Ahli Paru Ingatkan Bahaya Gas Air Mata, Bisa Sebabkan Sesak hingga Kematian

Paparan gas air mata dapat berdampak serius bagi kesehatan. Ahli paru sebut risiko batuk, sesak, gagal napas, bahkan kematian walau jarang terjadi.

Diperbarui 30 Agustus 2025, 09:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gas air mata kembali digunakan aparat untuk membubarkan massa unjuk rasa di depan Gedung DPR pada 25 dan 28 Agustus 2025. Meski sering dianggap hanya menimbulkan iritasi sementara, para ahli menegaskan bahwa paparan gas air mata dapat membawa dampak serius bagi kesehatan, mulai dari gangguan pernapasan hingga kematian, meskipun kasus fatal jarang terjadi.

Dokter spesialis paru konsultan, Profesor Dr. dr. Erlina Burhan Sp (K), M.Sc menjelaskan bahwa berat atau ringannya dampak gas air mata bergantung pada empat faktor utama. "Ruang tertutup atau terbuka, lama paparan, konsentrasi zat kimia yang terhirup, dan kondisi kerentanan seseorang," kata Erlina kepada Health Liputan6.com pada Jumat, 29 Agustus 2025.

Menurutnya, dampak gas air mata bisa sangat bervariasi. "Umumnya bila dampaknya ringan bisa cepat sembuh. Bila berat perlu perawatan rumah sakit, bila terjadi komplikasi yang berat, bisa meninggal walaupun sangat jarang," tambahnya.

Gas air mata bekerja dengan mengiritasi saluran napas. Efeknya bisa berupa batuk, sesak, hingga asfiksia atau kekurangan oksigen. "Bila segera diatasi dengan pemberian oksigen, biasanya bisa tertolong. Namun, bisa pula menimbulkan kematian dengan banyak faktor yang memengaruhi," ujar Erlina.

Risiko Tinggi pada Penderita Penyakit Paru

Senada dengan Erlina, Guru Besar Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), Prof. Tjandra Yoga Aditama, mengingatkan bahwa penderita penyakit paru kronis memiliki risiko lebih tinggi.

"Mereka yang sudah punya penyakit asma atau Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) jika terkena gas air mata maka dapat terjadi serangan sesak napas akut. Yang bukan tidak mungkin berujung di gagal napas," kata Tjandra.

Dia juga menyebutkan sejumlah senyawa kimia yang digunakan pada gas air mata, antara lain chloroacetophenone (CN), chlorobenzylidenemalononitrile (CS), hingga dibenzoxazepine (CR). Zat-zat ini bisa menimbulkan efek pada mata, kulit, serta sistem pernapasan.

"Gejala akutnya di paru dan saluran napas dapat berupa dada berat, batuk, tenggorokan seperti tercekik, bising mengi, dan sesak napas. Pada keadaan tertentu dapat terjadi gawat napas (respiratory distress)," ujar Tjandra.

Selain itu, paparan juga bisa menyebabkan rasa terbakar di mata, mulut, hidung, pandangan kabur, hingga luka bakar kimiawi pada kulit. "Walaupun dampak utama gas air mata adalah dampak akut yang segera timbul, ternyata pada keadaan tertentu dapat terjadi dampak kronik berkepanjangan," tambahnya.

Faktor Penentu Dampak Gas Air Mata

Lebih lanjut, Prof Tjandra menjelaskan bahwa ada tiga faktor utama yang menentukan dampak gas air mata terhadap seseorang. Pertama, dosis paparan gas. "Makin besar paparannya tentu akan makin buruk akibatnya," ujarnya.

Kedua, kepekaan individu terhadap bahan kimia dalam gas air mata, terutama jika ada riwayat penyakit tertentu. Ketiga, kondisi lingkungan tempat paparan, apakah di ruang tertutup atau terbuka. 

"Demikian juga bagaimana aliran udara yang membawa gas beterbangan, apakah kebetulan ada angin kencang ketika ada gas air mata dan lain-lain," tambahnya.

Bahaya Gas Air Mata Kedaluwarsa

Di sisi lain, Prof. Zullies Ikawati, PhD, Pharm, menyoroti bahaya penggunaan gas air mata yang sudah melewati masa kedaluwarsa. "Senyawa aktif yang paling sering digunakan adalah CS gas (2-chlorobenzylidene malononitrile). Ada juga yang menggunakan OC (oleoresin capsicum)," kata Zullies.

Menurutnya, gas air mata dalam tabung punya masa kedaluwarsa karena pelarut dan bahan pendorong (propelan) bisa menurun tekanannya, serta senyawa kimianya dapat terdegradasi. 

"Bila sudah lama, mungkin terjadi perubahan kimia, bisa terbentuk produk samping yang lebih iritan atau bahkan beracun," katanya.

Efeknya tetap mirip dengan gas air mata aktif, yaitu iritasi pada mata, hidung, tenggorokan, hingga sesak napas. Namun, risiko bisa lebih berat jika produk degradasi terbentuk.

"Dari sisi keamanan, justru bisa lebih berbahaya, karena produk kimia yang rusak kadang tidak stabil atau lebih toksik," tambah Zullies.

Selain itu, tabung gas air mata kedaluwarsa juga berisiko gagal meledak dengan benar atau justru meledak tidak terkontrol.

"Jadi, memakai gas air mata kedaluwarsa tidak otomatis lebih aman. Bisa saja efek iritasinya berkurang, tapi risikonya ke tubuh justru lebih tidak terprediksi," pungkasnya.

Â