2 Jurus Efektif Kendalikan Tuberkulosis atau TBC: Skrining dan Terapi Pencegahan Secara Bersamaan

Penelitian mengungkapkan bahwa perpaduan antara skrining dan terapi pencegahan tuberkulosis dapat mencegah kejadian TBC.

Diterbitkan 07 November 2025, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Skrining dan terapi pencegahan tuberkulosis dibahas dalam jurnal ilmiah internasional Lancet Global Health yang terbit pekan ini.

Menurut Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Prof Tjandra Yoga Aditama, penelitian ilmiah berskala besar ini didukung Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan dilakukan di Brazil, Georgia, Kenya serta Afrika Selatan. 

“Walaupun penelitiannya bukan di Indonesia tetapi menjadi amat penting untuk kita karena pengendalian tuberkulosis (TB) merupakan salah satu program prioritas dalam Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden,” kata Tjandra dalam keterangan tertulis, dikutip pada Jumat (7/11/2025).

Hasil penelitian menunjukkan bukti bahwa peningkatan kegiatan skrining dan pencegahan secara bersama-sama dapat mencegah kejadian TB sebesar 14 persen di Georgia, 15 persen di Brazil, 21 persen di Kenya dan 26 persen di Afrika Selatan, antara tahun 2024 dan 2025.

“Kalau yang hanya dilakukan adalah pengobatan pencegahan saja maka dampaknya akan sekitar sepertiga dari angka-angka ini, jadi memang harusnya keduanya dilakukan bersama-sama,” ujar Tjandra.

Dari kacamata ekonomi, proyeksi hasil penelitian ini menunjukkan manfaat besar secara sosial. Diprediksi dalam kurun 2024 hingga 2050, setiap 1 US$ (dolar Amerika Serikat) yang diinvestasikan untuk meningkatkan skrining dan pencegahan tuberkulosis, akan menghasilkan manfaat sosial (social return) yang secara ekonomik setara dengan USD 51 di Brazil, USD 8 di Georgia, USD 27 di Kenya dan USD 54 di Afrika Selatan.

 

Mengenal Skrining dan Pencegahan Tuberkulosis

Tjandra menyampaikan, skrining dan pencegahan tuberkulosis adalah dua kegiatan penting dalam penanganan tuberkulosis.

Skrining adalah berbagai upaya untuk menemukan kasus tuberkulosis yang meliputi identifikasi gejala, berbagai jenis tes cepat molekuler dan pemeriksaan ronsen dada termasuk yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Skrining punya tiga manfaat utama, yakni mendeteksi penyakit sejak dini, memutus rantai penularan dan melindungi mereka yang risiko tinggi tertular. 

Kegiatan penting kedua adalah pencegahan. Ini termasuk bentuk pengobatan pencegahan (preventive treatment) yang perlu diberikan kepada pasien tuberkulosis laten.

Pasien tuberkulosis laten adalah mereka yang di dalam tubuhnya sudah ada kuman tuberkulosis tetapi belum menampilkan gejala sakit TB.

 

Perpaduan Skrining dan Pencegahan TBC Perlu Diterapkan di Indonesia

Tjandra menilai, perpaduan antara skrining dan pencegahan tuberkulosis yang berjalan bersamaan juga patut diterapkan di Indonesia.

“Sejalan dengan hasil penelitian internasional ini, dan juga bukti ilmiah lain yang ada yang sifatnya evidence-based public policy, maka tentu akan baik kalau program penanggulangan tuberkulosis di negara kita juga lebih memberi perhatian pada skrining dan pencegahan.”

“Dua aspek penting dalam pengendalian tuberkulosis kalau kita memang ingin eliminasi tuberkulosis pada tahun 2030,” ujarnya.