Kemenkes: Donor Darah Aman, Steril, dan Sudah Lewati Pemeriksaan Ketat

Kemenkes pastikan donor darah aman dengan jarum sekali pakai, pengolahan steril, dan pemeriksaan ketat. Semua darah disaring dari penyakit berbahaya sebelum digunakan untuk pasien.

Diterbitkan 19 September 2025, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) memastikan bahwa darah yang didonorkan benar-benar aman saat digunakan oleh pasien yang membutuhkan. Oleh sebab itu, masyarakat tidak usah khawatir.

"Jangan takut men-donor," kata Analisis Kebijakan Ahli Madya Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Kemenkes RI, dr. Hj. Iin Dewi Astuty.

Lebih lanjut, Iin, menambahkan,"Satu paket kantong darah sudah dengan jarumnya dan begitu selesai langsung dimusnahkan, jadi aman."

Selain itu, pengolahan darah dilakukan dengan standar ketat agar bebas dari penyakit berbahaya, seperti HIV dan hepatitis.

"Kita menjamin darah itu aman. Semua ada pemeriksaannya," tambahnya.

Sistem pemeriksaan kecocokan darah (crossmatch) juga diterapkan guna memastikan transfusi darah aman bagi penerima.

"Ternyata crossmatch itu antibodi-antibodinya harus sama, karena kalau tidak mungkin efeknya tidak langsung, tapi bisa berefek ke depannya," tambah Iin.

Salah satu hal yang paling sering ditanyakan masyarakat adalah keamanan alat donor darah. Iin menegaskan bahwa jarum dan kantong darah yang digunakan sudah steril dan sekali pakai.

Standar Ketat untuk Keamanan Darah

Keamanan darah tidak hanya ditentukan dari pendonor, tetapi juga dari proses pengolahan. Menurut Iin, setiap darah diperiksa untuk memastikan bebas dari penyakit menular.

"Kalau semua prosesnya dijalankan dengan baik, darah itu akan terlihat baik dan bisa dipakai. Tapi, kalau tidak sesuai standar, maka bisa saja terkandung penyakit yang tidak terlihat kasat mata," ujarnya.

Pemeriksaan ini termasuk skrining penyakit menular serta pengujian kualitas darah di laboratorium.

Crossmatch untuk Pastikan Kecocokan

Selain pemeriksaan dasar, darah juga harus melewati tes kecocokan atau crossmatch. Hal ini penting karena kecocokan tidak hanya ditentukan oleh golongan darah, tetapi juga antibodi yang terkandung di dalamnya.

"Crossmatch itu tidak hanya Rhesus positif atau negatif, tapi juga resist genetiknya. Karena itu sangat berpengaruh untuk menaikkan antibody-nya," pungkas Iin.

Dengan prosedur ini, risiko efek samping jangka panjang dari transfusi bisa diminimalisir.