya hidup.

Menurut Dosen Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FFUI), Apt. Erny Sagita MFarm PhD, kopi merupakan campuran kompleks yang mengandung lebih dari seribu senyawa bioaktif. Salah satu yang paling dikenal adalah kafein. Namun, senyawa inilah yang sering disalahpahami sebagai penyebab naiknya kolesterol.

"Peningkatan kolesterol akibat kopi bukan disebabkan oleh kafein, melainkan oleh senyawa lipid alami yang disebut diterpen, terutama cafestol dan kahweol," kata Erny dikutip dari Antara pada Selasa, 3 Februari 2026.

Paradoks kopi ini telah diamati dalam berbagai penelitian selama lebih dari tiga dekade. Konsumsi kopi tertentu terbukti dapat meningkatkan kadar kolesterol total, trigliserida, dan kolesterol jahat (LDL), terutama bila dikonsumsi dalam jumlah besar dan jangka panjang.

Erny, menjelaskan, cafestol dan kahweol bersifat sangat lipofilik atau mudah larut dalam lemak. Senyawa ini bekerja di hati dengan menghambat enzim pembentukan asam empedu dari kolesterol. Akibatnya, kolesterol tidak terpakai secara optimal dan menumpuk di dalam tubuh.

"Ketika pembentukan asam empedu terhambat, hati menurunkan jumlah reseptor LDL. Ini membuat pembersihan kolesterol jahat dari darah menjadi tidak efisien," ujarnya.

 

Studi Klinis Minum Kopi

Studi klinis menunjukkan konsumsi sekitar 10 mg cafestol per hari dapat meningkatkan kolesterol total hingga 5 mg/dL. Meski demikian, efek ini bersifat reversibel dan dapat kembali normal jika asupan diterpen dihentikan.

Lalu, apakah ini berarti peminum kopi harus berhenti total? Tidak juga. Kunci utamanya terletak pada metode penyeduhan.

Menurut Erny, cara menyeduh kopi sangat menentukan kadar diterpen dalam secangkir kopi. Metode seduh tanpa filter, seperti kopi tubruk, kopi rebus ala Skandinavia, dan French Press, menghasilkan kadar diterpen tertinggi karena minyak kopi ikut terekstraksi.

"French Press menggunakan saringan logam dengan pori besar, sehingga minyak kopi yang mengandung diterpen tetap lolos ke dalam minuman," tambahnya.

 

Kopi Filter Gunakan Kertas

Sebaliknya, kopi filter menggunakan kertas, seperti V60 atau drip coffee, mampu menahan lebih dari 95 persen cafestol dan kahweol. Kertas filter berbahan selulosa memiliki pori-pori rapat yang efektif menjebak minyak kopi.

Metode espresso menghasilkan kadar diterpen sedang karena waktu kontak air dan bubuk kopi sangat singkat. Sementara kopi instan justru mengandung diterpen sangat rendah akibat proses industri yang memisahkan fraksi lipid.

Bagi individu dengan kolesterol tinggi atau dislipidemia, pemilihan metode seduh menjadi intervensi gaya hidup sederhana namun berdampak besar. Mengganti kopi tubruk dengan kopi filter bisa membantu menekan risiko peningkatan kolesterol tanpa harus meninggalkan kebiasaan minum kopi.

Sebagai kesimpulan, kopi tanpa gula memang tidak selalu bebas risiko. Namun, dengan memahami kandungan senyawa di dalamnya dan memilih metode seduh yang tepat, manfaat kopi tetap bisa dinikmati tanpa mengorbankan kesehatan jantung.

"Edukasi mengenai perbedaan kopi filter dan non-filter penting, terutama bagi pasien dengan kolesterol tinggi," pungkas Erny.