Skip Sarapan dan Makan Malam Terlalu Larut Bisa Picu Kolesterol Tinggi dan Risiko Penyakit Jantung

Skip sarapan dan makan malam larut dapat naikkan kolesterol dan risiko penyakit jantung. Ketahui temuan penelitian dan tips cegahnya.

Diterbitkan 27 November 2025, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kebiasaan melewatkan sarapan dan makan malam terlalu larut ternyata bukan hal sepele. Pola makan tidak teratur ini dapat memicu peningkatan kolesterol jahat (LDL), trigliserida, sekaligus menurunkan kadar kolesterol baik (HDL). Kondisi tersebut meningkatkan risiko penyakit jantung, terutama jika berlangsung dalam jangka panjang.

Temuan ini berasal dari penelitian berjudul Habitual breakfast skipping and night eating associated with unfavorable changes in lipid profiles in Chinese adults: a longitudinal analysis. Melansir Everyday Health pada Rabu, 26 November 2025, riset ini menganalisis lebih dari 30.000 orang dewasa di Tiongkok selama empat tahun.

Hasilnya, orang yang sering melewatkan sarapan atau makan malam terlalu larut mengalami kenaikan tahunan LDL sebesar 0,89 mg/dL dibandingkan mereka yang memiliki jadwal makan lebih teratur.

Efeknya lebih terasa pada wanita, individu dengan berat badan berlebih, serta orang yang jarang beraktivitas fisik.

Meski peningkatannya terlihat kecil, para peneliti menegaskan bahwa pola makan yang dilakukan terus-menerus dapat berdampak signifikan terhadap kesehatan jantung.

Mengatur waktu makan menjadi langkah sederhana, namun berpengaruh besar untuk menjaga profil lipid tetap sehat.

Inilah Alasan Tidak Boleh Telat Makan Malam

Penelitian ini juga mengisi celah pengetahuan mengenai efek gabungan antara melewatkan sarapan dan makan malam larut, topik yang sebelumnya jarang diteliti. Mayoritas partisipan adalah laki-laki yang awalnya sehat, tanpa riwayat penyakit jantung atau kolesterol tinggi.

Setiap tahun, mereka menjalani pemeriksaan darah untuk memantau perubahan LDL, HDL, total kolesterol, hingga trigliserida. Hasilnya konsisten. Pola makan tidak teratur berkaitan dengan kenaikan LDL serta trigliserida, sekaligus penurunan kadar HDL.

"Data ini menunjukkan ada hubungan antara waktu makan dengan profil lipid, terutama pada wanita, orang dengan berat badan lebih, dan mereka yang jarang bergerak," ujar Dekan Institut Nutrisi Universitas Fudan, Xiang Gao, MD, PhD.

Dia menekankan bahwa bukan hanya jenis makanan yang harus diperhatikan, tapi juga kapan seseorang makan.

Konsep chrononutrition juga kini mendapat perhatian lebih. Bidang ilmu ini menjelaskan bahwa waktu makan bisa memengaruhi metabolisme dan kesehatan jantung.

Melewatkan sarapan dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh, memengaruhi sensitivitas insulin, dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

Kenapa Waktu Makan Penting untuk Kolesterol

Ahli kesehatan masyarakat dan epidemiologi, Bernard Srour, PharmD, PhD, menambahkan, tubuh manusia lebih sensitif terhadap insulin pada pagi hari.

"Di malam hari, tubuh lebih sulit memproses gula. Maka itu, makan besar larut malam dapat mengganggu metabolisme, memicu kenaikan berat badan, dan meningkatkan risiko kolesterol tinggi," ujarnya.

Selain itu, makan larut malam juga dapat menunda produksi melatonin, hormon yang penting untuk kualitas tidur dan pengaturan metabolisme. Jika ritme biologis tubuh terganggu, proses metabolik pun menjadi tidak optimal.

Agar kadar kolesterol tetap dalam batas sehat, para ahli memberikan beberapa rekomendasi sederhana:

  • Biasakan sarapan dalam beberapa jam setelah bangun tidur.
  • Hindari makan besar 2–3 jam sebelum tidur.
  • Jaga konsistensi jadwal makan, termasuk saat akhir pekan.
  • Perbanyak aktivitas fisik, terutama jika jadwal makan kadang berantakan.
  • Terapkan pola makan sehat seperti diet Mediterania yang kaya sayur, buah, biji-bijian, kacang, dan ikan.
  • Batasi konsumsi makanan olahan, garam, gula, dan alkohol.

"Kalau punya faktor risiko penyakit jantung, memperhatikan waktu dan kualitas makanan bisa menjadi langkah kecil yang berdampak besar," kata ahli kardiologi,  John Bostrom, MD.