Apa Perbedaan Siklon dan Bibit Siklon? Ini Penjelasan BMKG soal Ancaman Cuaca Ekstrem

BMKG menjelaskan perbedaan siklon dan bibit siklon yang berpotensi memicu hujan ekstrem, banjir, dan gelombang tinggi di Indonesia.

Diterbitkan 16 Desember 2025, 13:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa saat ini Indonesia tengah dikepung oleh tiga sistem cuaca, yakni satu siklon tropis dan dua bibit siklon. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena berpotensi memicu cuaca ekstrem berupa hujan lebat, banjir, hingga gelombang tinggi di sejumlah wilayah. 

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, ketiga sistem tersebut terdiri dari Siklon Tropis Bakung, Bibit Siklon 93S, dan Bibit Siklon 95S. Hal ini disampaikannya dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, di hadapan Presiden Prabowo. 

"Saat ini ada tiga siklon yang mengepung Indonesia, Bapak Presiden," ujar Faisal dikutip dari Kanal Regional pada Selasa, 16 Desember 2025. 

Lantas, apa perbedaan antara siklon dan bibit siklon? Menurut BMKG, bibit siklon merupakan tahap awal terbentuknya siklon tropis. 

Bibit siklon ditandai dengan adanya pusat tekanan rendah yang berpotensi berkembang menjadi siklon apabila didukung kondisi atmosfer yang memadai, seperti suhu permukaan laut yang hangat dan pergerakan angin yang kuat. 

Sementara itu, siklon tropis adalah sistem cuaca yang sudah matang dan memiliki kekuatan angin yang lebih besar, dengan kategori tertentu berdasarkan kecepatan angin.

Siklon tropis berpotensi menimbulkan dampak signifikan, seperti hujan sangat lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi. 

Siklon Tropis Adalah

Faisal menjelaskan bahwa Siklon Tropis Bakung saat ini terpantau berkembang di barat daya Lampung dan meskipun sempat bergerak menjauhi Indonesia, statusnya justru meningkat dari kategori 1 ke kategori 2. 

"Statusnya sempat naik, padahal siklon tropis Senyar yang menyebabkan cuaca ekstrem di Sumatera sebelumnya hanya tercatat di kategori 1," katanya. 

BMKG memprediksi Siklon Bakung masih berpeluang bergerak mendekati wilayah Indonesia dalam dua hingga tiga hari ke depan. Oleh karena itu, pemantauan terus dilakukan agar dampaknya bisa diantisipasi lebih dini. 

“Kami akan pantau terus dinamikanya, harapannya tidak masuk hingga mendekat lagi yang akan mempengaruhi curah hujan,” ujar Faisal. 

Siklon Bakung, Bibit Siklon 93S, dan Bibit Siklon 95S

Selain Siklon Bakung, BMKG juga memantau Bibit Siklon 93S yang berada di sekitar Bali, Nusa Tenggara, dan Jawa Timur, serta Bibit Siklon 95S yang terpantau di selatan Papua.

Keberadaan bibit siklon ini turut meningkatkan potensi hujan dengan intensitas tinggi hingga sangat tinggi di berbagai wilayah Indonesia. 

Tak hanya hujan, ancaman lain yang perlu diwaspadai adalah gelombang tinggi di perairan sekitar Indonesia. BMKG pun telah berkoordinasi dengan BNPB, BPBD, dan Basarnas untuk memastikan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. 

"Kami mengimbau masyarakat tetap tenang, namun selalu bersiap menghadapi curah hujan tinggi dan gelombang tinggi," kata Faisal. 

Faisal menambahkan bahwa Indonesia tidak sendirian dalam menghadapi ancaman siklon tropis. Indonesia telah ditunjuk oleh World Meteorological Organization (WMO) sebagai Tropical Cyclone Warning Center dan terus berkomunikasi dengan negara lain seperti Australia, Jepang, dan India. 

"Bahkan sempat tercatat pada 14 Desember, Siklon Bakung masuk kategori 3 dengan kecepatan angin mencapai 65 knot. Ini sangat berbahaya, meski kini sudah melemah," pungkasnya. 

BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca resmi, meningkatkan kewaspadaan, serta menyiapkan langkah antisipasi guna meminimalkan risiko akibat cuaca ekstrem.