Hari Anak Sedunia : Banyak Orangtua Gagal Lindungi Anak dari Kekerasan

Hari Anak Sedunia 2025 bertema My Day, My Rights, menyoroti pentingnya orangtua mendengar dan melindungi anak dari kekerasan.

Diterbitkan 21 November 2025, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Peringatan Hari Anak Sedunia 2025 mengusung tema ‘My Day, My Rights’. Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendorong tiap orangtua untuk mendengarkan anak sesuai dengan haknya. Namun, pada kenyataannya isu terkait kekerasan pada anak masih sering terjadi akibat kurangnya perhatian orangtua.

Asisten deputi perumusan dan koordinasi kebijakan bidang perlindungan hak perempuan, Margaret Robin Korwa, sebagian besar orangtua gagal menjadi pelindung utama bagi anaknya. Hal ini tidak hanya terjadi pada konteks kekerasan seksual, tapi juga pada konteks bullying atau perundungan.

"Anak itu justru sayapnya patah pada lingkaran pertama yaitu orang tuanya yang melindungi. Sama di sekolah waktu mendapatkan perlindungan," ujarnya di acara Kampanye Global UNiTE 2025 dalam rangka 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan pada Kamis, 20 November 2025.

Dia mencontohkan hal keliru yang kerap dilakukan orangtua adalah 'menangkis' apapun yang diutarakan oleh anak. Misalnya, ketika anak bercerita tentang temannya melakukan tindakan bullying, respons orangtua yaitu menarasikan temannya hanya bercanda.

Hal seperti ini dikhawatirkan menjadi pemicu masalah mental pada anak. Sehingga Margaret menegaskan bahwa orangtua harus mawas dan menciptakan ruang yang ramah untuk anak. Dengan begitu, hak anak dapat tersalurkan dan didengar sesuai dengan undang-undang.

 

Upaya KemenPPPA dan UNICEF

Margaret menyampaikan upaya Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI (KemenPPPA) dalam mengurangi angka kasus kekerasan seksual pada anak. Salah satunya adalah proyek kerjasama dengan UNICEF yaitu video edukasi terkait lima hal yang tidak boleh disentuh.

Video yang tayang secara bebas di YouTube ini juga menjadi langkah meningkatkan literasi digital pada anak. Selain video, KemenPPPA juga menyediakan game interkatif yang bisa diakses. Tentunya dengan pengawasan penuh oleh orangtua.

"Itu adalah salah satu bentuk edukasi untuk masyarakat maupun orang tua," pungkasnya.