DBD Ancam Sepanjang Tahun, Vaksinasi Dengue Jadi Harapan Baru Perlindungan Keluarga

DBD bisa menyerang sepanjang tahun dan mengancam anak-anak. Vaksinasi dengue hadir sebagai perlindungan baru untuk tekan kasus dan kematian.

Diterbitkan 01 Oktober 2025, 12:12 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus ini tidak hanya muncul saat musim hujan, tapi bisa menyerang sepanjang tahun. 

Data Kementerian Kesehatan RI mencatat, hingga 22 September 2025, terdapat 115.138 kasus dengue dengan 479 kematian di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 57 persen terjadi di Pulau Jawa yang berpenduduk padat.

DBD Ancam Semua Usia

Ketua Program Vaksinasi Nasional, Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K), mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap remeh ancaman dengue.

"Dengue adalah penyakit yang dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia, di mana seseorang tinggal, maupun gaya hidup. Bukan hanya saat musim hujan, tapi juga mengancam sepanjang tahun," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta pada Senin, 29 September 2025. 

Menurutnya, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan. Sistem kekebalan tubuh mereka belum sekuat orang dewasa, sehingga gejala yang muncul bisa lebih parah. 

"Jika tidak tertangani dengan baik, DBD dapat menyebabkan kebocoran pembuluh darah yang berujung pada pengentalan darah. Hal ini membuat aliran oksigen terhambat dan dapat menyebabkan syok hingga kematian," ujar Prof. Sri.

Kasus DBD Terus Meningkat

Secara global, angka kejadian dengue meningkat tajam dalam beberapa dekade terakhir. WHO mencatat, jumlah kasus yang dilaporkan melonjak dari 505.430 kasus pada tahun 2000 menjadi 14,6 juta kasus pada 2024.

Bahkan, sekitar 5,6 miliar orang di dunia berisiko terinfeksi dengue dan arbovirus lainnya. Di Indonesia sendiri, DKI Jakarta menjadi salah satu daerah dengan beban kasus tinggi.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, drg. Ani Ruspitawati, M.M., yang diwakili dr. Ovi Norfiana, M.K.M., menyebut sepanjang 2025 hingga September, tercatat 7.274 kasus dengue dengan 12 kematian di ibu kota. 

"Dengue adalah tantangan kesehatan yang terus kita hadapi setiap tahun dengan dampak signifikan bagi masyarakat Jakarta. Karena itu, strategi pengendalian yang terintegrasi sangat dibutuhkan," kata dr. Ovi.

Upaya Pemerintah Perangi DBD: Dari 3M Plus, Wolbachia, Vaksinasi

Sejak 1980, pemerintah telah menggalakkan berbagai program pengendalian vektor nyamuk, mulai dari fogging, penggunaan larvasida, hingga gerakan 3M Plus (menguras, menutup, mengubur, plus upaya lain). Beberapa daerah juga mengimplementasikan program Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J). 

Selain itu, inovasi berbasis sains juga mulai diterapkan, salah satunya teknologi Wolbachia. DKI Jakarta bahkan telah memulai penerapan Wolbachia di wilayah Jakarta Barat sebagai proyek percontohan. 

Namun, pengendalian vektor saja tidak cukup. Diperlukan pendekatan lain yang bisa memberikan perlindungan tambahan kepada masyarakat, salah satunya vaksinasi dengue.

Pemerintah bersama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) resmi meluncurkan Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue di Jakarta Selatan dengan sasaran utama anak-anak sekolah dasar. Vaksin akan diberikan dalam dua dosis dengan jarak tiga bulan. Program ini juga akan berlangsung di Palembang dan Banjarmasin. 

"Melalui pemantauan aktif vaksinasi dengue pada anak sekolah dasar, FKUI bersama Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dengan dukungan Takeda berupaya menghadirkan mekanisme pemantauan efektivitas vaksin yang lebih sistematis," ujar Prof. Sri. 

Senada dengan itu, Dekan FKUI,  Prof. Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP,  menegaskan bahwa upaya ini merupakan bagian dari tanggung jawab institusi pendidikan kedokteran.

"Kolaborasi ini bukan hanya menjadi wujud nyata peran akademisi dalam memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat, tetapi juga mencerminkan semangat kami untuk menghadirkan solusi kesehatan yang relevan dan berkelanjutan," kata Prof. Ari.

Menuju Nol Kematian Dengue 2030

Kementerian Kesehatan juga menargetkan strategi nasional penanggulangan dengue sejalan dengan program global WHO untuk mencapai Zero Dengue Death 2030 atau nol kematian akibat dengue pada tahun 2030. 

Plh. Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Fadjar Surya Mensing Silalahi, mengatakan,"Keberhasilan strategi nasional ini tidak hanya ditentukan oleh pemerintah. Dibutuhkan dukungan akademisi, sektor swasta, dan masyarakat agar pencegahan berjalan menyeluruh dan berkelanjutan." 

Sebagai mitra swasta, PT Takeda Innovative Medicines juga menyatakan komitmennya. Head of Medical Affairs Takeda,  dr. Arif Abdillah, menyebut kerja sama lintas sektor adalah fondasi penting untuk melindungi masyarakat.

"Kami percaya bahwa peningkatan kesadaran publik tentang bahaya dengue, disertai kerja sama lintas sektor, merupakan langkah penting untuk mencapai nol kematian akibat dengue pada tahun 2030," kata Arif.

Perlindungan Keluarga Harus Dimulai Sekarang

Ancaman dengue yang terus meningkat menegaskan pentingnya langkah pencegahan yang komprehensif. Bukan hanya dengan menjaga kebersihan lingkungan melalui 3M Plus, tetapi juga memanfaatkan inovasi baru seperti Wolbachia dan vaksinasi dengue. 

Dengan vaksinasi, keluarga --- khususnya anak-anak --- bisa mendapat perlindungan tambahan dari bahaya DBD yang mematikan. Kolaborasi pemerintah, akademisi, tenaga kesehatan, dan sektor swasta diharapkan menjadi fondasi kuat dalam mengurangi beban penyakit ini di Indonesia. 

"Oksigen adalah salah satu kehidupan kita. Kalau berkurang, darah bisa kolaps, syok, bahkan kejang. Karena itu, pencegahan jauh lebih baik daripada pengobatan, dan vaksinasi adalah salah satu jalannya," pungkas Prof. Sri.Â