Banjir Besar Aceh Tingkatkan Risiko Kesehatan, Bantuan Difokuskan untuk Kelompok Rentan

Banjir besar di Aceh meningkatkan risiko kesehatan warga. Bantuan difokuskan pada kelompok rentan di pengungsian dan wilayah terdampak.

Diterbitkan 23 Desember 2025, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Hujan ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Aceh sejak akhir November hingga Desember 2025 memicu banjir besar dan longsor di Aceh Tamiang, Langsa, dan Langkat. Ribuan rumah warga terendam, akses jalan terputus, dan banyak keluarga terpaksa mengungsi ke tempat pengungsian dengan fasilitas terbatas.

Selain merusak infrastruktur, bencana ini meningkatkan risiko kesehatan warga terdampak. Keterbatasan air bersih, sanitasi yang tidak memadai, serta terhambatnya akses layanan kesehatan membuat kelompok rentan berada dalam kondisi paling berisiko mengalami gangguan kesehatan pasca bencana.

Dalam situasi darurat ini, bantuan kemanusiaan difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar, terutama kesehatan dan nutrisi. Bantuan yang disalurkan meliputi bahan makanan, produk kesehatan, pakaian, serta obat-obatan untuk mendukung daya tahan tubuh warga di pengungsian maupun di wilayah sulit dijangkau. Penyaluran bantuan tersebut dilakukan melalui program CSR Ethos Solidarity Movement bekerja sama dengan lembaga kemanusiaan setempat.

Direktur Utama PT Etos Kreatif Indonesia, Lucky Hatreztyo, menegaskan bahwa bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga dampak kesehatan dan psikologis yang berkepanjangan.

"Bantuan ini bukan sekadar distribusi logistik. Di balik bencana, ada orang tua yang cemas memikirkan kesehatan dan masa depan anaknya, lansia dengan kondisi tubuh yang semakin rentan, serta anak-anak yang terpapar trauma. Dalam kondisi seperti ini, menjaga kesehatan menjadi sangat krusial," ujar Lucky Hatreztyo.

 

Penurunan Daya Tahan Setelah Bencana

Dia, menambahkan, pasca bencana, potensi penurunan daya tahan tubuh meningkat, sementara layanan kesehatan belum sepenuhnya pulih. Oleh sebab itu, pendekatan bantuan harus dilakukan secara menyeluruh agar dapat memberikan manfaat jangka menengah hingga panjang bagi masyarakat terdampak.

Di lapangan, bayi dan balita, ibu hamil dan menyusui, lansia, serta warga yang sakit atau terluka menjadi kelompok yang paling membutuhkan perhatian ekstra. Tanpa dukungan yang memadai, risiko penyakit pasca banjir seperti infeksi, gangguan pencernaan, hingga masalah gizi dapat meningkat.

 

Keterbatasan Fasilitas Kesehatan

Ketua Yayasan Amal Bunda, Anita Ratna Faoziyah mengatakan bahwa kolaborasi lintas pihak penting untuk memastikan bantuan benar-benar tepat sasaran.

"Kami melihat langsung bagaimana keterbatasan fasilitas di pengungsian berdampak pada kesehatan warga. Melalui kerja sama ini, kami berupaya menghadirkan bantuan yang tidak hanya membantu bertahan hari ini, tetapi juga menjaga kondisi kesehatan warga selama masa pemulihan," kata Anita.

Penyaluran bantuan dilakukan secara bertahap dan terkoordinasi bersama relawan di lapangan. Setiap paket diupayakan sampai langsung ke keluarga terdampak, terutama mereka yang berada di pengungsian dan wilayah yang sulit dijangkau, guna meminimalkan risiko kesehatan lanjutan akibat bencana.