Ledakan SMAN 72 Jakarta: KPAI Minta Trauma Healing Menyeluruh untuk Siswa

KPAI ungkap kondisi korban ledakan SMAN 72 Jakarta dan minta pendampingan psikologis menyeluruh bagi siswa.

Diterbitkan 08 November 2025, 07:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ledakan mengguncang SMAN 72 Jakarta Utara pada Jumat siang, 7 November 2025, saat siswa dan guru bersiap untuk melaksanakan salat Jumat. Insiden ledakan SMAN 72 tersebut menimbulkan kepanikan dan menyebabkan sejumlah siswa mengalami luka-luka. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) segera menyoroti pentingnya penanganan trauma bagi seluruh siswa yang terlibat.

Ketua KPAI, Margaret Aliyatul Maimunah menegaskan bahwa dukungan psikologis tidak hanya diperlukan bagi siswa yang mengalami luka fisik, tetapi juga bagi mereka yang menyaksikan atau mendengar ledakan tersebut. 

"Semua anak, baik mengalami luka atau tidak, yang mendengar atau menyaksikan kejadian pasti membutuhkan pendampingan," ujarnya dikutip dari Antara pada Sabtu, 8 November 2025.

Margaret, menekankan, trauma healing harus diberikan secara menyeluruh. "Dampak psikologis dari peristiwa traumatis dapat memengaruhi siapa saja yang terpapar, terlepas dari apakah mereka mengalami cedera fisik atau tidak," tambahnya.

KPAI merekomendasikan agar penanganan trauma dilakukan oleh psikolog tersertifikasi. Selain itu, pelibatan pihak berkompeten seperti Himpunan Psikologi Indonesia (HIMSI), Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA), serta kepolisian yang memiliki tenaga spesialis psikologi juga sangat penting. 

 

Kondisi Korban dan Data Terkini

"KPAI merekomendasikan penanganan trauma dilakukan oleh psikolog tersertifikasi dan melibatkan sejumlah pihak yang berkompeten," ujar Margaret.

Berdasarkan data sementara dari kepolisian, sebanyak 14 anak menjalani rawat inap, dengan mayoritas berusia di bawah 18 tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar tujuh anak harus menjalani operasi akibat luka yang cukup berat. 

"Luka yang dialami bervariasi, ada di bagian kaki, ada yang jarinya harus diangkat kukunya, banyak juga yang mengeluhkan sakit pada telinga dan bagian kepala," kata Margaret.

Data korban masih terus berkembang. Saat KPAI tiba di rumah sakit, tercatat sekitar 33 anak masih menjalani perawatan. Namun, secara total, angka korban sempat dilaporkan mencapai 37 orang, meskipun data ini belum final karena masih dalam pendataan polisi.

Beberapa korban awalnya ditangani di puskesmas, tapi kemudian dirujuk ke rumah sakit karena kondisi luka yang serius.

Langkah Selanjutnya: Rehabilitasi Sekolah

KPAI menyambut baik rencana Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, untuk mempercepat rehabilitasi sekolah agar kegiatan belajar mengajar dapat segera dilangsungkan kembali. 

Insiden ledakan ini terjadi saat siswa dan guru tengah bersiap menjalankan ibadah salat Jumat di musala. Ledakan pertama dilaporkan terjadi sekitar pukul 12.15 WIB, diikuti oleh ledakan kedua yang menimbulkan kerusakan dan kepanikan di lingkungan sekolah.

Pihak kepolisian dan TNI AL segera diterjunkan untuk melakukan penyelidikan dan pengamanan lokasi kejadian.