Tongue Tie adalah Gangguan Tali Lidah yang Bisa Picu Masalah pada Anak, Simak Penangannya!

Tongue tie bisa memicu masalah menyusu, MPASI, hingga bicara pada anak. Ketahui gejala, risiko, dan penanganan medisnya.

Diterbitkan 16 Januari 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tongue tie atau tali lidah adalah kelainan bawaan berupa jaringan di bawah lidah yang membatasi pergerakan lidah. Kondisi ini sering disertai dengan lip tie (tali bibir).

Dokter spesialis bedah anak, Dina Perdanasari dari RS EMC Pekayon dan Pulomas mengatakan, tali lidah adalah salah satu kelainan anak yang perlu penanganan bedah sejak dini atau disebut pula sebagai “penyakit bedah.”

Gejala tali lidah pada anak dapat meliputi:

  • Gangguan latching atau pelekatan mulut bayi pada puting ibu saat menyusu
  • Berat badan sulit naik akibat gangguan asupan nutrisi
  • Air liur berlebihan (drooling)
  • Kesulitan mengunyah saat mulai MPASI (makanan pendamping air susu ibu)
  • Keterlambatan bicara
  • Gangguan emosional akibat kesulitan mengucapkan kata dengan jelas.

“Pada kasus dengan derajat berat, tindakan pemotongan tali lidah diperlukan. Jika terdeteksi sejak dini, dokter bedah anak dapat melakukan tindakan sebelum muncul komplikasi lanjutan,” kata Dina.

Selain tali lidah, penyakit bedah lain yang kerap dijumpai Dina di poliklinik bedah anak adalah:

Undescencus Testis

Undescended testis (UDT) adalah kondisi di mana buah zakar (testis) tidak berada di dalam kantung zakar dan tertahan di lokasi lain. Kelainan ini sering terlambat ditangani karena orang tua berharap testis akan turun sendiri tanpa operasi.

Perlu diketahui, testis harus berada di kantung zakar agar proses produksi sperma yang dimulai sejak usia sekitar enam bulan tidak terganggu.

Ada beberapa risiko yang bisa terjadi jika testis tidak ditangani, yakni:

  • Gangguan kesuburan (infertilitas) di masa depan
  • Risiko puntiran testis yang menyebabkan nyeri hebat dan kematian jaringan
  • Penyusutan hingga hilangnya testis
  • Risiko kanker testis lebih tinggi saat dewasa muda.

“Salah satu variasi kondisi ini adalah retractile testis, yaitu testis yang sempat berada di kantung zakar namun naik kembali. Kondisi ini tetap memerlukan pemantauan berkala oleh dokter,” jelas Dina.

 

Hirschsprung's Disease

Hirschsprung’s disease adalah kelainan saraf pada sebagian usus besar yang menyebabkan gangguan buang air besar. Gejala Hirschsprung pada bayi meliputi:

  • Bayi tidak mengeluarkan mekonium (feses pertama) dalam 48 jam pertama
  • Perut kembung
  • Konstipasi kronis
  • Diare berulang
  • Infeksi saluran cerna berat.

Pada sebagian kasus, gejala awal tidak terlihat sehingga anak baru dibawa berobat saat sudah mengalami gangguan gizi. Penanganan kondisi ini memerlukan tindakan operasi pada usus, disertai perbaikan nutrisi dan pengobatan infeksi agar hasil terapi optimal.

 

Balanoposthitis

Balanoposthitis adalah infeksi pada kepala penis dan kulup penis. Kondisi ini dapat menyebabkan pembengkakan dan nyeri hebat. Tanda dan gejala Balanoposthitis meliputi:

  • Pembengkakan di ujung penis
  • Nyeri saat buang air kecil
  • Aliran urine terganggu
  • Demam tinggi
  • Keluar nanah dari area kemaluan
  • Kejang pada kasus infeksi berat.

Jika tidak ditangani, infeksi dapat menyebar ke saluran kemih bagian atas hingga kandung kemih. Tindakan bedah bertujuan membersihkan area yang terinfeksi dan mencegah komplikasi serius.

 

Pentingnya Deteksi Dini dan Konsultasi Bedah Anak

Kasus gawat darurat pada bayi umumnya lebih cepat terdeteksi karena adanya pemeriksaan kehamilan dan neonatal rutin. Namun, pada kasus non-gawat darurat atau pada anak yang lebih besar, sering kali periode waktu optimal untuk operasi terlewatkan.

Deteksi dini dan konsultasi ke dokter bedah anak sangat penting untuk:

  • Mencegah komplikasi jangka panjang
  • Mendukung tumbuh kembang anak secara optimal
  • Mendapatkan hasil pengobatan dan operasi yang lebih baik.

Kelainan atau penyakit bedah pada anak dapat berdampak besar terhadap kesehatan dan tumbuh kembang jika tidak ditangani tepat waktu. Dengan meningkatkan kesadaran orang tua terhadap tanda dan gejala kelainan bedah anak, serta melakukan pemeriksaan sejak dini, risiko komplikasi dapat diminimalkan.

“Jika orang tua mencurigai adanya kelainan pada anak, segera konsultasikan ke dokter spesialis atau dokter bedah anak untuk mendapatkan penanganan yang tepat,” saran Dina.