Kanker Hati di Indonesia, Masih Banyak Terabaikan Padahal Pencegahannya Sederhana

Kanker hati di Indonesia sering terlambat terdeteksi padahal pencegahan dan deteksi dini sangat sederhana.

Diterbitkan 27 Oktober 2025, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dokter spesialis penyakit dalam sub spesialis hematologi onkologi medik, Jeffry Beta Tenggara, mengatakan, tantangan terbesar penanganan kanker hati di Indonesia terletak pada rendahnya kesadaran terhadap deteksi dini dan pencegahan. Serta tingginya angka infeksi Hepatitis B dan C yang belum terdiagnosis.

Akibatnya, banyak pasien baru menyadari kondisinya ketika penyakit sudah mencapai tahap lanjut karena gejala awal yang tidak khas atau samar.  Padahal, kanker hati merupakan salah satu kanker paling mematikan di dunia.

Berdasarkan data GLOBOCAN 2022, kanker hati menempati peringkat keenam sebagai kanker paling umum dan penyebab kematian akibat kanker ketiga tertinggi di dunia. Dengan sekitar 866.136 kasus baru dan 758.725 kematian akibat kanker hati di setiap tahunnya.

Di Indonesia, kanker hati menempati peringkat keenam dengan lebih dari 23.800 kasus baru dan 23.383 kematian per tahun. Angka kelangsungan hidup lima tahun pasien juga masih rendah, hanya sekitar 1,7 persen.

Hal ini menegaskan pentingnya deteksi dini, vaksinasi Hepatitis B, dan pemeriksaan fungsi hati secara rutin.

 

Jenis Kanker Hati yang Sering Ditemukan

Kanker hati terbagi menjadi dua tipe utama, yaitu kanker hati primer dan kanker hati sekunder. Jenis yang paling sering ditemukan adalah karsinoma sel hati (hepatocellular carcinoma/HCC), yang mencakup sekitar 85 s.d 90 persen dari seluruh kanker hati primer.

Penyakit ini sering kali tidak menimbulkan gejala jelas pada tahap awal, sehingga diagnosis dini menjadi tantangan besar. Faktor risiko utama seperti infeksi kronis Hepatitis B dan C, sirosis hati, serta perlemakan hati (fatty liver) masih banyak ditemukan di masyarakat.

"Angka ini menegaskan pentingnya deteksi dini, vaksinasi Hepatitis B, dan pemeriksaan fungsi hati rutin untuk menekan beban penyakit di masyarakat," kata dokter dari Siloam Hospitals Kebon Jeruk dalam temu media bersama AstraZaneca Indonesia, Kamis (23/10/2025).

Apa saja fungsi hati? Jeffry menjelaskan bahwa hati merupakan organ vital yang berperan dalam metabolisme, detoksifikasi, dan penyimpanan energi tubuh. Ketika fungsi hati terganggu akibat kanker, dampaknya bisa sangat luas.

Mulai dari penurunan daya tahan tubuh hingga gangguan sistem metabolik yang mengancam nyawa. "Karena itu, menjaga kesehatan hati bukan hanya penting, tapi krusial," katanya.

Ketika hati terus-menerus terluka, lanjut Jeffry, jaringan parut terbentuk dan bisa berkembang menjadi kanker,"Karena gejalanya sering tidak terasa di awal, deteksi dini menjadi sangat penting."

Selain itu, pemilihan terapi yang sesuai dengan kondisi pasien sangatlah penting, seperti apakah ada komorbiditas, risiko perdarahan, atau hal-hal lain yang memengaruhi kemampuan tubuh pasien mentoleransi dan berespons terhadap obat.

 

 

3 Stadium HCC

Dalam praktik klinis, HCC diklasifikasikan ke dalam tiga stadium utama, yaitu:

Stadium Awal

Stadium awal di mana tidak ada gejala sehingga kanker sangat sulit dideteksi padahal tingkat kelangsungan hidup dalam lima tahun mencapai lebih dari 93 persen. Terapi utama yang dapat dilakukan adalah operasi dan transplantasi hati.

Stadium Menengah

Stadium menengah di mana 30 persen penderita kanker hati terdiagnosis, kanker sudah menyebar namun masih dapat dikendalikan. Terapi utama dapat dilakukan embolisasi, ablasi dan radioterapi.

Stadium yang Tak Dapat Dioperasi

Stadium yang tidak dapat dioperasi ini lebih beragam, baik dari stadium awal hingga lanjut. Terapi sistemik menjadi jalan satu satunya untuk stadium ini. Terapi sistemik seperti imunoterapi kombinasi menjadi pilihan utama.

Penting untuk diketahui bahwa hanya sekitar 20–30 persen pasien HCC yang memenuhi syarat untuk tindakan operasi (resectable), karena keterbatasan fungsi hati, lokasi tumor, atau kondisi medis lainnya. Hal ini menjadikan terapi sistemik sebagai pilihan utama bagi pasien dengan uHCC (unresectable HCC), yaitu jenis kanker hati yang tidak dapat dioperasi.

"Pemberian imunoterapi dapat memberikan harapan baru bagi pasien HCC yang tidak dapat dioperasi," tambah Jeffry, merujuk pada pendekatan imunoterapi yang kini menjadi standar baru dalam pengobatan uHCC.

 

Imunoterapi untuk Pasien uHCC

Kemajuan ilmu pengetahuan telah membuka jalan bagi terapi yang lebih efektif bagi pasien dengan kanker hati stadium lanjut (unresectable HCC/uHCC).

Dimulai dengan adanya kombinasi imunoterapi dengan terapi target yang menunjukkan peningkatan angka kesintasan. Kemudian, dilanjutkan studi global menunjukkan bahwa kombinasi imunoterapi memberikan peningkatan signifikan pada angka kelangsungan hidup pasien.

Dalam salah satu studi yang mengkombinasikan dua imunoterapi yang memiliki cara kerja berbeda, misalnya, satu dari lima pasien yang menerima terapi kombinasi ini masih bertahan hidup hingga tahun kelima setelah pengobatan. Menjadikannya salah satu terobosan terbesar dalam tata laksana HCC secara global.

Sejalan dengan bukti ilmiah tersebut, panduan klinis internasional seperti NCCN, EASL, dan PAN-ESMO kini merekomendasikan pendekatan multidisipliner dan penggunaan kombinasi imunoterapi sebagai terapi lini pertama bagi pasien dengan kanker hati stadium lanjut (uHCC).