Hoaks Vaksin HPV Masih Marak, Guru Besar FKUI Tegaskan Vaksinasi Tak Sebabkan Rahim Kering atau Gangguan Menstruasi

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) tegaskan vaksin HPV tidak mengganggu menstruasi maupun kesuburan.

Diterbitkan 18 November 2025, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Di tengah maraknya penggunaan media sosial dan teknologi kecerdasan buatan (AI), banyak orang semakin mudah menerima informasi termasuk yang belum tentu benar. 

Data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat lebih dari 1.900 konten hoaks sepanjang 2024, dengan 163 di antaranya terkait isu kesehatan, terutama vaksinasi dan obat herbal.

Kondisi ini membuat kemampuan masyarakat dalam memilah informasi semakin penting, terutama yang terkait pencegahan kanker leher rahim melalui vaksin HPV.

Salah satu isu yang sering muncul adalah anggapan bahwa vaksin HPV bisa mengganggu menstruasi hingga menyebabkan kemandulan. 

Mitos di Media Sosial: “Rahim Kering”, “Mandul”, hingga “Gangguan Menstruasi”

Pakar spesialis anak konsultan tumbuh kembang anak, Profesor Soedjatmiko menilai, misinformasi soal vaksin banyak muncul di media sosial.

“Media sosial tadi semua mengatakan, kok ada imunisasi menyebabkan rahimnya kering, menyebabkan mandul, imunisasi mengganggu menstruasi,” ujar Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu.

Soedjatmiko menegaskan, penyebar informasi tersebut bukanlah ahli vaksin.

“Beliau-beliau itu bukan peneliti imunisasi. Mereka tidak mendalami imunisasi dan tidak mempelajari penelitian dari negara-negara lain,” jelasnya.

Menurutnya, tak semua orang yang berprofesi sebagai dokter memiliki keahlian yang sama.

“Tidak semua dokter mendalami imunisasi, tidak semua dokter mendalami sakit jantung, tidak semua dokter mendalami kanker,” katanya.

Soedjatmiko memberi contoh, “Kalau saya ngomong ‘oh kalau kamu patah tulang dibungkus saja pakai lakban’ jangan percaya karena saya tidak mendalami.”

Apakah Vaksin HPV Mengganggu Siklus Menstruasi?

Salah satu kekhawatiran yang sering ditanyakan masyarakat adalah apakah vaksin HPV bisa mengganggu menstruasi. Soedjatmiko menegaskan tidak ada hubungannya.

“Jadi harus menstruasi dulu? Tidak. Oh lagi vaksin berarti menstruasinya terganggu? Tidak ada hubungan,” jelasnya.

Soedjatmiko menambahkan, menstruasi diatur oleh hormon estrogen dan progesteron, sementara vaksin tidak mengandung hormon apa pun.

“Menstruasi hubungannya dengan kadar hormon estrogen dan progesteron. Vaksin tidak ada hormonnya. Jadi tidak akan berpengaruh,” tegasnya.

Tidak Menyebabkan Kemandulan atau Dampak Reproduktif Lainnya

Soedjatmiko menegaskan kembali bahwa vaksin HPV tidak mempengaruhi kesuburan.

“Imunisasi HPV tidak mengakibatkan mandul atau infertilitas,” katanya.

Soedjatmiko juga menyebut, anggapan bahwa vaksin HPV bisa menyebabkan rahim kering atau kanker tidaklah benar.

“Tidak menyebabkan rahim kering, tidak menyebabkan mandul, tidak menyebabkan kanker,” tegasnya.

Prosedur Vaksin yang Sering Disalahpahami

Masih banyak juga kesalahpahaman tentang cara pemberian vaksin.

“Suntiknya di lengan kiri. Tidak bukan dibokong, bukan dipaha,” tuturnya.

Selain itu, vaksin aman diberikan pada anak usia 11 tahun, baik sudah menstruasi maupun belum. Tidak perlu pemeriksaan khusus sebelum vaksinasi pada anak seusia itu.

 

Era AI: Masyarakat Dituntut Semakin Cerdas Memilah Informasi

 

Country Medical Lead MSD Indonesia, dr. Amrilmaen Badawi menyoroti bahwa saat ini adalah era di mana hoaks mudah menyebar.

“Karena sekarang eranya AI, banyak yang informasi yang salah, banyak informasi yang kurang akurat informasi. Jangan langsung percaya,” ujarnya.

Amrilmaen mengajak masyarakat untuk memeriksa sumber sebelum membagikan informasi.

“Kalau misalkan ketemu hoax tentang vaksin HPV bisa menyebabkan kemandulan. Vaksin HPV bisa mendukung pergaulan bebas. Mari kita lihat dulu source of information-nya. Jangan kita telan mentah-mentah,” tegasnya.